
Kamu tidak perlu membalas rasaku, cukup selalu berada disisiku dan jangan pernah mencoba untuk pergi ~ Gerhana Rafardhan Shakeel
Gerhana yang baru saja keluar dari ruang ganti terkejut karena melihat istrinya tengah menangis, ia segera mendekat dan menatap Gendis yang tengah terduduk sambil memeluk lututnya dengan tubuh bergetar
"Ada apa?" Tanya Gerhana bingung, "apa ada perkataanku yang menyakitimu?"
Gendis tak menjawab, ia malah semakin terisak. Gerhana langsung memeluk Gendis dan mengusap punggungnya lembut. Apakah semua wanita selalu menangis tanpa alasan begini pikirnya
"Apa karena kamu tidak bahagia jadi menangis seperti ini?" Gerhana bertanya setelah tangis istrinya mereda
Gendis menggeleng. Gerhana menyerahkan ponselnya agar Gendis bisa menulis sesuatu
"Aku tidak apa-apa." Tulis Gendis
Gerhana membuka kotak berwarna merah yang ia ambil dari dalam koper diruang ganti, dan memakaikan kalung berliontin permata ke leher istrinya
Gendis memandang kalung itu dengan penuh tanya, ia mengetik sesuatu dilayar ponsel sang suami dan memberikan kembali kepada siempunya, "Apa ini?"
"Ini adalah kalung turun temurun keluargaku, yang selalu diberikan kepada menantu perempuannya," Gerhana menjeda ucapannya, "Mama yang nenyimpannya dan ia berikan padaku untukmu, ini milik almarhumah Mommy." Sambungnya
"Tapi aku tak pantas menerima semua ini?" Tulis Gendis dengan mata berkaca-kaca, sungguh ia merasa tak pantas mendapatkan semua ini. Ia takut terlalu berharap namun akhirnya terlalu menyakitkan
"Kenapa?" Gerhana menatap Gendis intens, "Kamu adalah istriku, sudah seharusnya kamu memiliki itu." Tegasnya
Gendis diam dengan air mata yang siap ditumpahkan
"Jangan pernah tampilkan air mata kesedihan dihadapanku," Ujarnya dingin, "cukup air mata bahagia yang boleh menetes dari mata indahmu."
Gendis tersentuh dengan perlakuan Gerhana, mungkinkah hidupnya yang penuh air mata akan berubah penuh dengan kebahagiaan nantinya
"Gendis!" Panggil Gerhana
Gendis menatap suaminya
"Apakah kamu mau memulainya dari awal lagi denganku?"
Gendis tak mengerti maksud ucapan suaminya itu
"Aku ingin memperbaiki semuanya, dan kita mulai semuanya dari awal." Ucap Gerhana serius
"Kamu tidak perlu untuk membalas rasaku, cukup selalu berada disisiku dan jangan penah mencoba untuk pergi!"
"Jangan bercanda untuk urusan perasaan,," tulis Gendis
"Aku bahkan tidak suka bercanda," Tegas Gerhana, "apalagi untuk urusan masa depan"
Gendis masih terus menatap suaminya, untuk mencari kebohongan dari manik hitam tajam itu. Namun ia tak menemukannya
"Apa kamu bersedia untuk sehidup sesurga dengan seorang Gerhana, Nyonya?"
__ADS_1
Gendis mengangguk dengan bulir bening mulai berjatuhan
"Aku memang bukan pria romantis yang pandai menyenangkan hati wanitanya," ujar Gerhana sambil mengusap air mata istrinya dengan ibu jari, "aku hanyalah pria arogan dengan begitu banyak kekurangan."
"Dan aku hanyalah gadis miskin yang punya banyak kekurangan." Tulis Gendis
"Kekurangan bukanlah alasan untuk meninggalkan, tapi kekurangan itu untuk dilengkapi, agar menjadi sempurna"
***
Mulai malam ini dan seterusnya Gendis tidur bersama dengan suaminya, mereka akan sama-sama belajar untuk bisa menerima satu sama lain dan mengubur segala kenangan buruk yang pernah terjadi
Sepanjang malam Gerhana mendekap istrinya erat, sungguh kebahagiaan yang tak pernah ia duga sebelumnya. Pertemuan yang tidak terduga mulai dari menculik Gendis, menjadikannya tawanan, menyiksanya, lalu menikahinya dan menjauhinya namun sekarang terasa rindu bila jauh darinya
Perasaan apa yang dirasakan Gerhana, ia tak bisa menafsirkannya. Karena ini adalah kali pertama untuknya menyukai lawan jenis dan itu adalah istrinya sendiri
Gendis bangun lebih awal seperti biasanya, ia tersenyum mendapati sang suami masih tertidur sambil memeluk dirinya. Semua masih terasa seperti mimpi bagi Gendis, namun ia bersyukur karena benar adanya pelangi setelah hujan
Gendis membangunkan suaminya untuk diajak sholat subuh berjamaah, ia menggoyangkan perlahan pundak suaminya itu. Namun seperti biasa Gerhana saat tertidur akan sangat sulit sekali untuk membangunkanya
Gendis mengusap pipi suaminya lembut, namun malah membuat Gerhana semakin pulas. Gendis memberanikan diri untuk mencium singkat pipi suaminya, seperti adegan romantis di drakor yang akhir-akhir ini sering ia tonton
"Ternyata sekarang sudah mulai berani mencuri ciumanku," Ucap Gerhana parau
Seketika Gendis merasa seperti seorang yang sedang tertangkap basah saat mencuri ayam tetangga. Gendis tercengir menatap suaminya
"Ayo sholat berjamaah, bukankah kita akan mulai memperbaiki semuanya?" Tulis Gendis
"Sudah sangat lama sekali," Jawab Gerhana sendu, "aku melupakan sang pencipta, karena kemarahanku menuduh Ia yang telah mengambil orang tuaku!"
Gendis menyentuh pundak suaminya lembut, "kita akan sama-sama belajar lagi"
Gerhana bangkit dan mandi, setelah itu Gendis yang mandi. Mereka masih sholat sendiri-sendiri karena Gerhana masih banyak bacaan yang terlupakan olehnya
Setelah sholat subuh mereka berjalan-jalan mengelilingi taman, ingin rasanya Gendis membantu suaminya untuk bisa kembali kejalan Allah, namun saat ingin berbicara langsung masih teramat berat baginya
Sepanjang jalan Gerhana terus menggenggam jemari istrinya, sesekali dia bercerita tentang masa kecilnya yang membahagiakan
"Mau nyebrang, Mas, Mbak?" Cibir seseorang yang baru saja datang
"Ck dasar jomnes!" Gerhana berdecak, ya orang tersebut adalah Banyu yang kebetulan sedang hendak lari pagi tapi matanya malah ternoda oleh kemesraan Gerhana
"Dasar bucin!" Ucap Banyu sambil lalu
"Kamu mau lari pagi disekitar sini, Sayang?" ucapnya menengok sang istri
Gendis mengangguk, mereka kemudian kembali kedalam untuk berganti pakaian. Setelahnya mereka menyusul Banyu
***
__ADS_1
Dimeja makan, Gerhana terus saja memandangi sang istri yang tengah mengolesi roti dengan selai untuknya sarapan. Seakan tak bosan ia pandangi wajah ayu istrinya yang selalu tampil natural
'Tanpa make up aja udah cantik gini, gimana kalau dimakeover?' batin Gerhana
"Udah, Ge! Udah jangan lo pandangi terus, nggak akan kemana Gendis tuh." Lagi-lagi Banyu mencibir, entak ada apa dengan sipengganggu itu
"Sirik aja, lo." Balas Gerhana ketus, "lagian mau gue pandangi sampe tujuh purnama nggak kedip juga kagak berdosa"
"Percaya yang lagi fall in love" Banyu mencibir
Gerhana malas menanggapi sahabatnya itu, tidak akan ada habisnya jika terus ditanggapi. Gerhana menatap Gendis kemudian bertanya
"Apakah hari Leon akan datang, Sayang?"
"Uhuk uhuk uhuk," Banyu tersedak dan menyemburkan susu dari dalam mulutnya karena mendengar Gerhana memanggil Gendis 'sayang'
Gendis menyodorkan segelas air putih dan langsung ditenggak habis oleh Banyu
"Pelan-pelan dong, Nyu!"
"Dasar bucin!" Banyu malah kembali mencibir
Setelah sarapan mereka kembali ke kamar, karena ini adalah hari sabtu, jadi saat yang tepat untuk bermalas-malasan bagi mereka, kecuali Gendis yang harus tetap melukis
tepat pukul sembilan pagi, Leon tiba dirumah Gerhana. Dan seperti biasa ia akan langsung menunggu diruang lukis. Tak berapa lama Gerhana dan Gendis datang, Gerhana mengajak Leon untuk mengajari Gendis ditaman, agar tidak bosan alasannya
"Apakah istriku sudah ada kemajuan dalam hal melukis, Tuan?" Tanya Gerhana
"Tentu saja, Tuan," Leon tersenyum manis, "Nyonya termasuk orang yang cerdas dan mudah mengerti" lanjutnya sopan
"Bagus, lah!" Ucapnya dingin, "apakah anda bisa melukis kami berdua. Tuan?" sambungnya
"Dengan senang hati, Tuan"
Gendis melirik suaminya seolah menanyakan 'kenapa mesti melukis kita?'
"Apa kamu tidak ingin dirumah memajang lukisan kita, Sayang?" sebagai jawaban lirikan istrinya, "Dirumah kita bahkan belum ada satupun foto atau lukisan kita berdua."
Gendis hanya bisa pasrah menuruti keingin pria tampan disampingnya itu
Mereka berdiri ditaman, dengan senyum merekah dan saling berhadapan, Gerhana memegang tangan Gendis mesra
Leon pun mulai menggoreskan cat kedalam kanvas putih itu dengan lihainya
***
Jangan lupa tinggalkan jejak ya readers, dengan like komen dan vote. Biar Mawar tambah semangat up nya
Salam sayang dari Mawar, peluk cium via online🤗😘
__ADS_1