Tawanan

Tawanan
Bab 30


__ADS_3

Detik waktu berganti menit, begitu seterusnya waktu berjalan. Namun pernikahan Gerhana dan Gendis masih sama seperti sedia kala, entah apa yang membuat mereka selalu menghindar satu sama lain


Pagi ini Gerhana sudah bersiap akan keluar negeri bersama dengan Banyu, sejak semalam Gendis telah menyiapkan segala sesuatu yang akan dibawa oleh Gerhana


"Ingat apa tugas kalian selama kita pergi?" Banyu bertanya kepada para pengawal dan pelayan yang sudah berjejer rapi


"Kami akan menjaga keamanan Nyonya!" Jawab Exel dan Keke


"Satu goresan saja dikulit mulus Nyonya, kalian yang akan menanggung akibatnya!" Banyu mengancam


Pengawal dan pelayan bergidik ngeri mendapat ancaman itu, masih ingat betul mereka ketika Gendis kabur dan mereka semua yang menanggung akibatnya


Gerhana masih didalam kamar, ia ingin berpamitan dengan istrinya tapi ia bingung bagaimana cara memulainya, ia berjalan mendekati Gendis dan berdiri dihadapan gadis itu


"Gue mau ke England tiga hari, lo jangan pernah mencoba untuk kabur," Gerhana menatap manik hitam istrinya "dan jika Samuel akan berkunjung, beritahu gue!"


Gendis mengangguk patuh dan tersenyum


Entah selalu ada desiran aneh ketika Gerhana menatap istrinya, ia selalu tak kuasa menahan diri saat bibir ranum itu tersenyum kearahnya. Ia selalu berusaha keras agar tidak memangsa kucing kecilnya itu


"Lo mau gue beliin oleh-oleh apa?" Gerhana bertanya dengan dinginnya


Gendis menggeleng lalu mengetik sesuatu dilayar ponselnya dan memberikannya kepada Gerhana, "Tuan pulang dengan selamat, itu saja sudah lebih dari cukup bagi saya." Tulisnya


Gerhana tersenyum, dan untuk pertama kalinya bagi Gendis melihat sang suami tersenyum kepadanya, 'Sempurna, seandainya dia bisa tersenyum setiap hari mungkin rumah tangga kami tak semenakutkan sekarang' Batin Gendis


"Gue berangkat!" Ucapnya, namun masih berdiri dihadapan istrinya tanpa melangkah sekalipun, "mulai sekarang jangan panggil gue 'Tuan'! Lo ngerti?"


Gendis mengernyit, "Lantas saya harus memanggil apa? Juragan, bos, kanjeng, atau baginda?" Tulis Gendis


Sontak Gerhana tertawa membaca tulisan Gendis, dasar gadis lugu pikirnya. Dan masih untuk pertama kalinya bagi Gendis melihat seorang Gerhana Rafardhan Shakeel tertawa


"Panggil gue Gerhana, sama seperti yang lainnya." Tukasnya setelah tawanya mereda


"Tapi anda lebih tua dari saya, sungguh tak sopan jika memanggil langsung nama tanpa embel-embel," balas Gendis dilayar ponselnya


"Lalu?" Gerhana mengernyit


"Bagaimana kalau Kak Ge?"


"Tidak, nanti orang salah mendengar, mereka pikir KG alias kilo gram!"


"Kalau Mas, Mas Ge?"

__ADS_1


"Seperti mas-mas tukang ojeg gue?" Balas Gerhana sewot


"Kalau Abang?" Gendis mencoba bernegosiasi


"Kayak abang-abang penjual bakso!"


Gendis diam, apa yang sebenarnya diinginkan pria dihadapannya itu. Sudah berpamitan tapi tak kunjung melangkah dan malah meributkan untuk nama panggilan, bukankah selama ini dia senang-senang saja dipanggil 'Tuan' pikir Gendis


"Panggil gue sayang!" ucapnya menekan kata 'sayang'. Kemudian ia mengecup puncak kepala Gendis dan berlalu pergi


Gendis mematung, apa yang terjadi pikirnya, apa dia kerasukan jin baik pikirnya. Gendis menyentuh puncak kepalanya, masih ada bekas bibir Gerhana menempel disana


***


Lebih dari enam belas jam waktu yang ditempuh Gerhana dan banyu untuk sampai ke England. Gerhana tiba di England pukul enam petang dan satu dini hari waktu Indonesia


Gerhana menuju rumahnya yang di England dan segera merebahkan tubuhnya diranjang yang begitu empuk, ia pandangi layar ponselnya yang menunjukkan poto sang istri yang sedang melukis


Ia tersenyum kala melihat poto yang ia ambil secara sembunyi-sembunyi itu, entah perasaan apa yang ia rasakan saat ini, masih terlalu abu-abu menurutnya


Ia lalu mengirim pesan untuk istrinya


Gerhana R.S.R


Sudah tidur?


Ia lalu mengirimkan pesan itu untuk istrinya, ia ingin mencoba memperbaiki hubungannya dengan Gendis. Dimulai dari mengganti elo-gue menjadi aku-kamu


Seperti yang dikatakan Banyu tempo hari, ia harus belajar menerima Gendis dan mulai membuat Gendis nyaman dengannya


Banyu mengajak Gerhana untuk makan malam, setelahnya mereka beristirahat karena esok mereka sudah disibukkan dengan begitu banyak pekerjaan


***


Setelah selesai sholat subuh, Gendis membuka ponselnya dan betapa ia terkejut mendapat pesan dari sang suami


Gendis tersenyum menatap layar ponselnya yang masih diroom chat Gerhana. Ia lalu mengetik sesuatu dan dikirimkan ke suaminya itu


Gendis A.M


Syukurlah kalau sudah sampai, hati-hati disana


Gendis segera bersiap untuk membantu para juru masak menyiapkan hidangan untuknya.

__ADS_1


Setibanya didapur ia mengetik sesuatu dan memberikannya kepada juru masak yang tak lain adalah keponakan Bibi Keke, "Tidak perlu membuat banyak masakan untukku, saat tak ada Tuan Muda, aku bisa menyiapkan sarapan untukku sendiri,"


"Jangan seperti itu, Nyonya," Ucap sang juru masak yang bernama Tegar, "Itu sudah menjadi tugas kami untuk melayani Nyonya, Tuan Muda akan sangat marah saat tau kami tidak memperlakukan Nyonya dengan baik."


"Baiklah, aku ingin sarapan nasi goreng seafood. Apakah boleh? " Gendis mengalah, ia tak mau semua orang terkena masalah hanya karena dirinya,


"Tentu saja, Nyonya!" ucap Tegar sopan


Gendis membantu memotong udang dan cumi, sedangkan Mela yang selalu ikut dengan Gendis kemanapun, membantu untuk memotong bakso


Setelah sarapan Gendis duduk diruangan melukisnya, menunggu Leon datang. Tak berapa lama Leon datang dan mulai mengajari Gendis berbagai macam tehnik melukis


Leon berdecak kagum karena Gendis bisa menangkap apa yang ia ajarkan lebih cepat dari dia saat belajar dulu. Awalnya Leon berfikir pasti akan sangat menyulitkan saat berhubungan dengan orang kaya raya, apalagi suami Gendis terkenal arogan dan suka bertindak semaunya


Tapi dugaanya salah besar, Gendis yang ia fikir sama seperti Nyonya pada umumnya yang begitu sombong, ternyata adalah seorang yang rendah hati dan pemalu. Sedangkan Gerhana, ternyata tidak sama dengan rumor yang beredar tentangnya


Ia mulai berfikir bahwa jangan menilai seseorang itu berdasarkan katanya, karena 'katanya' itu banyak yang sudah disensor, dengan dipotong sisi baiknya dan dilebihkan sisi buruknya


Setelah waktu menunjukkan pukul setengah dua belas, Leon berpamitan untuk langsung pergi ke kampus untuk mengajar


Karena lelah Gendis memutuskan untuk kembali ke kamarnya, dan merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Tak terasa kantuk menyerang dan ia terlelap begitu saja


***


Gerhana membuka matanya saat waktu menunjukkan pukul enam pagi, ia membuka layar ponselnya dan senyum merekah terbit dari wajah tampannya, setelah mendapat pesan balasan dari Gendis. Ia segera mengetik balasan untuk istrinya


Gerhana R.S.R


Iya, kamu juga hati-hati disana, dan jangan coba-coba untuk kabur atau aku akan memberikan hukuman yang tidak pernah terbayangkan olehmu


Gerhana tersenyum saat memikirkan hukuman yang akan ia berikan untuk istrinya itu. Ia segera bangkit dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri


Setelah sarapan ia dan Banyu segera menuju Gedung yang menjadi kantornya disana, dan memulai aktifitasnya hingga sore hari tanpa sempat untuk mengecek ponsel masing-masing


***


Halo gaes! Gimana kabar? Masih selalu dilimpahkan kesehatan kan?


Jangan lupa selalu jaga kesehatan, dengan banyak konsumsi sayur dan buah, serta kurangi begadang jika tidak ada gunanya (Ngebacanya jangan sambil nyanyi loh ya)


Pokoknya jangan kayak Mawar yang paling demen begadang dan siang waktu bekerja didunia nyata selalu mengantuk he he he


Jangan lupa selalu dukung Gendis dengan cara tinggalkan jejak ya gaes

__ADS_1


Salam sayang dari Mawar, peluk cium via online🤗😘


So happy for u selamat malam selasa🤗


__ADS_2