Tawanan

Tawanan
Bab 63


__ADS_3

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?” (ar-Rahman: 13).


Gerhana sejak semalam merasa sangat gugup, walaupun ini bukanlah hal yang pertama, namun entah mengapa ia lebih gugup dari pada waktu itu, ia berulang kali berdo'a agar jangan sampai salah saat membaca ijab qabulnya nanti


Ia berulang kali mondar mandir didepan cermin agar menghilangkan rasa gugupnya serta untuk melihat penampilannya yang harus sempurna, sedangkan Gendis masih diruang ganti untuk di make up oleh Ricko dan Yolanda


Gerhana sudah siap dengan setelan jas berwarna putih tulang, yang semakin membuatnya terlihat sangat tampan dan berkarisma. Sedangkan Gendis memakai kebaya berwarna senada dengan suaminya, sanggul sudah tertata rapi dikepalanya ditambah riasan tipis yang membuatnya tampak natural namun tetap terlihat anggun dan elegan


Gerhana memandangi istrinya dengan tatapan kagum dan rasa bersyukur karena memiliki istri berhati malaikat dan berwajah bidadari seperti Gendis. Ia berjalan mendekati istrinya, namun langkahnya terhenti karena mendengar suara Banyu


"Nggak usah pandang-pandangan terus! Kayak nggak pernah liat aja!" Cibir Banyu yang berdiri diambang pintu sambil bersedekap, "udah buruan, semua udah pada nunggu."


Gerhana mengapit tangan istrinya saat menuruni tangga, sedangkan Ricko dan Yolanda berjalan dibelakang mereka. Semua mata terpukau menatap pengantin wanita yang sangat cantik, wajah ayunya sangat cocok dengan riasan natural yang diberikan Yolanda dan Ricko


"Cantik bener keponakan gue," Ucap Royyan menatap Gendis


"Beruntung banget Gerhana dapet bidadari kayak Gendis," timpal Micko dengan tatapan kagum


"Gue juga mau donk di jodohin sama cewek secantik Gendis." Sahut Harris


"Apa kalian sudah bosan hidup mengagumi istri Tuan Muda?" Ucap Banyu dingin


"Ah elo, Nyu! Pasti dalam hati elo juga pengen kan buru-buru married kalok dapet cewek modelan Gendis gini!" Tukas Micko sewot


"Udah diem, acara udah mau mulai!" Royyan menengahi bibit-bibit perseteruan unfaedah teman-temannya


Dion sudah duduk dengan ditemani penghulu di sebelahnya, Gerhana lalu berjalan mendekat dan duduk dengan tenang dihadapannya, sedangkan Gendis menyusul duduk disampingnya. Di belakang Gerhana sudah duduk Hendra, Henny, Guntoro, Abi, Lusi, Banyu juga tak ketinggalan Micko, Harris, Royyan serta para tamu undangan lainnya termasuk Samuel dan Pricilia


Dion mengikuti instruksi dari penghulu tersebut dengan menjabat tangan Gerhana dan memulai prosesi ijab qabul


"Saudara Gerhana Rafardhan Shakeel Rahardja bin Baratha Rahardja kunikahkan dan kukawinkan engkau dengan putriku yang bernama Gendis Alamanda Maheswari binti Dion Mahendra dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan bangunan berupa hotel XX dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Gendis Alamanda Maheswari dengan mas kawin tersebut tunai!" Ucap Gerhana lantang dengan satu tarikan napas

__ADS_1


Semua orang nampak terkejut dengan mahar yang diberikan oleh Gerhana, termasuk istrinya yang tidak tahu menahu perihal maharnya, ia tidak meminta mahar, ia akan menerima apa yang diberikan suaminya secara ikhlas karena itu semua sudah cukup bagi Gendis


"Bagaimana saksi?" Tanya pengulu menatap semua yang ada disana


"Saaah!" Jawab mereka kompak


"Alhamdulillah."


Penghulu tersebut kemudian membacakan do'a lalu menuntun Gerhana untuk mendo'akan sang istri dengan memegang ubun-ubunnya, setelah selesai membacakan do'a Gerhana mencium kening istrinya lama


Semua kejadian ini mengingatkan Gerhana akan prosesi ijab qabulnya yang dahulu, dimana ia dan Gendis tidak saling cinta, bahkan Gendis sangat takut kepadanya dan ingin selalu menghindarinya. Namun mereka setuju untuk menikah demi sang nenek


Mereka dipertemukan secara tidak sengaja, dengan dibumbui begitu banyak hal-hal yang terkadang menyakitkan untuk diingat, namun mereka sadar bahwa semua ini adalah berkat campur tangan Sang Maha Pencipta


Jika Sang Maha cinta sudah membolak balikan hati, manusia bisa apa? Yang awalnya benci setengah mati bisa seketika waktu berubah menjadi ingin memiliki. Sesungguhnya tiada kuasa yang sempurna kecuali Sang Maha Kuasa itu sendiri


Gerhana merasa sangat beruntung karena takdir mempertemukannya dengan Gendis, wanita yang kini teramat sangat ia cintai, wanita sederhana yang mampu menggetarkan hatinya dan mengubah kehidupannya


Gendis dan Gerhana berjalan kearah Dion yang sudah menitikkan air matanya sedari tadi, bagaiman ia tidak bersedih ia teringat istrinya kala menatap putrinya. Gendis memeluk Dion dan menumpahkan segala sesak didalam hatinya


Dion membalas pelukannya dan mengusap pelan punggung putrinya, "jangan sedih, ada ayah dan suamimu disini," Ucap Dion, "Nanti makeup mu luntur, malah tidak jadi cantik," Lanjutnya bercanda agar putrinya berhenti menangis


"Buruan nyusul!" Ucap Gerhana didepan teman-temannya, "atau kalian mau jadi bujang lapuk?" sambungnya dengan gelak tawa mengejek


"Gue nunggu anak lo aja, Ge!" jawab Micko santai


"Ogah amat gue punya mantu elo, Ko!" balas Gerhana sewot, "yang ada elo udah pantes dipanggil kakek dan anak gue masih botcah."


"Inget Ge! Gendis itu ponakan gue, jadi elo nggak boleh ngatain Om Royyan yang tampan ini seperti itu!" Ucap Royyan, "jangan jadi ponakan durhaka!" Lanjutnya dan disambut gelak tawa yang lainnya


Setelah acara bersalam-salaman, acara selanjutnya diisi dengan acara ramah tamah, panitia sudah mempersilahkan semua yang hadir untuk menikmati hidangan yang disediakan


***

__ADS_1


Gerhana sudah merebahkan dirinya diatas sofa, menunggu sang Nyonya Muda yang sedang membersihkan diri. Setelah istrinya selesai dengan urusan kamar mandi, giliran Gerhana yang membersihkan diri


Setelah selesai Gerhana membantu istrinya mengeringkan rambutnya dengan masih mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya, menampilkan roti sobek yang siap diterkam


"Sayang, apa kau bahagia?" tanya Gerhana dengan menatap pantulan wajah istrinya didepan cermin


"Tentu saja," jawab Gendis dengan menatap cermin, "memangnya apa lagi alasanku tidak bahagia?"


"Mungkin kamu menginginkan yang lebih dariku!"


"Tidak ada puasnya itu adalah sangat manusiawi, namun selagi kita mampu bersyukur, insha Allah semua akan terasa cukup bahkan bisa jadi lebih dari cukup." Tukas Gendis dengan senyuman yang khas


"Terimakasih karena sudah hadir dihidupku, mau menemani hari-hariku dan menua bersamaku." Ucapnya dengan memeluk istrinya dari belakang. Dan tanpa ia sadari handuk yang sedari tadi melilit dipinggangnya merosot hingga menampilkan pemandangan yang, entahlah


"Sayang, handukmu!" Ucap Gendis dengan menutup kedua matanya menggunakan telapak tangan


"Bukankah ini sudah biasa kau lihat, bahkan..... " Gerhana berbisik dan tak melanjutkan kata-katanya


Seketika bulu halus ditengkuk Gendis meremang dan pipinya bersemu merah karena malu


"Bukankah kita seharusnya melakukan ritual 'malam pertama', Nyonya?" Gerhana masih terus menggoda istrinya


"Kita sudah bukan pengantin baru!" Jawab Gendis


"Bukankah kita baru menikah?" Ucapnya dengan langsung membopong tubuh istrinya dan membaringkannya diatas ranjang yang sudah dipenuhi taburan kelopak bunga mawar merah itu


***


Kabarnya gimana readers? Sehat selalu kan?


Terimakasih banyak buat kalen yang udah setia sama kisah cinta Gerhana dan Gendis, terima kasih juga yang udah ngasih hadiah, like dan komen, serta makasih juga yang udah nyumbangin Votenya buat Babang Ge dan Gendis


Salam sayang dari Mawar, peluk cium via online buat kalen🤗😘

__ADS_1


__ADS_2