
Satu minggu sudah berlalu, hari ini semua pelayan tengah sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan orang tua Banyu dan Gerhana, Gendis turut membantu memasak, menyiapkan hidangan ala Indonesia buatan Gendis
Ada rasa takut terbesit didalam hatinya, bagaimana jika orang tua Gerhana tidak bisa menerimanya dan memperlakukan Gendis secara tidak baik, atau malah akan mengusir Gendis dan yang lebih parahnya lagi akan meracuni pikiran Gerhana agar membenci istrinya
Gendis bergidik ngeri membayangkan semua itu, "Semoga itu semua hanya ada disinetron azab, jangan sampai nanti mertuaku seperti itu," batin Gendis mencoba untuk membuang jauh pikiran negatifnya
"Sayang!" panggil Gerhana yang berdiri disamping istrinya
Gendis terlonjak kaget, dan pisau ditangannya menggores jemari lentiknya
Gerhana yang melihat itu seketika panik, ia segera meraih jemari Gendis dan segera menghisap darahnya, "Kenapa tidak hati-hati, sudah ku bilang jangan memasak, kenapa tidak mendengarkan, kalau sudah terluka seperti ini bagaimana? Ha?" teriaknya panik
Gendis tersenyum mendengar suaminya terus mengoceh, "pria yang paling irit bicara, kenapa sekarang berbicara dengan kecepatan satu juta km/jam?" ucapnya lembut
Gerhana terus membersihkan tangan istrinya, "Cepat ambilkan kotak obat!" teriaknya memberi perintah
"Ini tidak apa-apa, Sayang!" Gendis mencoba menetralkan kepanikan suaminya, "hanya luka kecil." Lanjutnya menenangkan
"Tapi ini berdarah!" Sentak Gerhana
Gendis mengambil napas dalam dan mengeluarkannya perlahan, "ini bukan masalah yang besar, aku tadi kaget karena kamu tiba-tiba memanggilku, hingga salah memomong jariku sendiri." ucapnya seraya menangkup wajah sang suami
"Maafkan aku!" Balas Gerhana penuh sesal
Gendis mengajak suaminya ketaman untuk menghindari ketakutan para pelayan, hanya hal kecil seperti ini saja sudah membuat jantung pelayan hampir melompat dari tempatnya
"Apa yang kamu pikirkan hingga melamun tadi didapur?" tanya Gerhana setelah ia dan istrinya duduk dibangku taman
"Tidak ada."
"Kamu tidak pandai berbohong!" tegasnya
"Mungkin karena aku sering menonton sinetron azab di channel Indonesiar, jadi terbawa suasana menakutkan yang tidak-tidak."
"Apa yang membuatmu takut, Sayang?" tanya Gerhana lembut
"Aku takut kalau nanti, Mama dan Papa tidak bisa menerimaku," ujarnya sendu, "karena aku sadar, siapa aku dan darimana asalku." Lanjutnya tertunduk
__ADS_1
"Sayang, Mama dan Papa itu orang baik, tidak mungkin seperti itu," Gerhana menggenggam jemari istrinya, "mereka pasti akan menyayangimu seperti menyayangi putri mereka sendiri. Asalkan aku bahagia, mereka pasti akan bahagia juga."
Tak berapa lama, akhirnya orang tua mereka tiba dikediaman Gerhana. Mereka dijemput oleh Exel dan Banyu. Semua pelayan dan para pengawal berjajar rapi menyambut kedatangan Hendra dan Henny
Gerhana menggenggam jemari Gendis yang terasa begitu dingin, "tenanglah, ada aku disini." Ucapnya berbisik
Hendra dan Henny berjalan menghampiri Gerhana dan istrinya. Gendis semakin merasa tidak karuan karena takut jika nanti terjadi seperti disinetron yang ia tonton tempo hari, 'Mertuaku yang Lucknut, menjodohkan suamiku dengan putri temannya', Gendis bergidik ngeri membayangkannya
Henny melirik tajam kearah Gerhana, membuat nyali Gendis semakin menciut. Tanganya semakin gemetaran kala Henny dan suaminya semakin mendekat
"Dasar anak nakal," ucap Henny seraya menjewer kuping Gerhana, "punya istri secantik ini tapi tidak pernah mengajaknya berkunjung kerumah wanita tua ini."
"Aduuuh ampun, Ma!" Gerhana mengaduh, "belum ada waktunya untuk kesana, Mama taukan kalau putramu ini sangat sibuk sekali."
"Alasan!" ucapnya seraya melepaskan tangannya dari telinga Gerhana
Gendis hendak menyalami mertuanya itu, namun Henny tak kunjung menerima uluran tangan menantunya. Gendis benar-benar ketakutan jika mertuanya seperti mertua yang ada disinetron-sinetron azab
Namun tak disangka, Henny langsung memeluk Gendis dengan erat. Air mata Henny sudah tak mampu ia bendung lagi, ia menangis dengan masih mendekap menantunya
Gendis membalas pelukan mertuanya, ada kelegaan didalam hatinya yang tadi terasa sesak. Tanpa terasa bulir bening dari netra teduh Gendis meluncur bebas
Henny melepaskan pelukannya dan menatap Gendis, "jangan menangis, nanti mama bisa dihukum suamimu yang kejam itu karena membuat istri kesayangannya menangis," ucapnya seraya mengusap lembut air mata menantunya itu
***
Setelah makan malam bersama, mereka semua berkumpul diruang keluarga. Gendis duduk diantara Gerhana dan Henny, sedangkan Banyu duduk bersama Papanya
"Jadi, apakah sudah ada tanda-tanda wanita tua ini akan segera menimang cucu?" Ucap Henny membuka percakapan
"Masih kami usahakan, Ma!" jawab Gerhana dengan menggenggam jemari istrinya
"Usahanya juga enak, ya kan Ge?" Hendra menimpali dan mendapat gelak tawa dari mereka semua kecuali Banyu
"Dari aromanya, ini pasti nantinya nggak ngenakin di gue" Banyu membatin
"Pokoknya kalian harus usaha terus biar Mama dan Papa bisa segera menimang cucu, iya kan Pa?" ucapnya meminta dukungan Hendra
__ADS_1
"Iya, Papa sama Mama sampe malu kalau ketemu temen, mereka pasti selalu menceritakan cucu-cucu mereka dan Kami hanya diam melongo," Hendra membenarkan
"Terus kamu kapan, Nyu?" Tanya Henny melirik putranya
'Nah, bener kan kata gue!' Batinnya tepat sasaran
"Iya, Nyu!" Gerhana semakin mengompori agar Banyu semakin terpojok, "elo nggak pengen nih pacaran halal kaya gue, gandengan tangan dapet pahala, ciuman dapet pahala, 'ehem' pun dapat pahala." Lanjutnya dan mendapat hadian cubitan dipinggang dari istrinya
"Aaaaw aduuuh, ampun Sayang!" Gerhana tercengir kesakitan, sontak terdengar gelak tawa menggema diruangan itu karena ulah Gerhana dan istrinya
"Kalau masalah begituan aja hapal bener, Lo" cibir Banyu, "nikah itu nggak semudah beli cendol ditempat Kang Amat! Nikah itu perlu persiapan yang matang. Karena syarat nikah itu harus ada pasangannya, lah aku aja belum nemu belahan jiwa ku"
"Makanya jangan cuma duit terus yang dikejar, Nyu!" Hendra menimpali, "sesekali kalian ini liburan, biar Banyu kecantol cewek gitu."
"Bener tuh ide Papa, kalian kan belum bulan madu, gimana kalau bulan depan kamu kosongin jadwal buat kalian bulan madu?" Henny begitu antusias, "biar wanita renta ini bisa segera menimang cucu."
"Ya, ya ya nanti akan aku atur jadwalku, Ma." Jawab Gerhana mengiyakan
"Kamu punya suatu tempat yang ingin dikunjungi, Sayang?" Tanya Henny mengalihkan pandangannya menatap menantunya
"Belum, Ma." Jawab Gendis lembut
"Bagaimana kalau ke Milan, atau ke Korea biar bisa ketemu oppa-oppa yang kerennya pake banget?" Henny begitu antusias membahas bulan madu untuk Gerhana dan Gendis
"Udah tua juga masih mikirin oppa-oppa, inget umur, Ma!" cibir Hendra
Henny mencebikkan bibirnya, "umur boleh lah tua, tapi selera tetep nomer wahid!"
Gendis merasa sangat beruntung bisa berada ditengah mereka, ternyata semua tak seburuk yang ia bayangkan. Benar kata Gerhana, bahwa Hendra dan Henny tidak akan memperlakukan Gendis dengan buruk
Bahkan Henny sangat menyayangi Gendis, ia merasa seperti menemukan keluarganya kembali, mendapatkan mertua yang begitu baik adalah suatu keberuntungan yang patut disyukuri
***
Jangan lupa tinggalkan jejak ya readers
Salam sayang dari Mawar, peluk cium via online 🤗😘😘
__ADS_1