Tawanan

Tawanan
Bab 66


__ADS_3

Setelah sembilan hari melaksanakan umrah di Mekkah, Gerhana memutuskan untuk mengajak istrinya ke London untuk bulan madu sekaligus melihat perusahaannya yang ada disana


Tepat pukul lima sore waktu setempat Gerhana dan Gendis tiba di Bandar Udara Heathrow, London. Para ajudan yang ditugaskan untuk menjemput Gerhana dan istrinya pun sudah menunggu mereka


Mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan London yang begitu indah di mata Gendis, senyum tak pernah pudar dari wajah cantiknya. Ini adalah kali pertama ia menginjakkan kaki di negara Ratu Elizabeth tersebut, ia tak pernah bermimpi bisa sampai di negara ini. Namun sekarang ia merasakan suasana sore menjelang malam disini, sungguh nikmat luar biasa bagi seorang Gendis


Gerhana hanya tersenyum melihat binar bahagia dimata istrinya, senyum manis yang tak pernah pudar dari wajah ayu Gendis mampu menghipnotis suami yang duduk disebelahnya.


"Apa kamu bahagia, Sayang?" Tanya Gerhana menatap Gendis yang sedari tadi pandangannya keluar jendela menatap pemandangan kota London


"Tentu saja," balas Gendis menengok suaminya, "apalagi yang membuatku tak bahagia?" lanjutnya tersenyum manis


Gerhana meraih istrinya kedalam dekapan, "terimakasih karena mau menerima pria arogan sepertiku." Ucapnya


"Terimakasih juga karena mau menerima seorang wanita yang penuh kekurangan ini." balas Gendis


Tak berapa lama mobil yang mereka tumpangi berhenti didepan rumah minimalis bercat putih dengan halaman yang cukup luas dan berbagai tamanan hias yang begitu terawat


Gerhana mengajak istrinya untuk masuk, sedang kan barang bawaan mereka sudah dibawa masuk terlebih dahulu oleh sang ajudan saat Gendis masih melihat-lihat taman didepan rumah


***


Sinar mentari pagi sudah mulai menyelinap masuk melalui celah-celah tirai tebal yang menutup kaca jendela. Menarik paksa jiwa-jiwa yang tengah terlena dengan buaian kelembutan selimut tebal yang menghangatkan pagi yang dingin


Gerhana sudah mengajak istrinya untuk jalan-jalan ditaman menikmati suasana pagi yang cerah itu. Mereka duduk dibangku taman dengan ditemani segelas susu dan secangkir teh untuk Gerhana serta tak ketinggalan cemilan sebagai pelengkap yang sempurna


"Sayang, apakah kamu betah tinggal disini?" Tanya Gerhana dengan menatap lembut istrinya


"Betah," jawab Gendis kemudian meletakkan gelas susunya, "tapi aku lebih senang tinggal di negara sendiri." Lanjutnya


"Kenapa?"


"Karena aku tidak mungkin meninggalkan ayah," jawabnya dengan menggenggam jemari suaminya, "selama ini, kami sudah berpisah selama delapan belas tahun. Lalu apakah sekarang aku akan meninggalkannya sejauh ini?"


Gerhana tersenyum, "kalau begitu besok kita pulang!" Ujarnya


Gendis membulatkan matanya mendengar jawaban suaminya, "kenapa buru-buru sekali?" Tanyanya dengan bibir yang cemberut


"Lah tadi siapa yang bilang kalau tak ingin jauh dari Ayah?" Ucapnya seolah tanpa dosa

__ADS_1


"Tapi kan nggak secepet ini, Sayang!"


"Lalu?" Ucapnya terus menggoda istrinya


"Nggak tau!" Ketus Gendis


"Ha Ha Ha! Bercanda Sayangkuuuuu!" Ujarnya, ia selalu merasa puas setiap kali dapat mengerjai istrinya


Gerhana mengajak istrinya masuk untuk sarapan, setelah sarapan Gerhana dan Gendis masuk kembali kedalam kamar. Saat sedang asik bercengkrama dengan istrinya, ponsel Gerhana bergetar tanda ada panggilan masuk, ia kemudian menggeser icon hijau dilayar ponselnya setelah melihat nama si penelpon


"Hallo!" Sapanya


"Hallo! Banyu bilang Lo ada di England sekarang, Ge?" Sahut seseorang diseberang sana


"Iya, Gue baru nyampe kemaren." Jawab Gerhana


"Kenapa nggak ngabarin gue, biar gue jemput!"


"Nanti malah ngerepotin kalian!"


"Ya enggak lah, Ge! Kayak sama siapa aja!" Balas seseorang diseberang sana


"Wah bakalan seru nih!" Ujar Austin


Setelah menentukan lokasi untuk acara makan malam mereka nanti, Gerhana kemudian memutus sambungan telepon nya. Ia mengajak istrinya untuk jalan-jalan lalu melakukan perawatan bersama untuk persiapan malam nanti


"Apakah itu acara formal, Sayang?" Tanya Gendis yang masih ditata rambutnya oleh hairstyles profesional


"Bukan, hanya sekedar makan malam biasa dengan sahabatku yang ada disini, Sayang!" Jawab Gerhana sambil terus memperhatikan istrinya yang terlihat semakin cantik setiap harinya


"Aku takut membuatmu malu didepan teman-temanmu!" Lirih Gendis menunduk


"Hey siapa yang berani mempermalukan Nyonya Gerhana?" Tanya Gerhana menatap istrinya, "tidak akan ada yang berani mengganggumu, Sayang." Lanjutnya menenangkan


"Aku sangat takut." Lirihnya terus menunduk


"Jangan takut, aku selalu disampingmu, Sayang," ujanya dengan berjalan mendekati istrinya, "tegakkan badanmu, angkat wajahmu, dan jangan pernah menunduk di depan mereka, kamu adalah Nyonya Gerhana tidak akan ada yang berani merendahkanmu!" Lanjutnya dengan menyentuh dagu istrinya agar tidak lagi menunduk


Setelah selesai dengan segala urusan perawatan dan makeover Gendis, Gerhana mengajak istrinya untuk segera pergi ke tempat yang sudah ia dan Austin rencanakan. Iaelajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia sengaja menyupir sendiri agar bisa lebih menikmati waktu berdua dengan istrinya

__ADS_1


Tak berapa lama mobil yang dikemudikan Gerhana telah tiba di restaurant X, ia meminta petugas parkir VVIP untuk memarkirkan kendaraannya


Mereka langsung disambut oleh pelayan dan diantarkan ke private room yang sudah direservasi oleh Austin sebelumnya. Ternyata Austin dan Istrinya telah sampai terlebih dahulu di ruangan tersebut


Saat melangkah maju netra Gerhana menangkap sosok wanita cantik yang tak asing baginya. Sedangkan mereka terkejut dengan kedatangan Gerhana bersama seorang gadis yang begitu anggun dengan balutan gaun berwarna hijau toska dan rambut yang sedikit di curly membuat aura kecantikannya semakin terpancar


Gerhana berjalan mendekat dan menarik kursi untuk istrinya duduki, "silahkan duduk, Nyonya!" Ucap Gerhana lembut, kemudian ia duduk disebelah Gendis setelah istrinya duduk


Semua orang yang ada di ruangan tersebut hanya mampu saling tatap melihat Gerhana yang baru pertama kalinya memperlakukan seseorang dengan begitu lembut


"Kanapa malah kalian bengong?" Tanya Gerhana sambil menatap Austin dan Istrinya secara bergantian


Austin hanya bisa tersenyum kikuk menatap Gerhana


"Kenalin, ini adalah Nyonya Gerhana!" Ucapnya memperkenalkan Gendis


Ucapan Gerhana sontak membuat terkejut semua yang ada di ruangan tersebut


"Kapan lo nikah, Ge?" Tanya Austin setelah bisa menghilangkan kebingungannya, "kenapa gue nggak diundang?"


"Akadnya udah ada enam bulan lebih, kalau resepsi baru setengah bulan yang lalu." Jawab Gerhana


"Sayang, yang ini namanya Austin," Ucap Gerhana menunjuk Austin, "Yang itu Anne istrinya Austin dan yang satunya lagi itu Carolina, teman kuliah ku sama Banyu." Lanjutnya memperkenalkan teman-temannya


"Gendis!" Ucap Gendis tersenyum menyalami mereka satu persatu


Anne dan Austin menyambut hangat uluran tangan Gendis seraya tersenyum manis, sedangkan Carolina nampak enggan memerima ukuran tangan Gendis sebagai perkenalan


"Ehem!"


Deheman Gerhana membuat Corolina mau tak mau menyambut tangan Gendis, ia terus memperhatikan Gendis dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tersenyum mengejek


***


Kabarnya Gaes? Sehat kan?


Makasih buat yang masih setia nunggu up nya Gendis dan Gerhana yang semakin jarang up😁😁😁


Salam sayang buat kalen semua, peluk cium via onlineπŸ€—πŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2