
Sepanjang perjalanan pulang, Gendis hanya diam tanpa terucap sepatah katapun. Bahkan ia mengalihkan pandangannya kesamping menatap jalanan London di malam hari. Hanya suara deru mobil yang terdengar menambah kesan sunyi yang seolah semakin mencekam, Gerhana pun sama diamnya, ia tak ingin mengganggu istrinya dengan berbagai pertanyaan yang berlarian didalam pikirannya
Gerhana segera memarkirkan mobilnya setelah sampai di kediamannya. Ia segera turun dan berjalan memutar membukakan pintu mobil untuk istrinya
Tanpa seucap kata Gendis berjalan masuk begitu saja melewati suaminya. Gerhana hanya bisa melongo melihat istrinya yang baru pertama kali bertindak demikian
Gerhana segera menyusul istrinya yang sudah lebih dulu masuk kedalam kamar. Ia benar-benar bingung harus berbuat seperti apa agar kekesalan istrinya mereda
'Gue salah apa sih, kenapa tuh muka lebih serem dari pada debkolektor yang lagi nagih utang' Gerhana hanya bisa membatin tanpa berani bertanya
Tiba dikamar, Gendis segera mengganti pakaiannya dengan piyama, ia juga membersihkan wajahnya dari sisa make up yang ia kenakan tadi
Gerhana segera memeluk istrinya dari belakang, ia menyandarkan kepalanya dibahu Gendis dan memejamkan matanya menikmati wangi khas istrinya
"Kamu kenapa?" Tanya Gerhana lembut dengan masih memejamkan matanya
'Iya, aku kenapa? sedangkan Mas Gerhana nggak tau apa-apa!' Batin Gendis
Gendis merasa bersalah dengan suaminya, karena Gerhana memang tidak bersalah dan kenapa ia malah yang terkena imbasnya, tangannya terulur membelai lembut pipi sang suami yang ada dipundaknya
"Aku cuma laper!" Jawab Gendis santai
Gerhana begitu terkejut dengan jawaban istrinya, ia segera membuka matanya dan memutar tubuh Gendis untuk menghadapnya
"Kamu laper?" Tanya Gerhana seolah tak percaya, karena Gendis baru saja makan malam
Gendis hanya mengangguk dan tersenyum malu, malu karena sudah marah tanpa alasan
"Kamu mau makan apa? Biar aku keluar beli." Tanya Gerhana antusias, ia merasa lega karena istrinya hanya lapar dan bukan karena sesuatu hal lainnya
"Mau mie goreng," Jawab Gendis bergelayut manja dilengan suaminya, "tapi kamu yang masakin." Lanjutnya mendongak menatap suaminya
"Tapi, Sayang!" Ucap Gerhana ragu, "kamu kan tau kalau aku nggak bisa masak, jangankan masak, nyalain kompor aja aku nggak bisa." Lanjutnya hati-hati, ia tak ingin membuat mood istrinya kembali memburuk
"Pokoknya aku mau kamu yang masakin, titik!" Ucapnya dengan menaikkan satu oktav volume suaranya dan membanting tubuhnya diatas ranjang
Gerhana kembali terkejut karena ini kali pertama istrinya bisa berbicara dengan keras, ia segera pergi kedapur untuk memasak
Sesampainya didapur ia merasa kebingungan karena ia sama sekali tak paham dengan urusan dapur, biasanya ia memasuki dapur hanya untuk menonton istrinya memasak, namun malam ini, jam ini, detik ini, ia harus memasak demi Nyonya tercinta
__ADS_1
Seperti mendapatkan wangsit, ia segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan segera mencari nomor telepon seseorang yang jelas bisa diandalkan dalam hal ini, segera ia menekan icon hijau dilayar ponselnya menelpon seseorang tersebut
"Assalamu'alaikum!" Sapa seseorang diseberang sana
"Wa'alaikum salam," jawab Gerhana, " Bibi, bisa tolong saya!"
"Tolong apa, Tuan? Kalau saya mampu pasti akan saya bantu." Jawab seseorang itu yang tak lain adalah Bibi Keke sang kepala pelayan
Gerhana segera mengalihkan panggilan suara ke panggilan video, sedetik kemudian ia sudah bisa melihat wajah BibiKeke dilayar ponselnya
"Bi, bagaimana caranya untuk membuat mie goreng?" Tanya Gerhana
"Tuan mau makan mie goreng?" Tanya Keke, seolah tak percaya bahwa Gerhana mau makan mie instan
"Bukan, tapi istriku!" Jawab Gerhana, "dia ingin makan mie goreng."
Bibi Keke tersenyum penuh arti menatap Gerhana dilayar ponselnya
"Ayo lah, Bi! Cepat disini sudah malam!" Ucap Gerhana sedikit kesal
"Iya, iya Tuan, iya," jawabnya masih tersenyum misterius, "Pertama hidupkan kompor, lalu didihkan air didalam panci!" Sambungnya membeemri instruksi
"Ini bagaimana cara ngidupinya, Bi?" Tanya Gerhana dengan menunjuk kompor
Gendis yang sedari tadi menunggu di meja makan hanya bisa tersenyum melihat suaminya berperang dengan peralatan dapur yang belum pernah ia pegang sama sekali sebelumnya
Gerhana berjalan mendekat dengan membawa nampan berisi sepiring mie goreng lengkap dengan telur ceplok yang sedikit gosong dan segelas air mineral, ia segera memberikannya kepada sang istri agar segera dinikmati
"Suapin!" Ujar Gendis manja
Gerhana hanya bisa tersenyum menanggapi tingkah istrinya yang tak biasa, ia segera menyuapi istrinya dengan telaten hingga mie didalam piring tandas tak tersisa
"Aku mau lagi!" Pinta Gendis
Gerhana melongo tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan, "Kamu serius, Sayang?"
Gendis mengangguk dan tersenyum malu
Tak ingin Gendis menjadi kesal, akhirnya Gerhana segera memasak mie goreng lagi, lima belas menit kemudian mie telah siap. Waktu memasak lebih singkat karena ia sudah sedikit tau
__ADS_1
Gerhana kembali menyuapi istrinya, ia masih sedikit tak percaya dengan perubahan istrinya yang jauh berbeda dari biasanya
'Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kamu berubah begini?' Batin Gerhana
Setelah mie tandas, Gendis meminta untuk dibuatkan mie lagi. Tak mau banyak berdebat, Gerhana akhirnya kembali kedapur untuk menuruti keinginan istrinya
"Apa sebenarnya yang terjadi, apa dia lagi banyak pikiran jadi dilampiasin ke makanan?" Gerhana bergumam sambil kembali merebus air untuk merebus mie. Ia ingat perkataan Samuel jika Gendis sedang kesal pasti ia akan melampiaskannya ke makanan
Ia segera mengambil ponselnya dan menelpon Austin untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi
"Hallo, kenapa Ge? Lo telpon gue malem-malem begini, apa ada yang penting, yang bener-bener nggak bisa buat dibicarakan besok, atau...." Cerocos Austin ketika telepon tersambung
"Berisik!" Ketus Gerhana memotong ucapan Austin, "apa yang terjadi dengan para perempuan tadi di restaurant?" Sambung Gerhana to the point
"Memangnya Nyonya Gerhana nggak cerita?" Tanya Austin
"Nggak! Kalau cerita, nggak mungkin gue tanya elo!" Balasnya ketus
"Oh! Berarti dia udah berpikir dewasa, jadi nggak mau elo kepikiran!"
"Udah buruan cerita, nggak usah bertele-tele!" Sentak Gerhana
"Iya, iya! Jadi. tadi tu....... " Austin kemudian menceritakan semuanya kepada Gerhana tentang pertikaian antara Gendis dan Carolina
"Perempuan itu!" Geram Gerhana setelah mendengarkan cerita Austin. Ia segera mengakhiri panggilannya tanpa berpamitan terlebih dahulu
Ia segera kemeja makan untuk memberikan mie gorengnya, namun ternyata Gendis sudah terlelap dengan kepala miring diatas meja makan dan tangan sebagai bantal
Gerhana tersenyum melihat istrinya telah terlelap, ia segera memindahkan Gendis kesofa ia pandangi wajah tenang Gendis, ia mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut pipi mulus Gendis
"Kenapa kamu nggak cerita, kamu mau ngadepin dia sendiri?" Ucapnya dengan tangan terus membelai pipi istrinya
"Aku pastikan dia tidak akan berani mengganggumu lagi!" Ucapnya kemudian mengecup puncak kepala istrinya
Ia segera bangkit dan berjalan kemeja makan, ia lalu menyantap mie goreng buatannya sendiri. Setelah mie tandas, ia membopong tubuh istrinya menuju kamar
***
Gimana kabar readers? Sehat selalu kan?
__ADS_1
Jangan lupa jejak ya gaes, biar Mawar tau kalau yang baca itu manusia bukan mahluk jadi-jadian
Salam sayang buat kalen semua, peluk cium via online🤗😘