
"Kenapa nggak nunggu tujuh hari nenek, Nda?" Tanya Samuel sendu
"Mas Gerhana sudah harus bekerja, El," tulis Gendis
"Katanya kamu kuliah di Jakarta?" Tanya Gerhana dengan mode sedikit ramah, ia bersikap sedikit ramah kepada Samuel, agar Samuel tidak berfikir jika Gendis tidak akan bahagia hidup bersama pria dingin sepertinya.
"Iya, Kak."
"Kalau kamu sudah di Jakarta, mainlah kerumah kami," ujarnya sambil melirik Gendis, "kamu boleh kapan saja datang saat rindu dengan Gendis." Lanjutnya
"Iya, Kak. Terima kasih," Jawab Samuel seraya tersenyum, walau hatinya terasa perih
Gerhana menyerahkan kartu namanya, "Itu alamat rumah kami, katakan kalau kamu adalah sahabat Gendis, saat nanti bertemu satpam diposnya."
Samuel mengangguk sebagai jawaban
Gendis dan Gerhana kemudian masuk kedalam bandara untuk check in. Samuel memandangi kepergian Gendis dengan hati yang terluka, tapi ia akan berusaha untuk menerima takdir
"Berjanjilah untuk selalu bahagia, Nda." Gumamnya, kemudian ia melajukan motornya untuk kembali kerumah.
Sedangkan Pak Encup kembali ke kantor cabang Gerhana, karena sebenarnya Pak Encup adalah sopir kantor yang ditugaskan sementara untuk melayani Tuan Muda saat ia berada di Malang
***
Setibanya di Jakarta, Gerhana dan Gendis sudah dijemput oleh Exel. Sedangkan Banyu masih bersantai-santai dirumah bersama teman-temannya
Exel melajukan mobilnya setelah Gerhana dan Gendis duduk di kursi penumpang. Ada banyak pertanyaan saat ia melihat Gendis kembali ke Jakarta sedangkan saat berangkat, Gerhana mengatakan bahwa akan mengantar yang artinya hanya mengantar tidak mengajaknya kembali
'Kenapa Nona Gendis ikut ke Jakarta lagi?' Batinnya bertanya. ia sangat iba melihat Gendis ikut bersama Tuan Mudanya kembali, sedangkan ia sangat menderita disini
Mobil yang dikendarai Exel telah tiba di rumah mewah Gerhana, mereka sudah disambut oleh para pelayan dan petugas keamanan yang berjejer rapi
"Selamat siang, Tuan!" Bibi Keke menyapa dengan sopan
"Hmm" hanya itu jawaban yang biasa Gerhana berikan
"Selamat siang, Nona!" Sapanya
Gendis tersenyum menanggapi
Gerhana masuk kedalam rumah dengan Gendis yang mengekor dibelakangnya.
Banyu dan Micko sangat terkejut melihat Gendis ikut kembali bersama Gerhana, ingin rasanya Banyu segera memaki sahabatnya itu karena masih tetap tidak mau membebaskan Gendis
__ADS_1
Lain halnya dengan Harris, dan Royan, yang baru pertama kali melihat Gendis. Mereka tidak tau kalau Gendis adalah tawanan Gerhana, karena baik Banyu maupun Micko sengaja tidak menceritakan kepada mereka
'Kenapa wajah gadis kecil itu nggak asing, ya?' Royan membatin
Gerhana menyuruh Gendis untuk ke kamarnya beristirahat, sedangkan dia mengajak teman-temannya untuk ke minibar yang ada dirumahnya
"Lo bener-bener nggak punya hati, Ge!" Ucap Banyu setelah mereka masuk ke dalam minibar, "Kenapa elo maksa Gendis buat ikut lagi?" lanjutnya geleng-geleng kepala, masih tak percaya kalau sahabatnya masih menggunakan Gendis untuk alat balas dendam
"Gue nggak habis pikir sama elo, Ge," timpal Micko seraya menatap Gerhana, "dia itu nggak tau apa-apa, dia nggak salah, Ge!"
"Malang sekali nasibmu, Ndis." Ujar Banyu prihatin
Sedangkan Harris dan Royan saling berpandangan tak mengerti kemana arah pembicaraan mereka
"Lo pada berisik banget tau nggak!" Ucapnya kemudian menengguk jus yang baru saja diantarkan oleh pelayan, "apa kira-kira seorang suami tega ninggalin istrinya sendirian? Lebih nggak punya hati mana sama suami yang ngajak istrinya kemana pun ia melangkah?" Lanjutnya santai
Banyu, Micko, Harris dan Royan saling berpandangan untuk meminta jawaban satu sama lain.
"Besok lo urus ke Kantor Urusan Agama buat sertifikat, buku nikah dan lain-lain," ujarnya menatap Banyu
Banyu semakin tidak mengerti dan meminta penjelasan lewat tatapan matanya. Gerhana memberikan ponselnya yang berisi foto akad nikah dirinya dan Gendis
Banyu membelalakan matanya tak percaya, sama halnya dengan yang lain. Mereka masih tak percaya dengan ucapan Gerhana, bagaimana mungkin pria dingin ini menikahi gadis kecil itu dan juga kenapa tidak memberitahu satupun sahabatnya
"Lo lagi bercanda kan, Ge?" Banyu masih tak percaya
"Lo berubah jadi pedophile yang doyan anak-anak," Micko geleng-geleng kepala
"Dia sudah 18 tahun dan gue juga baru 28 tahun, hanya selisih sepuluh tahun," Gerhana kembali menengguk jus alpukatnya, "tidak terlampau jauh bukan?" lanjutnya
"Kalian utang penjelasan sama kita berdua. " Ucap Harris sambil menatap Royyan,
"Iya, Gendis itu siapa dan kenapa kalian bicara kayak gitu." Royyan membenarkan ucapan Harris
Banyu lalu menceritakan semuanya, sedangkan Gerhana hanya diam seperti biasa
"Jadi sekarang nasib gadis kecil itu menjadi tawanan seumur hidup nya, Ge?" Royyan bertanya, setelah Banyu nenyelsaikan ceritanya
"Gue juga nggak ada niat buat jadiin dia istri, kalian tau kan kalau gue nggak tertarik dengan dunia pernikahan." Jawab Gerhana santai
"Jadi, kenapa elo nikahin dia, kalau lo nggak niat buat nikah, Ge? Itu sama aja elo semakin nyakitin dia dengan ikatan tanpa cinta." Harris menasehati
Gerhana lalu menceritakan kenapa ia bisa menikahi Gendis, sedangkan Banyu, dan yang lainnya mencoba mencerna setiap kata yang diucapkan Gerhana
__ADS_1
"Kalau begitu, mending elo ceraikan dia, Ge! Biarkan dia bahagia, kasian dia." Micko memberi saran
"Nggak akan!" Tegas Gerhana, "apa yang udah jadi milik gue, nggak akan gue lepasin."
"Egois!" Balas Harris, Royyan, Micko, dan Banyu kompak
"Gue udah janji buat ngejaga dan melindungi dia," Gerhana menjeda kalimatnya, "pantang bagi seorang Gerhana mengingkari janji, apalagi janji dengan orang yang telah tiada."
"Kalau elo berprinsip buat ngejaga dan melindungi dia, please jangan sakiti dia, perlakukan dia selayaknya 'Nyonya' dirumah ini." Ucap Harris serius
"Gue bakal coba." Tukasnya
"Gue nggak nyangka elo segentle ini, Ge!" Royyan menepuk pundak Gerhana seraya tersenyum
***
Saat makan malam tiba, Gerhana, Banyu dan teman-temannya sudah duduk di meja makan. Micko, Harris maupun Royyan belum pulang sedari tadi siang. Mereka sengaja untuk makan malam di kediaman Gerhana agar bisa melihat Gendis dengan jelas
"Panggilkan Gendis!" Ucap Banyu, "Gendis adalah istri Tuan Muda, jadi kalian harus memperlakukan dia selayaknya Nyonya rumah ini." Lanjutnya berbicara kepada para pelayan
Mereka saling berpandangan kemudian mengangguk patuh dan Mela memanggil Gendis untuk makan malam. Mereka masih bertanya-tanya dengan ucapan Banyu, tanpa pernah berani untuk menanyakannya langsung
Gendis datang bersama Mela yang berjalan dibelakangnya, ia kemudian duduk di kursi yang telah disiapkan oleh para pelayan
Banyu menjentikkan jarinya, agar para pelayan meninggalkan mereka. Banyu, dan yang lainnya bergantian menatap Gendis yang sedari tadi hanya menunduk
"Apa kalian baru melihat seorang gadis?" Suara dingin Gerhana membuat teman-temannya tersenyum kikuk, "Cepat makan, jangan menunduk terus." Lanjutnya menatap Gendis
Gendis mengangguk patuh dan mulai melahap makanan dipiringnya
Makan malam mereka diisi dengan keheningan, dan hanya terdengar suara dentingan sendok yang beradu dengan piring
Setelah menyelsaikan makan malamnya, Harris, Royyan maupun Micko barpamitan untuk pulang. Sedangkan Banyu dan Gerhana masuk keruang kerja Gerhana untuk membahas pekerjaan
Gendis masuk kedalam kamarnya dan mencoba memejamkan matanya, hati dan jiwanya benar-benar lelah
"Gendis rindu, Nek!" Lirihnya
"Maafkan Gendis yang tidak bisa membahagiakan dan membalas jasa Nenek." Lirihnya dengan bulir bening yang mulai berjatuhan
Gendis tertidur sambil memeluk sketsa yang berisi gambarnya beserta keluarga, yang ia bawa dari rumahnya
***
__ADS_1
Jangan lupa dukung Mawar gaes, dengan tekan like, komen dan vote biar Mawar bisa masuk rangking😁😁😁
Salam sayang dari Mawar, peluk cium via online🤗😘