Tawanan

Tawanan
Bab 11


__ADS_3

Gerhana begitu gusar setelah masuk kedalam kamarnya, pikirannya melayang membayangkan paha putih mulus milik gendis


"Shit! Cuma liat paha orang kampung aja Lo langsung turn on!" Ucapnya seraya melihat adik kecilnya


"Dasar j*lang sial*n!" Gerhana terus mengumpati Gendis


"Dia pasti sengaja godain gue, dengan pake rok begitu!" Gerhana masih terus membayangkan paha putih mulus itu


Aneh memang, dia lah yang menarik Gendis hingga menampilkan pemandangan yang menyegarkan mata. Tetapi ia juga yang nengumpati dan menyalahkan Gendis


"Kenapa tadi nggak gue sentuh ya? Pasti lembut banget!" Pikiran liar Gerhana melayang kemana-mana


"Sial! Sadar Gerhana, sadar! Dia cuma gadis kampung sebagai alat balas dendammu!" Ucapnya memperingati dirinya sendiri


Ia lalu masuk ke kamar mandi untuk menuntaskan urusan adik kecilnya


***


Pagi-pagi sekali Gerhana dan Banyu sudah akan berangkat ke kantor, karena akan ada meeting dengan klien dari luar negeri. Sebelum pergi Gerhana tak lupa memberi perintah untuk para pelayan dan bodyguard selalu mengawasi Gendis agar tidak kabur


"Jangan perbolehkan dia keluar kamar, apalagi kabur!" Ucapnya dingin "Nyawa kalian taruhannya kalau sampai perempuan itu melarikan diri"


"Baik, Tuan!" Ucap para pelayan dan bodyguard yang berbaris rapi dihadapan Gerhana


"Exel!" Gerhana memanggil kepala bodyguard yang sekaligus merangkap sebagai sopir pribadinya


"Ya, Tuan!" Jawab Exel sopan


"Antarkan Bibi Keke berbelanja kebutuhan gadis itu!" Ucapnya Tegas


"Baik, Tuan!"


"Tanyakan padanya seperti apa gaya berpakaiannya? Dan jangan belikan dia rok yang diatas paha!" Ucapnya sambil melirik kepala pelayan


"Baik, Tuan!" Ucap Keke sopan


Banyu lalu melajukan mobilnya setelah Gerhana selesai dengan urusannya


***


Tok Tok Tok


Keke mengetuk pintu kamar Gendis, tak lama kemudian Gendis keluar setelah membuka pintu


Gendis melihat Bibi Keke seolah bertanya 'Ada apa?'


"Tuan Muda, ingin saya menanyakan model baju sehari-hari, Nona!" Keke menjawab dengan sopan


Gendis mengernyit tak paham


"Tuan Muda meminta saya untuk berbelanja keperluan, Nona! Baju keseharian nona seperti apa? Apakah dress atau kaos ketat, atau kaos oblong?" Keke menjelaskan


'Kenapa pria arogan itu ingin membelikan aku baju?' Gendis membatin


Gendis lalu menuliskan apa yang diperlukan, sebelum Gerhana sendiri yang masuk kamarnya lalu menyakitinya lagi

__ADS_1


"Kaos oblong, dengan celana kolor, serta piama tidur! Itu pakaian ternyaman untuk saya!" Tulis Gendis lalu memberikannya kepada Keke


Keke segera mengambil ponsel dan memfoto tulisan Gendis, kemudian mengirimkannya kepada Banyu


"Tolong belikan saya mukena dan sajadah untuk sholat, saya sudah meninggalkan kewajiban saya sejak disini!" Tulis Gendis lagi


Sama seperti tadi Keke lalu memfotonya dan mengirimkannya ke Banyu


"Apakah itu saja, Nona?" Keke memastikan


Gendis menggangguk, Keke kemudian meminta Exel untuk mengantarkannya


Sementara Banyu masih fokus menatap jalanan, ponselnya menerima notifikasi dari aplikasi pesan


Gerhana yang merasa terganggu dan penasaran kemudian meminta ponsel Banyu untuk ia lihat pesan dari siapa


Banyu kemudian memberikan ponselnya kepada pria yang duduk disebelahnya


Banyu dan Gerhana tidak pernah menutup-nutupi hal apapun, mereka sudah bersama sejak masih teramat kecil


Jadi Banyu ataupun Gerhana bebas untuk mengotak atik ponsel salah satu dari mereka, karena ya memang tidak ada yang rahasia. Baik Banyu atau Gerhana adalah jajaran Pria tampan, mapan, dan jomblo karatan


Gerhana tertawa geli membaca pesan yang dikirimkan oleh Bibi Keke


"Kenapa, Lo? Sawan?" Tanya Banyu keheranan melihat sahabatnya yang tidak biasanya bisa tertawa


"Lo liat nih!" Balas Gerhana sambil menunjukkan layar ponsel Banyu yang menyala


Banyu melirik sekilas kemudian fokus kembali menatap jalanan


"Style macam apa, coba! Seorang gadis pake kolor sama kaos oblong" Gerhana mencibir gaya berpakaian Gendis


"Biarin aja, kasih lah dia sedikit kebebasan, Ge! Inget dia gadis yang nggak salah!" Banyu menasehati


"Hmmm" Jawab Gerhana kembali kesettingan dinginnya


Tak berapa lama mobil yang dikendarai Banyu telah berhenti dihalaman kantor RHC milik Gerhana


Mereka lalu turun didepan lobi dan sopir kantor segera memarkirkan mobilnya diparkiran khusus


Seperti biasa mereka akan disibukkan oleh rutinitas kantor hingga malam hari


***


Seminggu telah berlalu sejak kejadian itu, yang artinya seminggu pula Gendis menjadi tawanan di rumah mewah milik Gerhana


Hari-harinya hanya dihabiskan untuk melamun sambil menatap jendela yang tepat menghadap taman luas di belakang rumah


Rasa jenuh sudah tentu ada, tapi kepada siapa ia harus mengungkapkannya. Ingin rasanya Gendis mencurahkan seluruh keluh kesahnya kepada Samuel, namun Gendis tak tau bagaimana cara menghubunginya


Ponsel dan semua barang-barang Gendis masih tertata rapi di rumah keluarga Guntoro. Gendis begitu merindukan mereka, orang-orang yang menyayanginya


Sejak kejadian itu, Gendis tidak pernah sekalipun diperbolehkan melangkahkan kakinya walau hanya selangkah melewati pintu kamar


Gendis bisa apa saat sang pangeran arogan sudah membuat peraturan, ingin melawan? Gendis harus berfikir berulang-ulang sebelum melakukan kecerobohan. Karena bukan hanya nyawanya yang menjadi taruhan, tapi nyawa para pelayan dan seluruh bodyguard pun ikut menjadi beban tanggung jawab baginya

__ADS_1


"Kapan ini akan berakhir, Ya Allah!" Lirihnya


"Aku ingin pulang, aku rindu nenek" Tak terasa bulir bening telah siap untuk ditumpahkan dari pelupuk matanya


"Kenapa nasibku jadi begini, Ya Allah?" Bulir bening mulai berjatuhan tanpa bisa dicegah


"El, tolong aku!"


"Siapa yang bisa membebaskan aku dari pria kejam ini!"


"Bunda, Gendis ingin ikut Bunda!" Lirihnya terisak


Tanpa Gendis sadari ada seseorang yang memperhatikannya sedari tadi, ia kemudian melangkahkan kakinya menuju ruang kerja sahabatnya itu


Ia lalu masuk setelah mengetuk pintu, ia mendudukan bokongnya diatas sofa empuk diruang kerja Gerhana


"Ge!" Panggilnya


"Hmmm!" Jawab Gerhana dengan settingan dinginnya tanpa menoleh kesumber suara


"Elo harus bebasin dia!"


Ucapan Banyu seketika menghentikan aktifitas Gerhana, kemudian ia menatap Banyu lekat-lekat


"Kasian dia, Ge! Dia cuma gadis bisu! Please lah kasian sama dia!" Ucap Banyu serius


"Nggak!" Ucap Gerhana dingin


"Ge!" Balas Banyu hendak melayangkan protesnya


"Sekali gue bilang enggak, ya enggak! Nggak akan berubah!" Tegas Gerhana


"Tapi, Ge!" Banyu sudah menampilkan wajah memelasnya


"Enggak!" Tegasnya tanpa mau menerima bantahan


Banyu bingung, harus bagaimana merayu sahabatnya itu. Ia begitu prihatin melihat Gendis


"Setidaknya Lo beri dia sedikit kelonggara, Ge!" Tawar Banyu


"Bukankah dia sudah cukup enak disini, makan, tidur, Baju bagus, semua gratis! Lalu apanya yang kurang?"


"Dia manusia, Ge! Dia juga nggak minta untuk makanan, baju, dan tempat tinggal bukan?" Banyu terus berusaha membujuk sahabatnya yang keras kepala itu


Gerhana diam mencerna ucapan Banyu, benar! Gendis tidak menginginkan semua ini, tapi dia harus tetap menahan Gendis


Dengan alasan, pertama dia akan menyiksa Gendis agar Abi merasa tersakiti, karena yang dipikiran Gerhana adalah Abi mencintai Gendis selayaknya kekasih, dan yang kedua karena Gendis adalah saksi kejadian malam itu


***


Jangan lupa tinggalkan jejak yea gaes


Dengan cara klik like dan komen serta vote, jadikan favorit jika kalian menyukai cerita ini


Salam samyang dari author, peluk cium via online untuk readers tercintaaaah🤗😘

__ADS_1


__ADS_2