Tawanan

Tawanan
Bab 53


__ADS_3

Terkadang untuk membunuh seseorang itu tidak perlu mengotori tangan kita


Cukup hancurkan kepercayaan dirinya serta mentalnya, maka ia akan lebih hancur dari pada kematian itu sendiri


Setelah keadaan Teguh membaik, Mahen segera terbang ke Yogyakarta hendak menemui istrinya dan menjelaskan semuanya. Namun ternyata Anggi dan keluarganya telah pindah rumah


Mahen menanyakan kepada satu-persatu tetangga Anggi perihal keberadaan Anggi sekarang, tapi jawaban mereka sama, tidak ada yang tau Anggi berserta keluarganya pindah kemana


Dengan tak tentu arah Mahen terus mencari keberadaan istrinya, ia membayar beberapa orang untuk mencari keberadaan Anggi dan keluarganya, tapi tetap tak ada hasil yang menunjukkan titik terang keberadaan istrinya itu


Ia semakin frustasi karena hingga beberapa bulan tetap tak ada kabar baik yang menunjukkan orang suruhannya telah bertemu Anggi


***


Sementara Dian sudah menyusun rencana untuk melenyapkan Baratha beserta istrinya. Entah setan apa yang telah merasukinya hingga ia tega melakukan semua itu


Ia sengaja mengambil dompet Guntoro untuk menjebaknya, ia bertemu Guntoro kala baru saja diusir oleh kakaknya. Guntoro hendak menolongnya, karena bagaimana pun Dian adalah adik dari sahabatnya, namun bagaikan air susu yang dibalas air tuba, kebaikan Guntoro malah akan berbuah jadi bencana untuknya


Dian berpura-pura menemui kakaknya untuk meminta maaf, sang kakak yang menganggap jika hukuman yang ia berikan untuk adiknya telah membuahkan hasil pun tak menaruh curiga sedikitpun dengan gerak gerik adiknya itu


Dian mengajak Baratha dan Sekar untuk makan malam disebuah restauran yang terletak dipinggiran kota, saat dalam perjalanan dengan keji ia menembak kepala kakaknya dari belakang, kemudian ia juga menembak istrinya


Setelah kakaknya tiada ia membawa mereka kesebuah hutan yang lumayan jauh dari jangkauan orang-orang, ia dengan teganya membuang jasad kakak dan kakak iparnya kejurang lalu meninggalkan dompet Guntoro disekitar lokasi kejadian


Setelah memastikan semua aman ia segera pergi dengan membawa mobil sang kakak


Saat jasad Baratha ditemukan ia dengan liciknya berpura-pura bersedih, ia memberikan keterangan bahwa ia tidak tinggal serumah dengan kakaknya lagi


Polisi yang memeriksa lokasi kejadian penemuan mayat pengusaha sukses dan istrinya menemukan dompet yang berisi identitas Guntoro. Mereka lalu memanggil Guntoro untuk dimintqi keterangan


Guntoro yang pada dasarnya tidak bersalah pun akhirnya dibebasakan. Membuat Dian merasa khawatir jika kejahatannya akan terendus pihak kepolisian


Dian pergi keluar negeri untuk menghilangkan jejak sementara waktu sampai situasi mereda, Meninggalkan Gerhana kecil seorang diri. Hingga akhirnya Gerhana diurus oleh Hendra dan Henny

__ADS_1


***


Sejak pertemuannya dengan Dian, Anggi kini berubah menjadi gadis yang pemurung, tak ada Anggi yang hangat dan ceria seperti dulu, yang tersisa hanyalah Anggi yang pendiam dan begitu tertutup


Sesekali ia tertawa sendiri, menertawakan nasibnya yang begitu ironis, kadang ia tiba-tiba menangis tersedu kala mengingat suaminya


Sejak pertemuannya dengan Dian, orang tua Anggi membawa putrinya pindah ke Surabaya. Mereka hidup bertiga, orang tuanya sangat prihatin dengan keadaan putri mereka yang menjadi depresi


Perutnya yang semakin membesar namun tak membuat semangat Anggi kian kembali, tak ada lagi cahaya kehidupan dalam diri Anggi, yang ada hanyalah tatapan kosong penuh luka


Ancaman demi ancaman yang ia terima, membuatnya semakin frustasi, hingga diusia kehamilan tujuh bulan, orang tuanya kembali membawa Anggi pindah ke Malang untuk menghindari wanita iblis itu


Setelah pindah di Malang, kondisi Anggi kian memprihatinkan, ia selalu saja melamun dan termenung, tak ada lagi senyum menawan yang ia pancarkan, hanya tersisa luka dan kesedihan yang seolah tiada ujungnya


Hingga tepat pada tanggal 14 april 1999, Anggi melahirkan putri kecilnya dengan bantuan bidan setempat. kondisi Anggi kian memburuk, pendarahan hebat yang ia alami serta preeklamsia* selama masa kehamilan membuatnya harus kehilangan nyawa sebelum bisa menyentuh putri kecilnya


*(PreeklamsiaĀ adalah gangguan kehamilan yang ditandai oleh tekanan darah tinggi dan kandungan protein yang tinggi dalam urine. Kondisi ini dapat membahayakan organ-organ lainnya, seperti ginjal dan hati)


Hari yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan itu berubah menjadi tangis yang memilukan, bayi kecil yang belum sempat tersentuh halus lembut belaian ibunya itu diberi nama Gendis Alamanda Maheswari, sesuai dengan keinginan mendiang Bundanya


***


Gendis tumbuh menjadi balita yang ramah dan periang, namun semua berubah ketika seorang wanita muda menemuinya ketika ia sedang bermain dihalaman rumahnya


"Halo Cantik!" Sapa wanita tersebut dengan ramah


"Alo Ante." Jawab Gendis dengan logat khas anak balita


"Kamu putrinya Anggi ya?" Wanita tersebut bertanya dengan menatap manik hitam Gendis


Gendis mengangguk, ia tahu nama Bundanya karena neneknya yang selalu menceritakan betapa cantik dan baik bundanya itu


"Sayang sekali ya," ucapnya dengan wajah sedih yang dibuat-buat, "dia harus meninggal diusia yang masih sangat muda karena melahirkanmu!" Lanjutnya menyeringai

__ADS_1


Gendis kecil hanya diam


"Seandainya kamu tidak lahir tentu dia masih hidup bahagia sampai sekarang!" ujarnya tersenyum licik, "masih kecil saja sudah menjadi pembunuh, bagaimana nanti kalau sudah besar!" lanjutnya mencibir, kemudian berlalu pergi


Meninggalkan Gendis yang hanya diam terpaku, pikirannya yang masih bocah dipaksa untuk memikirkan hal seberat itu


Gendis menangis tersedu meratapi nasibnya, mulai dari hari itu ia membenci suaranya, ia benci semua yang ada pada dirinya, hingga ia menjadi gadis kecil yang tidak pernah berbicara kepada siapapun kecuali nenek dan kakeknya


Luka batin yang ditorehkan wanita iblis itu terus saja menjadi momok yang selalu menghantui pikiran Gendis


Wanita iblis yang tak lain adalah Merry Diana atau akrab disapa Dian itu, sengaja menghancurkan mental Gendis untuk membalaskan sakit hatinya kepada orang tua Gendis


Sedangkan Mahen masih tak menyerah untuk mencari istrinya, ia terus saja mengerahkan orang-orang suruhannya agar bisa segera menemukan belahan jiwanya


Flashback Off


Merry tertawa setelah menceritakan semua kejahatannya kepada keponakannya itu. Sedangkan Gerhana sudah mengepalkan tangannya, dadanya terasa begitu nyeri dengan penderitaan istrinya


Sejak masih dalam kandungan hingga saat ini, Merry masih tak berhenti mengganggu Gendis. Gadis kecil yang tak tau apa-apa harus menjadi korban kekejaman wanita iblis bernama Merry


Saat Gerhana berjalan mendekati Merry, tiba-tiba Gendis berlari dan memeluk Gerhana. Dari belakang Gendis sudah ada seorang pria tinghi besar sudah siap dengan pistolnya untuk menembak Gendis


Dengan sigap Gerhana memeluk istrinya dan membalikan keadaan agar biar ialah yang tertembak


Door Dor Dor


****


Mawar nulis ini sambil nangis gaes, kasian bener dah hidup Gendis


Kok ada ya bentukan manusia seperti Merry ini, berasa pengen nyentil ginjalnya deh


Jangan lupakan jejak ya Gaes

__ADS_1


Salam sayang untuk kalian readers tercinta, peluk cium via onlinešŸ¤—šŸ˜˜


__ADS_2