Tawanan

Tawanan
Bab 31


__ADS_3

Banyu memarkirkan mobilnya digarasi rumah Gerhana yang ada di England, ia kemudian turun menyusul Gerhana yang sudah turun terlebih dahulu


Ia terkejut melihat dua orang paruh baya yang sedang duduk diruang keluarga dengan bersedekap dan menatap Banyu serta Gerhana tajam


"Tamat riwayat, gue!" Banyu bergumam tapi masih bisa didengar Gerhana


"Bukan cuma elo, gue juga," Gerhana menghela napas, "satu, dua, ti...... "


"Bagus sekali!" Ucap wanita paruh baya itu lalu bangkit dan berjalan mendekati Gerhana serta Banyu


Banyu dan Gerhana hanya bisa tercengir kuda


Wanita paruh baya tersebut kemudian menjewer cuping mereka berdua, "Sudah sampai sini tapi nggak ngabarin, dan nggak nengok kami!" Ucap wanita paruh baya tersebut dengan mengeratkan giginya gemas


"Aa aaa ampun, Ma!" Banyu meminta ampun, kupingnya pasti sudah memerah saat ini, begitupun Gerhana


"Dasar anak nakal!" Ucap wanita paruh baya tersebut dan melepaskan jewerannya. Wanita paruh baya tersebut tak lain adalah Henny, mama Banyu dan mama angkat Gerhana


"Kami belum sempat untuk kerumah, Mama dan Papa," Gerhana mencoba menjelaskan, setelah mereka duduk disofa ruang keluarga


"Apakah sesibuk itu hingga melupakan dua orang tua ini?" Cibir Henny


"Kami baru tiba semalam dan tadi pagi langsung ngantor, Ma!" Banyu menimpali


"Bahkan hanya untuk menelpon wanita dan pria renta ini pun tidak ada waktu," Henny terus mencibir, begitu kesal dengan kelakuan kedua putranya yang tak pernah memberikan kabar sebelum ia yang menelpon duluan


"Bukan begitu, Ma." Tukas Gerhana


"Ck, sampai kapan kalian sibuk dan tidak memikirkan masa depan?" Henny berdecak kesal


"Maksud, Mama?" Banyu mengernyit, bukankah ia dan Gerhana bekerja keras selama ini untuk masa depan mereka kelak


"Mau jadi bujang lapuk kalian?" giliran Hendra yang menimpali, "Papa lihat kalian sangat tampan dan cukup mapan, tapi kenapa tidak ada seorang gadis pun yang mendekati kalian?" Lanjutnya bertanya


"Mana ada gadis yang tahan dengan muka datar dan dingin mereka, Pa?" Henny terus saja mencibir


"Makanya, rubah mimik wajah kalian," Hendra memberi nasihat, "kalian sudah sangat cukup umur untuk memberikan kami cucu, benar kan, Ma?"


Henny mengangguk mengiyakan ucapan suaminya itu

__ADS_1


"Kalau aku belum saatnya, Ma, Pa," balas Banyu, "belum ada yang menarik dimata Banyu,"


"Terus saja seperti itu," Henny mencebikkan bibirnya, "sampai ultraman jadi ultraflu, nggak akan ada yang menarik. karena yang menarik cuma uang!"


"Nggak gitu, Ma." Banyu menjadi kesal karena Mama dan Papanya semakin memojokkan. Sedangkan Gerhana selalu diam seribu bahasa dengan tampang tanpa ekspresinua


"Bagaimana dengan putra Papa yang satu ini?" Hendra menatap Gerhana


"Sebenarnya...." Gerhana tak melanjutkan ucapannya


"Sebenarnya apa, Ge?" Henny penasaran


"Tapi kalian harus berjanji untuk tidak marah, karena ini..... "


Belum sempat Gerhana melanjutkan ucapannya, Henny sudah memotongnya terlebih dahulu karena tidak sabar, "karena apa, Ge?"


"Gerhana sudah menikah, Ma, Pa!"


Sontak jawaban Gerhana membuat kedua orang tuanya membelalakan matanya, "APA!!!!" Teriaknya terkejut


Gerhana mengangguk


"Bukan begitu, Ma!" Banyu mencoba menjelaskan, "jangankan Mama dan Papa yang jauh disini, sedangkan Banyu saja tidak tau dia menikah, Ma"


Hendra mengernyitkan dahinya


"Dia pulang sudah membawa istrinya," jelas Banyu


"Apakah kamu menghamili anak orang, dan disuruh bertanggung jawab? Sehingga menikah dadakan?" Hendra menatap Gerhana intens


Gerhana menggeleng, ia lalu menceritakan semuanya, sehingga ia bisa menikah dengan Gendis. Tapi tentang penyiksaan demi penyiksaan ia skip, kalau tidak bisa meninggoy Gerhana dan Banyu saat ini juga karena dihajar oleh Hendra


"Bukankah kami sudah menjelaskan kalau bukan Guntoro pelakunya! Kenapa kalian masih tidak mendengarkan ucapan kami?" Geram Hendra


Banyu kemudian menjelaskan bahwa mereka telah bertemu dengan Guntoro dan mendengarkan penjelasannya


"Jadi sekarang Gendis menjadi tawanan seumur hidupnya, dengan status sebagai istrimu, Nak?" tanya Henny sendu


Gerhana diam tak bisa menjawab pertanyaan mamanya

__ADS_1


"Sungguh malang nasibnya," Henny tak bisa membayangkan betapa tersiksa batin Gendis karena menjadi tawanan salah sasaran, ia tidak tau kalau bukan hanya batin tapi raga Gendis pun disiksa putra angkatnya itu


"Sekarang kita harus fokus mengungkap siapa pelaku sebenarnya," Hendra mulai menyusun rencana, "karena dia jelas sudah tau kalau kalian sudah menembak Guntoro dan istrinya. Jelas dia tertawa puas akan hal itu" terangnya


Gerhana dan Banyu mengangguk dan mulai mengikuti saran papanya


***


Gendis menjalani hari-hari tanpa Gerhana, seharusnya ia senang karena tidak ada si pria arogan itu, tapi entah kenapa dalam hatinya seperti ada yang kurang saat suaminya tak ada


"Apakah aku merindukannya?" Gumam Gendis masih berbaring diranjang empuknya


"Tidak, tidak!" Gumamnya sambil memukul kepalanya


"Ingat Gendis, dia terlalu jauh diawan untuk bisa kau raih," Gendis memperingati dirinya sendiri


"Jangan terlalu bermimpi bisa menggapai bintang, ingat statusmu hanyalah karena nenek! saat ia bosan, ia bisa saja melemparmu dari rumah ini"


Gendis selalu berusaha untuk menjaga hatinya agar tidak tejatuh kepada pria tampan tapi arogan yang tak lain adalah suaminya sendiri


Ia cukup tau diri, siapa dirinya dan dari mana ia berasal. dia hanyalah remah-remah rengginang dalam kaleng biskuit kong guan, sedangkan Gerhana adalah cheese cake yang lembut dan lumer


Ia tak ingin terluka seperti pungguk yang merindukan bulan, sungguh malang nasibnya jika dengan tak tau dirinya ia menyukai pria yang bahkan tidak akan pernah meliriknya walau hanya sekilas


Pikiran warasnya cukup tau diri, kalau perlakuan Gerhana selama menjadi suaminya hanyalah sebagai tanggung jawab atas janji yang ia ucapkan kepada neneknya, lebih tepatnya menikahi Gendis karena terpaksa


Sungguh malang nasib yang ia jalani pikir Gendis, ingin merutuki nasibnya, tapi ia cukup bisa bersyukur akan nikmat sehat yang Allah berikan untuknya


Gendis menghela napasnya lelah, ia lalu pergi ketaman untuk menghilangkan pikiran yang berkecamuk didalam otaknya dengan menorehkan cat dikanvas sedikit bisa membuat pikirannya lebih tenang


***


Masih menjadi misteri, kira-kira siapa ya dalang dibalik pembunuhan orang tua Gerhana?


Tinggal menunggu beberapa bab lagi, semua akan Mawar kuak secara intens, setajam silet😎 (Berasa kek jadi Mb Fenny Rose deh Mawar🤣)


Jangan lupa dukung author dengan like komen dan vote ya


Salam sayang dari Mawar, peluk cium via online

__ADS_1


__ADS_2