Tawanan

Tawanan
Bab 46


__ADS_3

Ditaman yang luas, duduk seorang wanita paruh baya dengan ditemani seorang wanita muda sedang menikmati secangkir teh. Aroma bunga yang sedang bermekaran menambah kesan hangat dalam percakapan mereka


"Apakah kamu sudah mulai menyukai putraku, Sayang?" Henny menatap Gendis yang duduk dihadapannya


Gendis tersenyum, "sangat." Jawabnya seraya meletakkan cangkir tehnya diatas meja


"Mama sangat bersyukur Gerhana menikah dengan mu, Nak," ucapnya sendu


"Aku yang seharusnya bersyukur, Ma," jawabnya dengan tersenyum, "bisa dicintai olehnya, membuatku merasa menemukan kembali alasan untuk tetap bertahan didunia yang kejam ini." Lanjutnya menerawang


"Mama harap suatu saat kamu bisa membalas cintanya," ujarnya tersenyum tulus, "dia adalah pria yang baik, tapi karena kejadian sembilan belas tahun silam yang membuatnya menjadi kejam dan dingin."


Gendis mencoba mencerna setiap kata yang diucapkan Henny


"Orang tuanya dibunuh dengan keji, saat usianya baru sembilan tahun," ujarnya menerawang, "sejak saat itu dia berubah, anak yang ceria berubah menjadi tempramen dan pemurung. Sebentar-sebentar marah, dia hanya bersikap baik dengan Mama, Papa, Banyu, dan teman-temannya


"Sejak saat itu Mama membawa Banyu dan Gerhana keluar negeri, baru saat SMP mereka kembali bersekolah disini, saat kuliah mereka kembali ke England


"Mama sangat bersyukur karena sekarang dia sudah banyak berubah, mau kembali beribadah, setelah sekian lama dia marah kepada Allah karena menganggap Allah tidak adil padanya


"Sikap dingin dan arogannya pun perlahan memudar, Mama harap kamu bisa membalas rasanya dan kalian hidup bahagia." Henny menceritakan kisah kelam Gerhana dengan mata berkaca-kaca


"Gendis akan berusaha, Ma." jawabnya seraya mengusap tangan wanita paruh baya dihadapannya


Jawaban Gendis bagaikan mata air ditengah gurun sahara, air mata Henny sudah tidak dapat dibendung lagi, ia menangis karena bahagia


Gendis bangkit dan duduk disebelah Henny, dipeluknya Henny untuk menenangkannya


***


Henny mengajak Gendis untuk perawatan dan berbelanja, ia ingin Gendis terlihat sempurna nanti malam. Ia sudah memilihkan gaun indah berwarna hijau botol dengan panjang sebatas lutut, sangat kontras dengan kulit Gendis yang putih bersih


"Apakah akan ada acara nanti, Ma?" tanya Gendis saat perjalanan pulang


"Tidak ada," jawab Henny santai, "hanya ingin kamu terlihat fresh dan tidak stres." Lanjutnya tersenyum


Gendis hanya mengangguk


Setibanya dirumah, mereka sudah disambut oleh Yolanda serta Rico. Gendis mengernyit, kenapa ada mereka disini, apakah akan ada acara pikirnya


Rico dan Yolanda mengajak Gendis kedalam kamar dan mulai melakukan make over, agar Gendis terlihat luar biasa cantik


Gendis hanya bisa pasrah tanpa mau ribet bertanya. Ia tidak ingin jika nanti akan dikatakan banyak bertanya dan tidak menurut dengan mama mertua

__ADS_1


Sementara Henny sibuk menyiapkan menantunya, Hendra tengah sibuk menyiapkan makan malam romantis untuk anak dan menantunya, mereka paham betul jika putranya bukanlah pria romantis yang peka akan keinginan wanita. Maka dari itu mereka berinisiatif untuk menyiapkan semuanya


Mereka menyiapkan dinner romantis ditepi pantai dengan ditemani life music, deburan ombak dan bintang yang bertaburan tentu akan menambah kesan romantis untuk mereka berdua


Lilin kecil berbaris rapi disekitar nya terdapat taburan kelopak bunga Mawar merah yang membentuk nama Gerhana dan Gendis


Walaupun Henny dan Hendra sudah tidak muda lagi tapi untuk urusan tentang romantis-romantisan mereka lah jagonya.


Hendra menelpon Gerhana agar bisa segera pulang, Hendra pikir agar Gerhana bisa pergi bersama Gendis ke pantai tempat makan malam mereka


"Assalamu'alaikum," sapa Hendra setelah telepon tersambung


"Wa'alaikumsalam, ada apa, Pa?" tanya Gerhana langsung intinya


"Nanti jam lima kamu sudah harus sampai dirumah, Nak" pinta Hendra sedikit memaksa


"Kurasa belum bisa, Pa, mungkin jam tujuh. Karena sekarang Ge sedang di Bogor meeting"


Jawaban Gerhana seketika membuat hati Hendra menjadi mendung, 'tapi kan masih bisa lah jam tujuh, dia langsung kesini' batin Hendra


"Memangnya ada apa, Pa?" tanya Gerhana karena tidak mendapat jawaban dari Papanya


"Tidak ada, nanti kamu langsung saja ke alamat yang Papa kirimkan!" jawabnya


"Tidak perlu, sekarang lanjutkan meeting mu, Assalamu'alaikum" ucapnya mengakhiri percakapan


"Wa'alaikumsalam" jawab Gerhana kemudian memutus sambungan teleponnya untuk melanjutkan meetingnya


Hendra segera mengabari istrinya kalau Gerhana tidak bisa pulang terlebih dahulu. Henny sangat kecewa, karena ia ingin Gendis dan Gerhana bisa pergi bersama, tapi tak apalah Gendis bisa diantar sopir kesana pikir Henny


Jam setengah tujuh Gendis sudah terlihat sangat anggun dan elegan, dengan balutan gaun berwarna hijau botol dan sepatu hak yang menghiasi kaki jenjangnya, serta riasan tipis yang nampak natural, tak ketinggalan rambut Gendis hanya dikepang satu oleh Rico


Menampilkan sosok gadis cantik yang anggun dan elegan, Gendis berjalan menuruni tangga dengan dibantu oleh Yolanda dan Mela


Semua mata tertuju pada sosok gadis cantik yang tengah berjalan dengan anggun, Hendra dan Henny melongo melihat perubahan menantunya


"Luar biasa!" puji Henny seraya bertepuk tangan, ia berjalan menghampiri menantunya, ia pandangi dari ujung rambut sampai ujung kaki Gendis, "sempurna!" lanjutnya berdecak kagum


"Apakah ada acara, Ma?" tanya Gendis yang sudah tidak bisa menyembunyikan pertanya-pertanyaan yang sedari tadi memberontak didalam pikirannya


"Tidak ada, Sayang," jawab Henny seraya mengusap pundak Gendis, "sekarang pergilah, Mela dan Max akan mengantarkanmu!" lanjutnya


Gendis hanya bisa pasrah dan menuruti kehendak mertuanya, Max melajukan mobilnya setelah Gendis duduk dikursi penumpang dan Mela duduk disebelah Max

__ADS_1


Setelah Gendis pergi, Hendra segera menghubungi Gerhana agar ia segera pulang, namun hingga panggilan ke empat Gerhana tak kunjung mengangkat telponnya


"Mungkin belum selesai meetingnya, Mas!" ucap Henny


"Tapi kan aku sudah bilang kalau jam tujuh sudah harus sampai disana!" Ucap Hendra sedikit kesal


"Coba kamu telpon Banyu, Mas!"


Hendra kemudian menelpon Banyu, namun hingga dering ketiga telpon tak kunjung dijawab, "kanapa tidak ada yang mengangkat telponku!" geramnya


"Mungkin memang belum selesai meeting nya, Mas," Henny mencoba menenangkan suaminya, "dia pasti akan datang, kamu tau kan kalau putra kita tidak pernah ingkar janji."


***


Hendra sudah menjelaskan kepada Max tentang lokasi yang akan mereka tuju sebelumnya. Max melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah kemacetan jalanan dimalam hari


Setelah melewati kemacetan kurang lebih tiga puluh menit, kini mereka melewati jalanan yang lumayan sepi dan sedikit gelap karena kurangnya penerangan menuju pantai


Namun, tiba-tiba dua mobil jeep mengejar mereka dengan terus menembaki kearah mobil mereka


Dorr Dorr Dorr


"Astaghfirullohaladzim, siapa mereka, Max?" tanya Gendis yang mulai ketakutan


"Saya tidak tau, Nyonya!" jawabnya dengan menambah laju kendaraannya


"Nyonya sebaiknya berpegangan yang kuat!" ucap Mela yang masih memikirkan Gendis disaat seperti ini


Dorr


Satu tembakan tepat mengenai roda belakang mobil yang dikemudikan Max, membuat mobil tersebut oleng. Max berusaha sekuat tenaga agar mobil yang ia kemudikan tetap bisa seimbang


Dorr


Braakk


Satu tembakan lagi mengenai roda sebelah kiri, dan benar-benar membuat mobil yang dikendarai Max oleng lalu menabrak pohon dipinggir jalan


***


Jangan lupa jejak


Salam sayang dari Mawar untuk readers tersayang, peluk cium via online🤗😘

__ADS_1


__ADS_2