
Semua warga panik hendak nenolong Nenek Tini, Gendis berlari dan memeluk neneknya, air matanya sudah mengalir deras. Gendis takut sangat takut kehilangan satu-satunya orang yang dia miliki didunia ini
Gerhana memanggil Pak Encup untuk menyiapkan mobil dan hendak membopong Nenek Tini, namun suara lemah Nenek Tini menghentikan gerakannya
"Nggak usah, Nak," lirihnya dengan napas tersengal, "sekarang tugas Nenek sudah selesai, Nenek titip Gendis, jaga dan lindungi dia dari orang-orang yang selalu ingin mencelakainya"
"Nenek jangan ngomong begitu, ayo kita kerumah sakit." Ajaknya
Nenek Tini menggeleng, ia menggenggam tangan cucunya erat "maafkan Nenek, Nduk."
Gendis menggeleng, Nenek Tini membaca dua kalimat syahadat dan menghembuskan napas terakhirnya dengan tersenyum
Gendis yang sedari tadi memeluk neneknya, tiba-tiba tak sadarkan diri, dengan cepat Gerhana membopong tubuh Gendis ke kamarnya. Para tetangga sibuk membalurkan minyak kayu putih keseluruh tubuh Gendis
'Jadi ini alasan Nenek menikahkan Gendis secepatnya?' Samuel membatin pilu
Gendis tersadar saat semua orang tengah sibuk mempersiapkan untuk pemakaman Nenek Tini. Dengan tubuh yang gemetaran ia bangkit dibantu beberapa tetangga untuk memandikan jenazah neneknya
Ia mulai menyiramkan air bunga ketubuh kurus neneknya, wanita yang sangat disayanginya kini telah terbujur kaku. Sesekali ia menyeka air mata yang bergantian untuk meluncur bebas
Ia gosok perlahan, tangan neneknya dengan terisak, "Ini adalah tangan pertama yang memelukku, yang menyuapiku, yang menimangku dengan penuh kasih dan cinta" Lirihnya dalam hati
Perlahan ia turun menggosok kaki neneknya dan dengan telaten ia membersihkan seluruh bagian tubuh wanita tua yang selalu mencintainya itu
"Dulu, nenek selalu memandikan Gendis, menyayangi Gendis dan selalu melindungi Gendis. Tapi kenapa nenek pergi disaar Gendis belum bisa membahagiakan nenek?" Batinnya menangis pilu
Setelah memandikan jenazah neneknya, Gendis mencoba menguatkan diri untuk ikut mengkafani sang nenek
"Kenapa nenek meninggalkan Hendis secepat ini? Disaat Gendis belum sempat untuk membelikan baju baru untuk nenek, kenapa nenek harus sudah memakai baju terakhir ini,"
Setelah dikafani, jenazah Nenek Tini kemudian disholatkan. Setelah itu dibawa ketempat peristirahatan terakhirnya
Saat semua warga sudah kembali kerumahnya, tinggalah Gendis, Samuel dan Gerhana yang masih berada didekat pusara Nenek Tiny, Gendis masih terus menangis sambil memeluk nisan neneknya
"Kamu yang sabar ya, Nda," Samuel berucap sambil memegang pundak Gendis lembut, "kamu pasti kuat." Imbuhnya
Gendis masih terus menangis, ia belum bisa mengikhlaskan neneknya pergi untuk selama-lamanya
__ADS_1
"Kenapa takdir sejam ini sama aku, El?" Lirih Gendis terisak
"Kenapa Allah mengambil semua yang kusayangi, bundaku, kakekku, dan sekarang nenek," lirihnya dengan air mata yang menganak sungai, "sekarang aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi, El." Lanjutnya menengok, memandang pemuda yang berjongkok disebelahnya
"Hust," El menyentuh bibir gendis dengan telunjuknya, "jangan ngomong begitu, Nda! Kamu masih punya aku, dan sekarang kamu punya Kak Gerhana yang akan selalu menjaga dan melindungi kamu." Entah kenapa mengingat Gerhana adalah suami dari gadis yang dicintainya membuat hatinya terasa perih
***
Tiga hari telah berlalu, yang artinya tiga hari sudah Nenek Tini tiada, dan tiga hari pula Gendis resmi menjadi seorang istri. Namun hubungan Gendis dan Gerhana tampak biasa saja, sesekali Gerhana mencoba menghibur Gendis yang tengah berduka
Tiga hari ini Gendis selalu saja melamun, ia masih belum bisa mengikhlaskan kepergian neneknya. Setiap malam Samuel datang untuk ikut membantu sebisanya saat acara tahlilan
Saat Gerhana sedang sibuk dengan laptop dipangkuan, tiba-tiba ponselnya bergetar tanda sebuah panggilan masuk. Ia meraih ponsel disampingnya dan menggeser icon hijau dilayar
"Halo!" Sapanya dingin
"Lo kapan balik sih, Ge?" Teriak seseorang diseberang sana, yang tak lain adalah Banyu, "Lo betah banget disana, apa udah kecantol cewek Malang?"
"Berisik!" Jawab Gerhana
"Inget deadline lah, Ge! Lo nggak kasian sama gue, gue pusing nggak bisa istirahat, Ge."
Setelah sambungan teleponnya terputus, Gerhana berjalan menghampiri Gendis yang masih belum tertidur. Gerhana duduk disebelahnya, tapi Gendis masih belum menyadari keberadaan suaminya
"Siap-siap, besok kita pulang." Ucap Gerhana
Gendis terlonjak kaget, "pulang kemana, ini adalah rumahku." Tulisnya
"Apa lo lupa, atau mencoba melupakan, 'Nyonya Gerhana'?" Ucapnya menekan kata diakhirnya
Gendis bergidik ngeri mendengar ucapan Gerhana, ia tidak menginginkan status itu. Lebih baik ia menjadi gadis miskin yang tinggal dikampung, dari pada menyandang gelar Nyonya Gerhana,
Ia takut jika Gerhana akan memperlakukannya seperti dahulu. Tapi ia tidak mungkin untuk melawan, ia tau betul tabiat pria disebelahnya itu. Dia bisa melakukan apapun sesuai keinginannya
Tanpa banyak bertanya, Gendis segera mengemasi bajunya dan milik Gerhana, setelah selesai Gendis merebahkan tubuhnya dikamar sang Nenek, ia rindu bahkan sangat rindu. Tak terasa buliran bening mulai berjatuhan tanpa diminta
Sedangkan Gerhana masih sibuk dengan laptopnya, hingga waktu menunjukkan pukul 12 malam Gerhana masih terus berkutat dengan laptopnya. Namun konsentrasinya buyar saat mendengar suara pecahan kaca dari dalam kamar
__ADS_1
Gerhana berlari menghampiri, dan betapa terkejutnya ia melihat Gendis memegang pecahan gelas ditangannya. Ia segera merebut pecahan gelas tersebut, karena tidak berhati-hati akhirnya malah melukai tangan Gerhana sendiri
"Apa yang kau lakukan Gendis?" Hardiknya
Gendis bingung, kenapa Gerhana membentaknya, apa kesalahan yang ia lakukan pikirnya. Pandangan mata Gendis teralih saat menatap darah yang mulai bercucuran dari telapak tangan Gerhana
Gendis mundur, ia begitu takut melihat darah yang terus menetes itu. Wajahnya seketika berubah pucat pasi dengan tubuh yang gemetaran
Gerhana mengernyit melihat mimik wajah Gendis yang berubah pias, ia semakin mendekat dan Gendis semakin mundur
Gendis menggelengkan kepalanya, sebagai tanda jangan mendekat, tapi Gerhana yang tak paham malah semakin mendekat
"Kenapa?" Tanyanya bingung
Gendis menunjuk tangan Gerhana yang berdarah, dan mengatupkan tangannya, Sedangkan Gerhana baru menyadari kalau tangannya terluka, segera ia kebelakang untuk membersihkan lukanya
Setelah itu ia berjalan ke kamar Gendis untuk tidur, ia dan Gendis tidur terpisah. Gerhana di kamar Gendis, sedangkan Gendis dikamar neneknya
Saat sudah didepan pintu kamar, Gerhana mengurungkan niatnya untuk masuk, ia berjalan kearah kamar Nenek Tini untuk melihat Gendis, dan ternyata Gendis belum juga terlelap
Ia masuk dan duduk disebelah Gendis, "Lo tadi kenapa mau bunuh diri?" tanya nya dingin
Gendis mengernyit bingung dengan pertanyaan Gerhana, ia segera mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu lalu menyerahkannya kepada Gerhana
"Maksud Tuan, apa? Saya tadi hendak minum lalu gelasnya terjatuh dan saya hendak memungutnya,"
'Jadi, gue udah salah sangka? Astaga Gerhana, mau ditaro dimana mukamu ini.' Gerhana membatin
"Terus kalau nggak mau bunuh diri, kenapa pas gue rebut tuh pecahan gelas, elo malah ketakutan?"
"Saya takut melihat banyak darah, Tuan" tulisnya
"Cepatlah tidur, jangan menangis terus. Besok siang kita harus pulang ke Jakarta." Ucapnya kemudian berlalu pergi
***
Jangan lupa tinggalkan jejak ya readers, biar Mawar tambah semangat up nya
__ADS_1
Dengan cara klik like, komen dan vote
Peluk cium via online untuk readers tercinta🤗😘