
Gendis yang terkejut membuat tubuhnya limbung dan hampir terjatuh jika suaminya tak sigap segera menangkapnya
Gerhana segera membawa istrinya masuk kedalam kamar diikuti oleh Micko yang bersiap memeriksa keadaan Gendis
Gerhana dengan perlahan membaringkan tubuh istrinya kembali keatas ranjang, ia mengecup puncak kepala Gendis untuk menenangkanya
"Tolong tinggalkan aku sendiri!" Pinta Gendis dengan memalingkan wajahnya agar tidak menatap suaminya
"Sayang.... "
"Kumohon!" Sela Gendis saat Gerhana hendak melayangkan protesnya
Micko mengajak Gerhana keluar agar Gendis bisa menangkan pikirannya sejenak, ia tau Gendis terkejut, kecewa, bahkan marah dengan Dion dan Ratri
"Biarkan dia sendiri dulu, Ge!"
Gerhana hanya mengangguk dan berjalan keluar bersama dengan Micko. Ternyata diluar selain Dion, Royyan dan juga Ratri, ada Samuel yang baru saja datang hendak menjenguk Gendis
"Udah dari tadi, Sam?" tanya Gerhana menyapa
"Baru aja dateng, Kak!" Ujarnya, "Gendis gimana kak keadaanya?"
"Sudah lebih baik."
"Syukurlah!" Ucap Samuel lega, "boleh aku bertemu dengannya?"
"Masuk aja, Sam!" Sahut Micko dan langsung mendapat lirikan tajam dari pria disampingnya
Samuel tersenyum kikuk melihat Gerhana yang menatap tajam Micko
"Masuklah, Sam!" Ucap Gerhana datar
Samuel segera masuk kedalam ruang perawatan Gendis
"Lo apa-apaan sih, Ko! Kenapa lo izinin dia masuk?" Protes Gerhana setelah Samuel masuk kedalam
"Dia itu sahabatnya, mungkin dengan Samuel dia bisa lebih leluasa bercerita!" balas Micko santai
"Tapi gue suaminya!" Ucap Gerhana mulai menaikan satu oktaf volume suaranya
__ADS_1
"Ge, please lah!" Micko mulai lelah menghadapi sikap posesif Gerhana, "Semua juga tau lo suaminya dan Samuel sahabatnya, jadi nggak usah khawatir!"
***
Samuel menatap punggung Gendis yang naik turun karena terisak, ia berjalan mendekat dan duduk di samping Gendis. Samuel mengusap punggung Gendis perlahan tanpa mengucap sepatah kata pun
"Tolong tinggalin Gendis sendiri dulu!" ucap Gendis, ia fikir Samuel adalah suaminya
"Apa kamu sudah tidak ingin berbagi kesedihan denganku lagi, Nda?" ujarnya masih dengan mengusap punggung Gendis lembut
Gendis membalikkan badan kala mendengar suara itu, suara sahabatnya. Samuel menatap lekat mata sembab Gendis, tangannya terulur menghapus air mata sahabatnya itu
"El?" Gendis bangkit dan memeluk Samuel sembari terisak
"Apa yang terjadi?" tanya Samuel seraya membalas pelukan Gendis, "apa Kak Gerhana menyakitimu hingga membuatmu menangis seperti ini?"
Gendis menggeleng
"Jujurlah, jika benar aku akan merebutmu darinya!" Sarkas Samuel, "Aku sebentar lagi akan menjadi Dokter, yang berarti sudah bisa menafkahimu!"
"Kau bicara apa, El?" ucap Gendis bersungut, "apakah tidak ada wanita lain selain merebut istri orang?"
"Ayah!" Ucap Gendis kembali meneteskan air matanya, "Ayah ada disini, El!" Lanjutnya terisak, hatinya begitu sakit kala mengingat betapa menderitanya ia selama ini tanpa hadirnya sosok ayah disisinya
Samuel menatap sahabatnya itu, ia sebenarnya sudah tau perihal Dion adalah ayah Gendis, karena Banyu dan Abi yang memberi tahunya
"Apa kau membencinya?" Tanya Samuel, tangannya memegang bahu Gendis dan matanya menatap dalam manik teduh sahabatnya itu
Gendis diam, ia tidak tahu apakah dia membenci Dion, atau dia merindukannya. Rasa rindu dan kecewa seolah berlomba untuk menjadi paling unggul didalam hati Gendis
"Ini semua bukan kesalahanya, Nda," terang Samuel, "Ayah sudah berusaha mencari Bunda sejak sembilan belas tahun yang lalu, ketika Bunda melangkahkan kaki untuk meninggalkan Ayah karena suatu kesalah pahaman."
Gendis masih diam mendengarkan dan mencerna setiap kata yang diucapkan sahabatnya itu
"Apa kau tau betapa sedihnya Ayah mengetahui wanita yang ditunggu dan dicarinya selama sembilan belas tahun lamanya, ternyata ia sudah tiada?" tanya Samuel dengan mengusap lembut bahu Gendis, "Ayah sangat mencintai Bunda, itu dibuktikan dengan dia yang masih setia menunggu, walau pun ia bahkan hampir menyerah karena tidak ada sedikitpun titik terang keberadaan Bunda
"Apa kau tidak merindukannya? Jangan menyakitinya lebih dari rasa sakit karena putrinya membenci, jangan menghukumnya atas kesalahan yang tidak dia lakukan!
"Jangan menyiksa dirimu sendiri, Nda! Dengan membencinya padahal hatimu sangat merindukannya, merindukan hangat dekapan seorang ayah, rindu belaian lembutnya
__ADS_1
"Walaupun kau tak pernah mengatakannya, tapi aku tau kalau sedari dulu kamu sangat merindukannya dan ingin bertemu dengannya
"Berhentilah saling menyakiti, Nda! Kamu menyakiti dirimu sendiri dengan membencinya, dan Ayah menyakiti dirinya sendiri karena merindukanmu tapi tak pernah diizinkan untuk menyentuhmu." Samuel menasehati panjang lebar sahabatnya itu, ia tau betul bagaimana Gendis, semarah apapun Gendis tidak pernah membenci orang tersebut
Gendis menatap Samuel dalam, Samuel paham akan rasa sakit yang tidak dijelaskan lewat tatapan sendu itu. Tapi ia tau ada rindu yang teramat sangat untuk Dion disana
"Apakah dia mengharapkan kehadiranku, El?" tanya Gendis setelah bisa mengendalikan gejolak dalam hatinya
"Tentu saja, Nda! Dia sangat mengharapkanmu, baginya kamu adalah anugerah terindah yang dia miliki." Samuel mencoba meyakinkan sahabatnya itu
"Aku mau bertemu mereka, El!" Akhirnya Gendis mau menemui Ayahnya setelah berfikir beberapa saat
Senyum Samuel seketika mengembang karena ucapan Gendis, ia segera keluar untuk memberi tahu jika Gendis sudah mau bertemu mereka
Gerhana yang mendengar itu segera masuk kedalam, sementara Dion masih tampak ragu untuk memasuki ruang perawatan putrinya
Samuel menarik lengan Dion perlahan, "tidak apa, Yah! Gendis adalah gadis yang berhati lembut." Ucap Samuel, ia pun mulai memanggil Dion Ayah sama seperti Gerhana
Dion menatap putrinya yang masih duduk diatas ranjang, ia berjalan perlahan mendekati Gendis, pandangan mereka saling bertemu dan terkunci beberapa saat. Ada banyak rasa yang tak bisa diungkapkan disana
Dion segera memeluk putrinya, dan Gendis pun menyambut pelukan itu, untuk beberapa saat mereka hanya diam dengan air mata yang terus berjatuhan. menyalurkan segala rasa yang berkecamuk didalam hati masing-masing
"Maafkan Ayah yang tidak berguna ini, Nak!" Ucap Dion masih dengan memeluk putrinya
"Maafkan Ayah, karena kebodohan ayah sudah membuat hidupmu dan Bunda susah." Ia tau betapa menderitanya Gendis selama ini dari cerita Abimana
"Ini bukan salah Ayah, ini semua sudah takdir yang harus kita jalani." Ucap Gendis
Gerhana dan Samuel hanya bisa memandangi Gendis dan Dion yang masih berpelukan, ada rasa lega dihati mereka karena Gendis sudah mau menerima Dion
Sedangkan Ratri di bawa pulang oleh Royyan sedari Samuel masuk kedalam ruang perawatan Gendis. Royyan tak ingin Dion semakin membenci Ratri jika ia terus memaksa ingin bertemu Gendis
Royyan pun memahami posisi Dion, sendainya ia yang berada diposisi abangnya pun jelas akan melakukan hal yang sama
***
Jangan lupa jejak ya gaes
Salam sayang dari Mawar untuk kalen semua, peluk cium via online🤗😘
__ADS_1