Tawanan

Tawanan
Bab 18


__ADS_3

Gerhana memanggil Nana untuk mengambilkan bubur. Tak berapa lama Nana sudah kembali dengan membawa semangkuk bubur dan segelas air mineral serta satu piring buah yang telah dipotong


"Biar saya suapi, Nona!" Tawar Nana saat meletakkan nampan diatas nakas


Gendis menggeleng, ia bisa makan sendiri pikirnya


"Tidak perlu, pergilah!" Ucap Gerhana


"Baik, Tuan! Saya permisi!" Ucap Nana sambil menunduk hormat


"Hmmm" Hanya itu yang keluar dari mulut Gerhana


Gerhana membantu Gendis untuk duduk bersandar dikepala ranjang. Ia lalu mengambil bubur diatas nakas dan menyendoknya, ditiupinya dengan telaten bubur tersebut kemudian hendak disuapkan kemulut Gendis


Gendis menggeleng, entah tidak mau makan atau dia bisa makan sendiri, Gerhana bingung menafsirkannya


"Makanlah sedikit aja! Kalok lo mau makan sendiri, lo liat tangan kanan lo lagi diinfus!" Ucap Gerhana seperti biasa


Alhirnya Gendis menurut, Gerhana menyuapi Gendis dengan telaten hingga bubur didalam mangkuk tandas tak tersisa. Entah karena takut atau karena memang Gendis kelaparan, hanya Gendis dan Tuhan yang tau


"Ternyata disuapi pria tampan kayak gue gini bikin napsu makan bertambah, ya?" Ucap Gerhana bercanda. Tapi yang namanya pria dingin, cara bercandanya malah terkesan seperti sindiran


Gendis melirik mangkuk bubur ditangan Gerhana yang telah tandas, ia tersenyum malu karena seperti orang kelaparan, tapi ya memang ia sangat kelaparan karena terakhir makan kemarin malam


Bibir Gerhana tertarik sedikit membentuk senyum tipis, sangat tipis bahkan nyaris tak terlihat saat melihat Gendis bisa tersenyum dihadapannya untuk pertama kali, hatinya menghangat menatap senyum itu


Gerhana mengambilkan obat untuk Gendis dan memberinya segelas air mineral. Gendis langsung meminum obatnya. Setelah itu Gerhana hendak menyuapi Gendis dengan buah yang dibawakan oleh Nana tadi


Tapi Gendis menggeleng dan memegang perutnya sebagai tanda ia masih terlalu kenyang


Saat makan malam pun Gerhana masih menyuapi Gendis dengan telaten, tanpa ia sadari ada sepasang mata yang sedang mengawasi mereka


"Gue harap Gendis bisa merubah sikap arogan elo, Ge!" Ucap Banyu


Banyu tak sengaja melihat Gerhana membawa nampan berisi makanan dari meja makan, ia mengikuti Gerhana sampai masuk kedalam. Ia tersenyum melihat perlakuan Gerhana kepada gadis tawanannya itu


Saat dirasa sudah kenyang, Gendis menggeleng saat Gerhana hendak menyuapinya lagi


"Satu kali saja, ini yang terakhir!" Ucapnya seperti merayu anak kecil


Dengan sangat terpaksa Gendis menerima suapan terakhir itu. Ia menulis sesuatu dilayar ponselnya untuk Gerhana baca


"Tuan, saya ingin kembali kekamar!"

__ADS_1


"Kalok lo mau balik ke kamar, lo harus segera sembuh dulu!" Jawab Gerhana tegas


"Lalu anda tidur dimana kalau saya tidur disini, Tuan?" Tulisnya lagi


"Gue tidur disini lah!" Gerhana menjawab santai


Gendis menelan ludahnya dengan susah payah, ia takut kalau sifat kejam Gerhana kembali lagi. Gerhana bisa melakukan apa saja untuk menyakitinya


"Lo tenang aja, gue bukan pedofil!" Ucapnya sambil berlalu untuk mengembalikan piring kotor bekas Gendis makan


'Apa yang harus aku lakukan ya Allah? Kenapa semalam aku tidak mati saja! ' Gendis membatin


***


Seperti yang dikatakan oleh Gerhana, malam ini Gendis tidur dikamarnya. Alasannya bukan karena ia akan melakukan hal yang tak senonoh melainkan, ia ingin selalu memantau keadaan Gendis


Rasa bersalahnya yang membuat ia ingin menjaga Gendis. Ia tidur berbaring disofa, sedangkan Gendis tidur diranjang dengan selang infus yang masih tertancap ditangannya


Micko sudah datang untuk mengecek keadaan Gendis tadi sore, ia menawarkan satu orang perawat dari kliniknya untuk menjaga Gendis tapi langsung ditolak oleh si pria arogan itu. Entah apa yang ada difikiran pria dingin itu, hanya tuhan yang tau pikir para sahabatnya


Micko sudah tau tentang siapa Gendis, ia sangat prihatin setelah mendengar penuturan dari Banyu. Tapi apa yang bisa Banyu dan Micko lakukan untuk bisa menolong Gendis? Mereka hanya bisa diam dan membatin iba


Gerhana begitu gelisah ia hanya membolak balikkan badannya, miring, berbaring, tengkurap, mencari posisi ternyaman agar ia bisa segera terlelap. Tapi hasilnya sama saja


Gerhana memajukan wajahnya hendak mencicipi bibir ranum itu, kemudian pikiran sehatnya menyadarkannya. Ia segera berjalan kekamar mandi untuk membasuh wajahnya


"Astaga Gerhana, apa yang ada didalam pikiranmu?"


"Sadar Ge! Sadar dia masih anak-anak!" Gerhana bergumam sendiri merutuki pikiran liarnya


"Sekali-kali tidak apa, Gerhana. Hanya bibir, tidak lebih! " Seolah ada bisikan iblis ditelinga kirinya


"Jangan, Ge! Jangan sentuh dia! Ingat dia masih kecil" Pikiran warasnya memperingati


"Kan kamu juga tidak pernah melakukannya dengan siapapun, Ge! Cobalah dengan gadis kecil itu" Pikiran liarnya terus membujuknya


"Jangan, Ge! Apa kau tidak kasian melihatnya, dia gadis yatim piatu yang malang" Pikiran warasnya terus memperingati


"Asal tidak kebablasan, tak apa lah Gerhana! Ayo lah sentuh bibirnya, dan cicipi bibir ranum menggoda itu, Gerhana" Pikiran liar itu ters saja menggodanya


"Dosa, Ge! Ingat dosa! Daddy dan Mommy mu pasti akan menangis melihat semua ini" Seolah pikiran waras dan liarnya saling menarik ulur Gerhana


"Aaaaih sial*n!" Gerhana mengumpat sambil mengusap wajahnya frustasi

__ADS_1


"Ternyata tidur satu kamar dengan seorang gadis itu banyak godaannya!" Gerhana bergumam


"Apalagi kalau tidur seranjang!" Gerhana bergidik ngeri membayangkannya


Ia lalu keluar kamar dan membaringkan tubuhnya disofa sambil membelakangi Gendis


Sama halnya dengan Gerhana, Gendis pun merasa gelisah, ia sebentar-sebentar terbangun karena takut. Beruntunglah saat gerhana menyentuh pipinya, ia sedang terlelap pulas


Gendis duduk dan saat hendak menurunkan kakinya dari ranjang, suara dingin Gerhana membuat ia mengurungkan niatnya


"Mau kemana?" Gerhana bangkit dari sofa dan berjalan mendekat


Gendis menggeleng, sebenarnya ia ingin kembali kekamarnya, ia merasa tidak nyaman dan takut berada dalam satu ruangan bersama Gerhana


"Apa ada yang lo butuhkan?" Tanya Gerhana yang sudah duduk disebelah Gendis


Gendis menggeleng


"Katakan saja, nanti gue ambilin!" Ucap Gerhana


"Lo mau minum?"


Gendis mengangguk, ya walaupun ia sebenarnya tidak haus, tapi tak apalah agar ia punya alasan untuk tidak di marahi oleh Gerhana


Gerhana lalu berdiri mengambil minum didalam kulkas yang ada dikamarnya dan memberikannya kepada Gendis


"Tidurlah! Agar lo cepat sembuh!" Titah Gerhana


Gendis mengangguk patuh dan kembali berbaring untuk melanjutkan mimpinya yang terpotong


Begitupun dengan Gerhana yang juga bersiap menuju alam mimpinya


***


Halo readersku tersayang! Gimana kabar? Sehat?


Gimana gaes, sudah ada yang bisa nebak siapa penjahatnya?


Mawar tunggu nih jawaban kalian ya


Jangan lupa dukung Mawar dengan cara selalu tinggalkan jejak ya!


Salam sayang dari Mawar๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2