Tawanan

Tawanan
Bab 43


__ADS_3

Suara gemericik air dari kolam ikan, hijau rerumputan yang sangat terawat serta wewangian bunga-bunga yang sedang bermekaran, cicit burung yang saling bersahut-sahutan, teramat syahdu untuk dinikmati kala pagi menyapa


Gendis sudah duduk ditaman, jemarinya dengan lihai meliuk-liukan kuas diatas kanvas, menghasilkan coretan indah yang menakjubkan


Tiba-tiba dua tangan kokoh melingkar dipinggangnya yang ramping, dari aroma maskulinnya pun Gendis sudah tau kalau itu adalah sauminya, Gendis menengok dan bibirnya menyentuh pipi mulus yang bersandar dibahunya


"Apakah ini Bunda, Sayang?" tanya Gerhana seraya memandang hasil coretan istrinya


Gendis mengangguk seraya tersenyum


"Sangat cantik, sama seperti Nyonya Gerhana!" ucapnya dengan memandang Gendis dan lukisan yang ada didepannya bergantian


"Apakah suamiku sekarang ada kelas belajar menggombal?" ujarnya seraya mengusap lembut pipi sang suami yang bersandar dibahunya


"Ini kenyataan Nyonya, tidak ada maksud menggombal." jawabnya sambil memejamkan mata menikmati sentuhan lembut jemari wanitanya


Gendis tersenyum menanggapi ucapan suaminya, ia sungguh tidak menyangka akan bertemu dengan Gerhana. Walaupun pertemuan mereka secara tidak baik, tapi ia bersyukur karena saat ini dia merasa sangat dicintai oleh suaminya itu


Mungkin inilah yang disebut pelangi setelah hujan, dari sekian banyak kesakitan dan kehilangan, Allah hadirkan orang-orang yang tulus dan menyayanginya


Pria yang dulu begitu Gendis takuti dan selalu ingin ia hindari, kini menjelma bagaikan malaikat tanpa sayap yang selalu berusaha untuk selalu membahagiakannya dan selalu ia rindukan kala tidak berjumpa walau hanya hitungan jam


Apakah Gendis telah jatuh cinta dengan suaminya? Entahlah Gendis sendiri masih meragukan perasaannya, tapi ia berjanji untuk menerima dan belajar untuk mencintai suaminya


"Sayang!" Panghil Gendis


Gerhana menengok menatap manik teduh istrinya


"Bolehkah aku memasak?" tanya Gendis sedikit ragu


"Tidak," jawab Gerhana santai, "nanti tanganmu yang halus ini akan berubah kasar, dan jika kulit mulusmu ini terkena cipratan minyak panas bagaimana?"


"Apakah suamiku yang kaya raya bagaikan sultan ini sudah jatuh miskin sekarang?" balasnya lembut, "sehingga tidak mampu membayar perawatan untuk membuat kulit Nyonya Gerhana ini menjadi lembut kembali?"


"Ada banyak juru masak dan pelayan, untuk apa Nyonya Gerhana repot-repot mengerjakan tugas memasak sendiri?" ucapnya dan semakin mengeratkan pelukannya, "lebih baik melayani Tuan Muda, dari pada repot memasak." lanjutnya berbisik


"Aku ingin masak masakan kampung, aku rindu masakan Nenek!" ucapnya sendu


Gerhana yang tak tega melihat mimik sendu istrinya, akhirnya dengan sangat terpaksa mengizinkan Nyonya memasak. Dengan syarat ia ikut membantu


Mereka lalu beranjak ke dapur untuk memasak, para pelayan dan juru masak benar-benar dibuat terkejut dengan kehadiran Tuan Mudanya kedapur, seumur-umur baru kali ini Gerhana menginjakan kakinya masuk kedapur. Sungguh kejadian luar biasa yang perlu diabadikan pikir mereka


Gendis telah sibuk menyiapkan berbagai bumbu dibantu oleh sang juru masak, sedangkan Gerhana hanya diam menonton istrinya yang bergerak lincah kesana kemari, walau hanya memakai kaos oblong dan celana kolor tapi tak mengurangi kecantikan Gendis sedikitpun


"Sayang, bisakah kau duduk saja disitu!" Pinta Gendis menunjuk kursi dan meja yang ada didekat dapur

__ADS_1


"Kenapa?" tanyanya bingung


"Kau menakuti mereka, Sayang?" bisiknya


Padahal sedari tadi Gerhana hanya berdiri menonton tapi kenapa bisa menakuti mereka pikirnya. Akhirnya ia memiluh untuk menuruti Nyonya, ia mengambil laptopnya terlebih dahulu kemudian mulai berkutat dengan pekerjaannya dan sesekali melihat istri kecilnya


"Apakah Tuan Muda kita sudah bangkrut, sehingga membiarkan istri cantiknya yang memasak sendiri!"


Fokus Gerhana teralihkan oleh seseorang dibelakangnya, ia menengok dan menatap tajam siempunya suara, "Gue masih mampu buat bayar ratusan juru masak sekali pun!" ketusnya


"Ternyata indah banget ya ngeliatin bini lagi masak!" ucap Harris dan dihadiahi lirikan tajam dari Gerhana


Harris, Royyan, dan Micko seperti biasa akan berkunjung kerumah sahabatnya kala hari minggu, mereka berjalan mendekat dan duduk dibangku sebelah Gerhana


"Ngapain kalian disini, sana pergi kalian sama Banyu aja!" Gerhana mengusir sahabat-sahabatnya


"Aelah lo pelit bener dah, kita kan cuma mau ngeliat keahlian Nyonya Muda!" ucap Micko


"Istri gue bukan tontonan!" Ketusnya


Banyu yang sedari tadi didalam kamar, tiba-tiba muncul dan ikut duduk diantara mereka, mereka mengobrolkan hal-hal unfaedah misalnya tentang jodoh yang belum kelihatan hilalnya, cinta yang terkadang membingungkan, bagaimana cara memikat seorang gadis dan banyak hal-hal unfaedah lainnya


Gendis yang telah selesai memasak kemudian melepas apron yang dikenakannya, ia berjalan mendekati suaminya dan sedikit terkejut karena melihat jajaran pria tampan dan mapan yang berkunjung ke kediamannya


"Alhamdulillah baik," jawabnya dengan senyuman


"Kebetulan sekali kalian disini, aku memasak banyak hari ini," ujar Gendis


"Wah sepertinya memang hari ini keberuntungan kita karena akan makan siang masakan Nyonya Muda." Harris menimpali


Gendis mengajak mereka semua untuk makan bersama, mereka melihat beraneka ragam masakan telah tersaji di meja makan. Mereka segera mengambil tempat duduk masing-masing


Gendis mempersilahkan mereka untuk mengambil makanannya, sedangkan ia sibuk mengambilkan nasi beserta lauk pauk untuk suaminya


Semua orang tengah menikmati masakan Gendis, sedangkan Gerhana hanya menatapnya tanpa menyendok sedikitpun


"Apa kamu tidak suka masakanku, Sayang?" tanya Gendis seraya menatap makanan suaminya yang belum disentuh


"Aku ingin makan disuapi, tapi tidak pakai tangan atau sendok," bisiknya


"Maksudnya?" Gendis mengernyitkan dahi


"Langsung dari bibirmu!" jawabnya berbisik dan langsung mendapat cubitan keras di pingangnya


Gendis mendengkus kesal dengan kejahilan suaminya, ada-ada saja pikirnya. Ia pun mengambil alih piring suaminya dan mulai menyuapi dengan tangannya

__ADS_1


Gerhana dengan senang hati menerima suapan demi suapan dari istrinya itu, ia sengaja pamer keromantisan didepan sahabat-sahabatnya agar jiwa jomblo mereka meronta-ronta


Micko, Banyu, dan Harris melirik tajam Gerhana, berbeda dengan respon Royyan yang masih tetap santai menikmati hidangan dihadapannya


***


Di sebuah ruang kerja dengan interior yang elegan dan mewah, duduk seorang pria tampan yang berusia 42 tahun disinggah sananya, dengan beberapa orang pria berjaket kulit hitam dan memakai topi tengah duduk dihadapannya


Pria tersebut menatap tajam mereka, "bagaimana hasilnya?" tanyanya dingin


"Kami sudah mencari keseluruh penjuru negeri, bahkan sampai mengerahkan rekan-rekan kami yang ada diluar negeri namun hingga saat ini belum menemukan titik terang keberadaannya." Jawab salah satu dari mereka


Pria tersebut menghela napas kasar


"Informasi yang kami dapat dari salah seorang tetangga yang mau membuka mulut, Nyonya pindah dalam keadaan mengandung tujuh bulan, Tuan." Sahut salah seorang pria bertopi


Pria itu semakin gusar mendengar jawaban dari anak buahnya, dadanya terasa begitu sesak seakan dihantam bongkahan batu yang begitu besar


"Segera temukan mereka!" titahnya


Mereka mangangguk patuh kemudian meninggalkan ruangan tersebut dan segera mengerjakan tugas yang diembannya


Pria tersebut menatap nanar foto seorang wanita cantik yang mengenakan kebaya berwarna maroon dengan seorang pria berpeci


"Kemana lagi aku harus mencarimu, Sayang?" lirihnya


"Apakah kau tak merindukan aku?"


"Sudah sembilan belas tahun aku mencarimu, apa yang membuatmu selalu bersembunyi dan menghindar dariku?" dadanya terasa begitu sesak, ia usap lembut foto tersebut dengan tersenyum getir


"Apakah benar yang mereka katakan, jika kita mempunyai anak?" dia terus berbicara sendiri


"Pulanglah, aku sangat merindukanmu dan buah hati kita!" netra teduhnya mulai berembun dan siap menitikkannya


***


لكم دنكم وليدين


(Bagiku agamaku dan bagimu agamamu)


Rayakanlah tahun barumu dengan suka cita seperti aku merayakan hari rayaku penuh kemenangan


Jangan lupa tinggalkan jejak ya readers, salam sayang dari Mawar si author amatiran


Peluk cium via online🤗😘

__ADS_1


__ADS_2