
Royyan berusaha mencegah Bang Dion untuk mendonorkan darahnya, karena kondisinya yang tidak baik-baik saja, namun Dion bersikeras agar ia bisa menolong istri Gerhana
"Kondisi Abang sedang tidak baik-baik saja, tolong pikirkan lagi kesehatan Abang!" Ucap Royyan
"Abang akan baik-baik saja, percayalah!" Jawab Dion dengan santai
Banyu, Dion dan Royyan kemudian berjalan menuju ruang ICU, mereka segera berlari saat melihat Gerhana mencengkeram kerah kemeja Micko
"Dokter macam apa lo, yang tega ngebiarin pasien tanpa melakukan tindakan apapun!" Gerhana berteriak dengan mencengkeram kerah kemeja Micko
"Ge, keadaan Gendis itu udah bener-bener kritis, dia kekurangan banyak darah, tidak memungkinkan untuk melakukan tindakan operasi disaat masih belum menemukan si pendonor!" Jawab Micko berusaha memberikan pengertian kepada sahabatnya itu, "seandainya pun ada pemilik golongan darah langka itu yang mau mendonorkan darahnya, kesempatan keberhasilannya pun tidak sampai 10%, Ge! Karena letak pelurunya yang sangat berdekatan dengan organ vitalnya
"Saat kami tetap memaksakan untuk melakukan tindakan, besar kemungkinan gagalnya dari pada keberhasilannya!"
"Gue mohon, Ko!" Ucap Gerhana melemah, seketika ia terduduk kelantai
"Abang yang akan jadi pendonornya!" Ucap Dion mantap
Seketika Gerhana dan Micko mengalihkan pandangannya kesumber suara
"Abang mempunyai darah Rh-null!" Sambung Dion
Ucapan Dion seakan memberi sedikit harapan untuk Gerhana. segera ia memeluk Dion sebagai ucapan terimakasih. Dion membalasnya seraya mengusap lembut punggung Gerhana untuk memberinya semangat
Dion segera diajak keruangan pemeriksaan sebelum melakukan transfusi darah, setelah dirasa kondisi Dion cukup baik, Suster segera melakukan pengambilan darah
***
Gendis sudah berbaring dimeja operasi, dengan berbagai macam peralatan yang menempel ditubuhnya. Wajahnya begitu pucat seolah sudah tidak menunjukkan lagi tanda-tanda kehidupan
Micko dibantu beberapa dokter dan suster segera melakukan pembedahan. Diruangan tersebut hanya terdengar denting peralatan medis yang bergantian digunakan
"Gunting!"
"Penjepit!"
Diluar ruang operasi, Gerhana masih setia menunggu dengan gusar, ia hanya mondar mandir sesekali menengok jam tangan mewah yang melingkar ditanganya
"Ge, kamu sebaiknya membersihkan diri terlebih dahulu." Ucap Henny dengan mengusap bahu putranya
Henny dan yang lainnya masih setia menunggu diluar ruang operasi menemani dan memberikan semangat untuk Gerhana
Gerhana terlihat sangat kacau, dengan rambut yang acak-acakan serta kemeja yang sudah bermandikan darah istrinya
Bahkan tidak terlintas dipikrannya untuk hanya sekedar membersihkan diri. Rasa khawatirnya seolah selalu memaksanya untuk tetap tinggal
__ADS_1
"Tapi, Ma...."
"Gendis pasti akan sangat sedih melihat kondisimu yang seperti ini saat ia bangun nanti!" Sela Henny saat Gerhana hendak melayangkan protes
Akhirnya Gerhana menuruti keinginan Mamanya, ia segera bergegas kekamar mandi. Jasson sebelumnya telah mengambilkan baju ganti untuk Gerhana
Selesai mandi, Gerhana berjalan menuju mushola yang ada di klinik Micko, karena telah memasuki waktu sholat dzuhur. Ia segera mengambil wudhu dan bergegas menunaikan kewajibannya
Setelah sholat, Gerhana menengadahkan tangannya dan meminta kerendahan hati Sang Maha Pencipta untuk kesembuhan istrinya
"Ya Allah, ampuni hamba yang terlalu banyak meminta, hamba mohon selamatkanlah istri hamba. Hamba janji tidak akan pernah menyakitinya lagi
"Izinkan hamba untuk membahagiakannya, ya Allah. Izinkan kami untuk menua bersama dan sehidup sesurga kelak
"Cukup kedua orang tua hamba yang engkau ambil, hamba mohon jangan istriku, ya Allah!" Do'a nya dengan bercucuran air mata
Sebelumnya Gerhana tak pernah sekacau ini, sebesar apapun masalahnya ia akan tetap menunjukkan wajah datar dan dinginya. Tapi rasa takutnya mengubah image nya yang seorang pria arogan menjadi pria lemah dan rapuh
Gerhana segera melipat sajadahnya dan bergegas kembali kedepan ruang operasi
Gerhana melihat Samuel sedang berjalan kearah ruang operasi Gendis,bke khawatir jelas terpancar diwajahnya, ada sedikit rasa nyeri saat ia melihat pria yang sangat dicintai istrinya, namun ia segera menampik jauh rasa itu, karena sekarang Gendis adalah miliknya, dan hanya miliknya, selamanya akan menjadi milik Gerhana Rafardhan Shakeel Rahardja seorang
"Bagaimana keadaan Gendis, Kak?" Tanya Samuel kepada Banyu
"Saat ini ia sedang didalam menjalani operasi pengangkatan peluru yang bersarang dipunggungnya," jawab Banyu, "gimana lo bisa tau kalau Gendis disini?"
"Sebenarnya apa yang terjadi, Kak?" Samuel bertanya, raut wajah khawatirnya tak bisa ia sembunyikan, karena walau sekuat apapun ia berusaha untuk mengubur dalam rasa cintanya, bayang-bayang Gendis tak pernah bisa hilang dari pikirannya, membuat cintanya semakin bertambah dan menciptakan rasa sakit disetiap harinya
Banyu kemudian menceritakan semuanya kepada Samuel, Banyu tau kalau Samuel adalah orang terdekat Gendis selama ini, jadi ia tak mungkin menutup-nutupi semuanya dari Samuel
Abimana mengajak Banyu, Hendra, Guntoro, Royyan dan juga Dion untuk makan di restauran yang ada disekitar klinik, padahal maksud yang sebenarnya adalah mengungkap identitas Gendis
Setelah mereka semua selesai makan siang, Abi mulai membuka percakapan
"Bang Dion, boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Abi, kebetulan ia dan Dion saling mengenal karena Dion adalah salah satu kolega bisnisnya
"Boleh, tanyakan saja!" jawabnya
"Apakah abang pernah menikah sebelumnya?"
Dion mengernyit, ia bingung kemana arah tujuan ucapan Abi tersebut. Kemudian ia mengangguk
"Lalu dimana istri abang sekarang?"
Dion semakin tak mengerti dengan pertanyaan yang Abi lontarkan
__ADS_1
"Pergi!" Sahut Royyan
"Apakah ia bernama Anggi Maheswari?" Ganti Banyu yang bertanya
Dion tersentak, 'Sebenarnya apa yang maksud mereka ini, dan dari mana mereka tau nama istriku?' batin Dion
"Iya, Anggi Maheswari adalah istriku," jawabnya mantap, "ia pergi kurang lebih sembilan belas tahun yang lalu karena suatu kesalah pahaman, hingga saat ini aku masih terus mencari keberadaannya namun masih belum membuahkan hasil." lanjutnya dengan menunduk, raut wajahnya berubah sendu
"Apakah kalian sudah mempunyai anak?"
Pertanyaan Banyu seketika membuat dadanya terasa sakit, entah kenapa rasanya sangat sakit sekali
"Aku bahkan tidak tau, tapi dari keterangan tetangganya dulu sebelum pindah, Anggi sedang hamil tujuh bulan." Dion menjawab dengan mata berkaca-kaca
"Gendis adalah putrimu, Yon!" Tukas Hendra
Mata Royyan dan Dion seketika membulat sempurna karena ucapan Hendra
Abi kemudian menceritakan semuanya tentang kejahatan Merry dan tentang Gendis beserta keluarganya
Air mata Dion sudah tidak bisa ia bendung lagi kala mengetahui istrinya telah tiada karena tekanan batin dari Merry, dadanya semakin sakit membayangkan luka batin dan penderitaan putrinya selama ini
Ia menangis merutuki kebodohanya hingga ia kehilangan wanita yang paling dicintainya serta kesakitan yang dialami putri kecilnya selama ini
Ia segera bergegas kembali ke klinik untuk bertemu putrinya, pikirannya campur aduk, antara bahagia, sedih, sakit, dan takut
Setibanya di depan ruang operasi, pintu ruangan tersebut terbuka lalu Micko menyembul keluar dengan raut wajah yang menunjukkan penyesalan dan kesedihan yang luar biasa
Gerhana segera menghampiri sahabatnya itu, "gimana istri gue, Ko?" tanya Gerhana tak sabar
"Maafin gue, Ge!" ujarnya menunduk, "Gue gagal, gue gagal nyelametin Gendis."
Seketika Gerhana dan Dion terduduk lemas
"Lo lagi bercanda kan, Ko?" tanya Gerhana seraya tertawa, tapi air matanya sudah mulai berjatuhan
"Gue udah jelasin segala resikonya, Ge, Dan gue minta maaf! " Jawab Micko penuh penyesalan
***
TAMAT
Gimana kabar gaes, sehat?
Jangan lupa jejak yea gaes biar jafi mood booster untuk Mawar
__ADS_1
Salam sayang dari Mawar buat kalen semua, peluk cium via online🤗😘