Tawanan

Tawanan
Bab 49


__ADS_3

Gerhana segera menjauh dari ruang kerjanya yang menjadi tempat untuk memeriksa CCTV, ia berjalan tergesa masuk kedalam kamar tanpa menutup pintu


Gerhana menelpon nomor tidak dikenal tersebut beberapa kali namun tidak ada jawaban, ia semakin gusar karena merasa dipermainkan. Hingga dering ke sembilan barulah telpon tersambung


"Siapa kau bedebah!" Teriak Gerhana saat telepon tersambung


"Ha ha ha." Terdengar suara gelak tawa seorang wanita dari seberang sana


Tut tut tut tut


Terdengar notifikasi bahwa orang tersebut meminta pengalihan panggilan menjadi video call. Gerhana segera menggeser icon biru dilayar ponselnya untuk menerima permintaan wanita diseberang sana


Setelah panggilan beralih menjadi video call, darah Gerhana serasa mendidih melihat istrinya sedang dalam keadaan pingsan, dengan dudukan disebuah kursi, tali tambang yang mengikat bahu hingga turun ketangan


nampah darah kering didahinya, serta luka lebam menghiasi wajah ayu Gendis. Wajah Gerhana sudah merah padam menahan amarah


"Beraninya kau menyentuh istriku!" Gerhana berteriak, ia sudah tak mampu menahan amarah yang membuncah didalam dirinya


"Ha ha ha," wanita yang tidak menampakkan wujudnya itu terus tertawa, "ku rasa sedikit bermain-main dengan Nyonya Muda bukanlah ide yang buruk."


"Sial*n!" Dada Gerhana naik turun karena amarah yang membuncah


"Bagaimana jika belati tajam ini menggores pipi mulusnya?" Ucapnya seraya mengalihkan kamera ponselnya kearah sebuah belati yang begitu tajam, "atau malah ku hujamkan keperut rampingnya? Ha ha ha."


"Siapa kau bangs*t!" Teriak Gerhana dengan hidung kembang kempis, wajahnya merah padam menandakan amarah yang begitu besar


Wanita yang belum diketahui siapa itu dengan sengaja mendekatkan pisau yang dipegangnya kearah Gendis. Lalu ia memantikan sambungan telponnya


"Aaaaaaaaaaaaaaa! Sial*n!" teriak Gerhana dengan mengacak rambutnya frustasi


Penampilan Gerhana sudah sangat kacau, dengan kemeja yang lengannya dilipat asal, kancing kemeja yang terbuka, serta keringat yang membasahi seluruh tubuhnya


Tring


Ponsel Gerhana kembali menerima notifikasi pesan, Gerhana segera melihat siapa sipengirim pesan. Dan ternyata pesan dari nomor tidak dikenal tersebut


+628...


Datanglah ke jalan XX, setelah sampai disana aku akan memberikan arahan dan kau tinggal mengikuti arahan dariku.


Tring


Kembali ponsel Gerhana menerima notifikasi pesan masuk dari nomor tidak dikenal tersebut

__ADS_1


+628....


Ingat! Datanglah sendiri, jika kau ingin kucing kecilmu selamat!


Jika aku tau kau bersama orang lain, bisa kupastikan kucing kecilmu akan segera menyusul Bundanya!


Tanpa pikir panjang, Gerhana segera berlari menuruni anak tangga, kemudian menyambar kunci mobil dan segera melesat meninggalkan kediamannya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa segera tiba ditempat yang dikatakan wanita iblis tersebut


Pikiran Gerhana benar-benar kacau, yang ada didalam otaknya hanya Gendis, Gendis dan Gendis. Ia sudah tidak peduli lagi dengan keselamatannya yang terpenting bisa segera sampai kmdan membebaskan istrinya


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, padahal jika ditempuh dengan kecepatan normal bisa memakan waktu lebih dari satu jam, akhirnya Gerhana sampai di jalan XX, ia segera mengeluarkan ponselnya dan menelpon wanita tersebut


Namun hingga beberapa kali panggilan tersambung, si wanita misterius itu tak kunjung menerima panggilan Gerhana. Gerhana benar-benar dibuat frustasi, ia merasa dipermainkan oleh wanita lucknut itu


Triing


Tiba-tiba ponsel Gerhana kembali menerima pesan dari nomer asing tersebut, yang isinya adalah share lokasi tempat ia berada. Segera Gerhana mengaktifkan gpsnya dan mulai mengikuti petunjuk yang diberikan maps


Hampir satu jam Gerhana berputar-putar akhirnya ia sampai ditempat lokasi yang diberikan oleh wanita tersebut. Sebuah gedung usang, yang entah gedung apa Gerhana pun tidak mengerti, disamping gedung tersebut terdapat aliran sungai yang cukup deras


Suasananya begitu gelap karena tidak ada pencahayaan satupun disana, ditambah hujan yang tiba-tiba turun dengan derasnya, menambah suasana semakin mencekam


Gerhana mulai melangkahkan kakinya memasuki gerbang, 'Seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan disini' batin Gerhana


Drrt Drrt Drrt


"Teruslah berjalan, dan jangan menengok!" ucap sipenelpon, kemudian mematingan sambungan telponnya


Gerhana segera berjalan menuruti keinginan wanita tersebut. Gerhana tiba diruangan yang cukup luas dengan lilin sebagai penerangannya


"Ha ha ha, ternyata nyalimu cukup besar Tuan muda!"


Suara itu berasal dari seorang wanita yang duduk membelakangi Gerhana


"Siapa kau? Dimana istriku?" teriak Gerhana


"Jangan berteriak! kupingku sakit mendengar teriakanmu!"


Gerhana berjalan mendekati asal suara tersebut


"Berhenti disitu jika kau ingin istrimu selamat!" tegas wanita tersebut, ia bangkit dan berjalan mendekati Gerhana


Sesaat Gerhana mematung menatap sosok wanita berumur namun masih terlihat cantik dihadapannya, matanya melebar tatkala wanita tersebut semakin mendekat

__ADS_1


"Tante!" Lirih Gerhana


"Bagaimana kabarmu, Sayang?" ujar wanita tersebut, dan ia semakin mendekati Gerhana, ia hendak mengusap pipi Gerhana namun sebelum tangan itu menyentuh kulitnya, Gerhana dengan cepat menepis tangan wanita tersebut


Ya, wanita tersebut adalah Merry Diana, yang tak lain adalah Tante Gerhana. Merry adalah adik kandung Baratha, Daddy Gerhana


"Jangan pernah menyentuhku, dengan tangan kotormu itu!" ucap Gerhana dingin dan penuh penekanan


"Ha ha ha" Merry tertawa sumbang kemudian menyeringai, "ternyata sifatmu tak jauh beda dengan Daddymu!" Lanjutnya dengan dingin


"Dimana istriku?" Teriak Gerhana


"Ternyata kau sama tidak sabarannya, ya?" ucap Merry mencibir


"Lepaskan dia! Dia tidak ada hubungannya denganmu, wanita iblis!" Gerhana berteriak, ia sudah benar-benar kehabisan kesabarannya


Wanita yang notabene adalah Tantenya sendiri dengan tega menelantarkan dia setelah kematian orang tuanya, dan kini wanita tersebut kembali dengan menambah kebencian pada Gerhana karena telah menculik istrinya


"Jelas dia ada hubungannya dengan sakit hatiku!" balasnya menyeringai


Gerhana semakin mendekati Merry, ia sudah siap untuk melayangkan pukulannya, biarlah dikata pria yang berani main kasar dengan wanita atau keponakan durhaka sekalipun, bodo amat pikir Gerhana


"Jangan bermain-main denganku!" tegas Merry, "atau kau ingin kucing kecilmu menyusul Bundanya?" lanjutnya dengan menyeringai


"Sial*n!" Gerhana sudah benar-benar kehilangan kesabaran dan rasa sopan santunnya pada Merry


Merry menunjukkan ponselnya yang memperlihatkan Gendis sedang diikat, dengan mulut disumpal dan mata yang ditutup kain hitam. Ia berdiri dibelakang gedung tua ini, tepat dibibir sungai yang arusnya sangat deras


Para bodyguard Merry berdiri dibelakangnya, mereka sudah bersiap untuk mendorong Gendis kesungai jika Gerhana tidak menuruti kemauan Merry


Darah Gerhana semakin mendidih, "bangs*t kau! Dasar wanita iblis! Lepaskan istriku kepar*t!" umpatnya semakin menjadi-jadi


"Teruslah mengumpat, Sayang!" Merry menyeringai


"Lepaskan istriku, ku mohon," ucap Gerhana putus asa


"Kenapa memohon, wah jadi tidak seru donk, kalau kamu kalah sebelum berperang Ha ha ha." Tawa Merry dengan seringai iblisnya


Gerhana sudah benar-benar putus asa, ia bisa saja membunuh perempuan sundel didepannya, tapi bagaimana nasib istrinya, ia tak bisa membayangkan bagaimana hidupnya jika tanpa Gendis


"Apakah kau tak ingin bertanya tentang siapa yang membunuh Daddy dan Mommy mu?"


***

__ADS_1


Jangan lupa jejak ya gaes, biar mawar tambah semangat


peluk cium via online dari Mawar untuk kalean tercintaaah🤗😘


__ADS_2