
Rindu yang paling menyakitkan adalah ketika engkau merindukan ia yang tak bisa kau sentuh dengan tangan, dan hanya mampu kau peluk lewat do'a ~ Dion Mahendra
Gendis beserta suaminya dan sang ayah sudah memasuki area pemakaman, sedangkan pak Encup menunggu didalam mobil
Gerhana menggenggam jemari lentik sang istri, ia tahu bagaimana perasaan istrinya ketika memasuki area pemakaman orang-orang terkasihnya
Gendis berjongkok disebelah makam yang nampak tak terurus dengan rerumputan yang sudah mulai meninggi, dulu ia yang selalu datang satu minggu sekali untuk membersihkan makam Bunda dan Kakeknya. Namun kini ia begitu jauh untuk bisa selalu berkunjung kesini
Ia mencabuti satu persatu rumput yang mulai tumbuh dengan tetesan air mata yang tak mampu dicegahnya, "maafkan Gendis yang lupa mengurus rumah Bunda." Lirihnya yang masih mampu didengar Gerhana dan Dion
"Gendis sudah bertemu Ayah, Bunda!" Ucapnya dengan bulir bening yang terus menetes, "ternyata dia sangat tampan, pantas saja putrimu secantik ini." Lanjutnya mencoba memaksakan tertawa
"Suamiku juga tidak kalah tampan, Bunda! Mereka semua menyayangi ku, aku sudah tak merasa sendiri lagi."
"Apakah Bunda juga merasa bahagia karena melihatku bahagia, seandainya kita masih bisa bersama..." Gendis sudah tak mampu meneruskan kata-katanya karena terisak
"Sayang, jangan selalu menangisi Bunda," ucap Gerhana dengan tangan yang mengusap bahu istrinya, "ikhlaskan, bukankah kamu selalu mengajariku seperti itu?" Lanjutnya bertanya dengan lembut
Gendis hanya bisa mengangguk, namun air matanya masih tak dapat ia bendung
Sedangkan Dion masih memandangi makam wanita yang teramat sangat ia cintai, yang selalu ia tunggu kepulangannya selama sembilan belas tahun lamanya, yang namanya tak pernah lupa ia selipkan disetiap sujud, wanita yang tak pernah sekalipun bayangnya menghilang dari ingatan
Ia masih tak percaya bahwa istrinya telah terbaring dibawah timbunan tanah dihadapannya, ia selalu berusaha menguatkan dirinya dengan meyakinkan diri sendiri bahwa semua ini adalah mimpi, jika pun bukan mimpi ia berharap bahwa istrinya hanya sedang menghukum dirinya atas kesalahan yang pernah ia lakukan
Tangannya terulur mengusap batu nisan wanita yang teramat sangat ia rindui, air mata tak mungkin dapat ia bendung, dadanya terasa sesak kala mengingat kenangan bersama wanitanya itu
"Setelah sekian lama aku mencarimu, ternyata kamu sudah tidur disini, Sayang!" Lirih Dion dengan air mata yang terus merebak
"Bagaimana mungkin kau menghukumku seperti ini," Dion menunduk
"Meninggalkan aku dengan rasa bersalah yang lebih besar dari apapun, sadarkan aku bahwa kau hanya bercanda!"
Dadanya terasa begitu sesak kala membayangkan saat-saat kehamilan tanpa didampingi sang suami, ditambah tekanan batin yang diberikan Merry secara terus menerus untuk membunuh mentalnya
Ia merasa menjadi manusia paling bodoh yang selalu kalah selangkah dari wanita iblis berwujud manusia itu. Seandainya ia bisa segera menemukan Anggi, mungkin ia masih berada disisinya hingga kini
__ADS_1
Putri kecilnya tak akan merasakan penderitaan yang luar biasa karena ulah iblis berwujud bidadari itu. Karena wanita itu, ia harus kehilangan mereka yang teramat sangat ia sayangi
Ia masih ingat betul ketika Papanya hendak menghembuskan napas terakhirnya, nama Anggi lah yang ia sebut. Sejak kepergian Anggi kesehatan papanya menurun, hingga lima tahun setelah nya Papanya meninggal
Tangannya terkepal erat, ia mengeratkan giginya hingga menimbulkan bunyi gemeltuk dan menampakkan otot-otot diwajahnya yang masih terlihat sangat tampan itu
'Kau harus lebih menderita sebagai balasan atas apa yang sudah kau lakukan?' Geramnya dalam hati
Setelah selesai berziarah mereka kembali kerumah, tak lupa Gendis mengajak ayah dan suaminya untuk berkunjung kerumah orang tua Samuel
***
Gendis serta Gerhana dan Dion sudah tiba di Jakarta, mereka segera kembali karena esok Gendis dan Gerhana akan melaksanakan ijab qabul lagi
Semua sudah disiapkan oleh Henny dan Hendra, mereka mempersiapkan acara ijab qabul tersebut dengan matang karena ini adalah momen yang sangat berharga bagi mereka
Hari ini Gendis melakukan perawatan full-body dirumahnya, agar ia esok terlihat lebih fresh. Sedangkan Gerhana setibanya dirumah ia langsung pergi lagi menuju kantornya, begitu banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan sebelum acara esok pagi
Saat makan malam tiba, hanya ada Gendis dan Henny dimeja makan, sedangkan para pria masih berkutat dengan pekerjaan yang menumpuk dikantor
Setelah makan malam bersama mama mertuanya, Gendis memutuskan untuk naik ke kamarnya, ia mengambil ponsel yang ada di atas nakas dan mengetik sesuatu dilayar ponselnya sebelum mengirimkannya ke nomor suaminya
***
Gerhana hanya diam menyimak setiap apa yang diucapkan oleh manager keuangan, sedangkan Banyu dan Hendra yang bertugas untuk mengawasi dan mengintrogasi mereka
Triing
Suara notifikasi pesan diterima oleh Gerhana, segera ia menggeser layar ponselnya untuk melihat siapa yang mengiriminya pesan. Senyumnya seketika melebar saat membaca pesan tersebut
My Empress
Sayang, sesibuk apapun kamu, tetap utamakan kesehatan, jangan lupa makan, dan jangan lupa bernapasš¤£
Gerhana segera mengetik balasan untuk istrinya
__ADS_1
My King
Apakah Nyonya tidak merindukan saya, jika rindu maka dalam waktu setengah jam saya akan tiba dikamar
Ia segera menekan icon send di layar ponselnya. Tak butuh waktu lama pesan balasan diterima Gerhana
My Empress
*Bagaimana j*ika saya tidak merindukan anda, Tuan?
My King
Maka saya tidak akan pulang
My Empress
Mana mungkin bisa seperti itu, Tuan? Besok kita akan menikah dan malam ini kau tidak pulangš
Gerhana tersenyum puas setelah mendapat pesan balasan dari istrinya. Kemudian ia menyimpan kembali ponselnya tanpa membalas pesan terakhir istrinya dan bisa dipastikan kalau Nyonya Gerhana saat ini sedang uring-uringan
Setelah rapat selesai, Gerhana dan Banyu serta Hendra segera menuju parkiran agar bisa segera pulang
Sesampainya di rumah Gerhana segera menuju kamarnya. Dengan perlahan ia membuka pintu agar tidak membangunkan Nyonya Gerhana, karena ia pikir Gendis sudah tidur padahal istrinya hanya pura-pura tidur dengan masih menyimpan perasaan dongkol di dalam hatinya karena ulah sang suami yang mengerjainya
Gerhana segera bergegas mandi, setelah itu ia mengganti berganti piyama yang sudah disiapkan istrinya. Ia segera merebahkan dirinya disamping sang istri seraya memeluk istrinya
"Selamat tidur sayangku, mimpikan aku jangan orang lain!" Ucapnya dengan mengecup kening istrinya lama
Gendis membuka matanya, membuat Gerhana berjingkat kaget, "kamu belum tidur, Sayang?"
Gendis hanya menggeleng, ia melingkarkan tangannya memeluk sang suami dan membenamkan wajahnya didada bidang yang selalu membuatnya nyaman itu kemudian terlelap
Gerhana tersenyum menatap istrinya yang seperti kucing kecil saat mencari kehangatan, ia mengeratkan pelukannya dan menyusul Gendis ke alam mimpi
****
__ADS_1
Jangan lupa selalu tinggalkan jejak ya readers, biar Mawar tambah semangat
Salam sayang untuk kalen semua, peluk cium via onlineš¤š