
Seminggu sudah Gendis di Jakarta dengan status sebagai 'Nyonya Gerhana'. Namun hubungannya dan Gerhana masih sama, kaku bak kanebo kering. Tidak seperti pengantin baru pada umumnya, mereka malah tidur terpisah dan seolah menghindari satu sama lain
Pagi ini Gerhana meminta Banyu untuk mencarikan guru privat lukis untuk Gendis, bukan tak ingin menguliahkan Gendis, tapi Gerhana khawatir jika ada musuh yang tau tentang status Gendis akan membahayakan jiwanya
Banyu membuat iklan diwebsite untuk mencari guru melukis terbaik, begitu banyak yang mencoba peruntungannya untuk menjadi guru lukis Gendis. Namun mereka semua ditolak mentah-mentah oleh Gerhana, karena kebanyakan yang melamar adalah wanita muda yang terlihat seperti wanita penggoda
"Lo gimana sih, Nyu. Masa udah seminggu masih belum ada yang cocok." Ujar Gerhana kesal
"La ini kesalahan kenapa dilimpahin ke gue? Kan elo yang nolak mereka semua," sahut Banyu sama kesalnya, "sampe heran deh gue, elo maunya yang gimana sih?"
"Gue mau yang bener-bener ahli dibidangnya, bukan modal tampang doang," Gerhana mulai membuka laptopnya, ia melirik Banyu sekilas, "good looking but no skill, buat apa?"
"Heran juga gue, kenapa yang ngelamar kok rata-rata cewek?" Banyu heran karena yang melamar kebanyakan wanita muda dengan pakaian super mini
"Ya gimana elo masang iklannya lah." Ujarnya tanpa menoleh
Banyu segera mengecek iklannya, dan ternyata ada kesalahan teknis yang membuat mereka salah paham. Mereka mengira bahwa Gerhana lah yang akan belajar melukis bukan Gendis
Lalu teman lama Banyu merekomdasikan seseorang yang memang ahli dibidangnya, dan Banyu menyetujui untuk orang tersebut datang ke kantor Gerhana
***
Keesokan harinya, seseorang yang direkomendasikan oleh teman Banyu datang ke kantor RHC milik Gerhana
Seorang pria tampan dengan lesung pipi telah duduk tenang dihadapan Gerhana dan Banyu,
"Siapa nama anda, Tuan?" tanya Banyu
"Alexander Leonidas, Tuan," Jawabnya seraya tersenyum, jika yang duduk dihadapannya adalah seorang wanita tentu akan meleleh melihat senyuman itu, "biasa mereka memanggil saya Leon."
Banyu mengangguk kemudian membuka lembar demi lembar CV Leon, kemudian ia menyerahkan kepada Gerhana
Leon adalah seorang dosen, disalah satu Universitas terfavorite di Jakarta dan salah satu lulusan terbaik di kampusnya dulu, ia seumuran dengan Gerhana
"Jadi dalam satu minggu, berapa kali pertemuan?" Tanya Gerhana dengan mode seperti biasa
"Dua kali, Tuan," Leon menjawab sopan, "karena saya juga mengajar di Universitas X"
Gerhana mengangguk, "jadi kapan anda sudah bisa mengajari istri saya melukis?"
Sontak pertanyaan Gerhana membuat Leon membelalakan matanya, 'bukannya Tuan muda sendiri yang akan belajar melukis?' Leon membatin
"Jadi begini Tuan Leon, yang akan belajar melukis adalah Nyonya Gendis, bukan Tuan Gerhana." Banyu menjelaskan
__ADS_1
Leon mengangguk paham
"Apakah anda bersedia, Tuan?" Tanya Banyu memastikan
"Saya bersedia, Tuan!" Jawabnya mantap
"Baiklah, kapan anda bisa mulai mengajar?" Banyu bertanya lagi, sedangkan Gerhana hanya menyimak
"Sabtu esok, Tuan," Jawab Leon, "Saya akan datang setiap hari selasa dan sabtu."
Banyu dan Gerhana mengangguk menyetujui
Setelah tercapai kesepakatan antara Gerhana dan Leon, Leon pamit untuk kembali kekampus
"Lo yakin mau dia buat jadi gurunya Gendis, Ge?" Tanya Banyu setelah Leon pergi.
Gerhana mengangguk, "dia punya kemampuan yang tak diragukan lagi, bukan?"
"Iya, bener," Banyu membenarkan, "tapi..... " Banyu tak melanjutkan kata-katanya
"Tapi apa?"
"Dia ganteng, Ge!"
"Bukan gitu, maksud gue, elo nggak takut Gendis terpesona dengan lesung pipinya?"
"Nggak, ganteng juga gue kemana-mana." Ungkapnya terlalu percaya diri
***
Sinar mentari pagi telah mengintip disela-sela jendela kamar Gendis, namun si empunya sudah sibuk kesana kemari untuk memasak bersama para juru masak didapur.
Beberapa jenis masakan telah terhidang rapi dimeja makan, Gendis naik ke kamar Gerhana untuk membangunkannya
Tugas Gendis masih sama seperti dulu, ia yang menyiapkan segala kebutuhan Gerhana dan juga membangunkan setiap pagi
Gendis masuk kedalam kamar Gerhana yang masih gelap, karena lampu yang selalu dimatikab saat tidur dan tirai tebal yang menghalangi sinar mentari saat akan masuk
Gendis menarik tirai tersebut, hingga membuat sinarnya masuk tepat menerpa wajah tampan yang sedang terlelap, namun sang empunya masih tak bergeming
Digoyangkannya perlahan lengan kekar Gerhana, namun Gerhana masih tak bergeming. Ingin sekali Gendis meneriakinya namun apalah daya ia tak bisa. Saat akan menggoyankan pundaknya kembali, tiba-tiba
Grep
__ADS_1
Gendis jatuh tepat diatas tubuh Gerhana, wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Gendis terjatuh karena ditarik oleh Gerhana
Seakan waktu berhenti untuk berputar, Gendis menatap mahakarya Tuhan yang luar biasa didepan matanya, sedangkan Gerhana semakin mengeratkan pelukannya dengan mata terpejam
Dengan cepat Gerhana membalikan keadaan, saat ini ia mengungkung tubuh istrinya, masih dengan mata terpejam ia semakin mendekatkan wajahnya dan dengan sigap mulai mel*mat bibir ranum yang selalu mengganggu dipikirannya
Perlahan tapi pasti, tangan Gerhana dengan nakalnya mulai bergerilya kesana kemari entah apa yang dicari. Gerhana membuka matanya menatap manik indah milik istrinya. Sedang Gendis hanya diam mematung
Mau memberontak ia takut, lagi pula Gerhana adalah suaminya, Bukan kah sudah sewajarnya Gerhana melakukan itu padanya? Gendis masih sadar akan status yang disandangnya. Akan sangat berdosa istri yang tidak mau melayani suaminya
Gerhana semakin menggila saat Gendis memejamkan matanya, pasrah menikmati setiap permainan sang suami. Gerhana mulai melepaskan satu persatu kancing kemeja yang dikenakan istrinya, hingga menampilkan pemandangan yang bisa memporak porandakan keimanannya yang hanya seujung kuku
Ci*man mulai turun keleher putih Gendis dan memberikan beberapa tanda kepemilikan disana, darah gerhana seolah mendidih, dengan rakus ia mulai menyesap sesuatu yang kenyal dan lembut milik istrinya
Gendis pun tak mau tinggal diam, ia membuka satu persatu kancing piyama yang dikenakan suaminya itu. Permainan semakin panas karena Gendis sudah bisa mulai mengimbangi Gerhana, dan saat Gerhana akan menjebol gawang, tiba-tiba
...----------------...
"Mau sampe kapan kalian pandang-pandangan? Kalian pikir ini film India, yang lagi adegan romantis sang cowok megang tangan ceweknya?" Cibir Banyu yang tiba-tiba masuk kedalam kamar Gerhana tanpa mengetuk pintu
Gerhana seperti orang yang tidak waras, ia melihat tangannya yang memegang lengan Gendis, lalu ia melihat kebawah, bajunya masih lengkap. Ia pandang Gendis, gadis itu pun masih berpakaian lengkap
'jadi, itu cuma imajinasi gue?' Batin Gerhana
Gerhana merutuki pikiran liarnya, sungguh pikiran yang tidak tau diri pikirnya. Sedang hubungannya dan Gendis tidaklah seperti pasangan pada umumnya
"Udah, woy!" Teriak Banyu kesal, "Leon udah nunggu dibawah dari tadi, buruan." Lanjunya kemudian meninggalkan kamar Gerhana
"Ganti bajumu, aku akan mandi." Ucap Gerhana kemudian berjalan ke kamar mandi, "kita akan menemui Leon jadi berpakaianlah yang sopan"
'Apakah aku pernah berpakaian yang tidak sopan?' Gendis membatin
Tak mau banyak bertanya, Gendis pun turun ke kamarnya untuk berganti pakaian. Ia dibantu Mela untuk memilih gaun yang cocok dan mela sedikit memoleskan make up diwajah ayu Gendis
***
Gerhana : "Mawar, elo tega banget sih! Lagi mau ***-*** malah lo skip!"
Mawar : "makanya elo itu jangan kebanyakan halu deh, bang! Gini kan jadinya, cuma megang tangan aja mikirnya udah sampe kutub utara"
Gerhana : @$"*"''"
Jangan lupa selalu tinggalkan jejak ya gaes
__ADS_1
Salam sayang dari Mawar, peluk cium via online🤗😘