
Hari yang ditunggu-tungu akhirnya tiba, Gendis terlihat begitu cantik dengan balutan baju pengantin berwarna putih tulang, dengan riasan yang tidak terlalu tebal, dan rambut yang digerai
Sedangkan Gerhana memakai setelan jas senada dengan istrinya. Gerhana yang tampan dan istrinya yang cantik adalah pasangan sangat sempurna
Mereka duduk disinggahsana yang telah disediakan pihak WO. Acara resepsi dilaksanakan di tepi pantai seperti keinginan Henny
Semua tamu undangan yang datang dibuat berdecak kagum dengan kemewahan yang disuguhkan, pemandangan pantai dimalam hari serta deburan ombak yang menyapu pasir dibibir pantai menambah kesan romantis di acara tersebut
Para tamu undangan hilir mudik memberikan ucapan selamat untuk Gerhana dan istrinya, ada yang terang-terangan memuji kecantikan Gendis, ada banyak pula yang hanya mampu berdecak kagum
Saat sedang asik bersalaman dengan para tamu undangan, tiba-tiba terdengar suara seseorang sedang memetik gitar. Semua mata tertuju pada seseorang yang sedang duduk dengan microfon didepan wajahnya dan gitar dipangkuannya
Dengan lihai ia mulai memetik satu persatu senar gitar tersebut dan menghasilkan melodi yang begitu merdu dipancaindera, pemuda tampan dengan balutan jas berwarna hitam itu mulai mendekatkan bibirnya didepan microfon dan mulai mengeluarkan suara merdunya
Masih adakah separuh hatiku
Yang kuberikan hanya untukmu
Ku harap engkau masih menyimpannya
Jangan kau pernah melupakannya
Maafkan kata yang t'lah terucap
Akan kuhapus jika kumampu
Andai ku dapat meyakinkanmu
Kuhapus hitamku
Masih adakah separuh janjiku
Yang kubisikkan hanya padamu
Kuharap engkau masih mengingatnya
Jangan kau pernah melupakannya
Hitamku ~ Andra and the backbone
Semua tamu bertepuk tangan setelah pemuda tersebut menyelsaikan lagunya, sedangkan Gerhana dan Gendis hanya saling pandang tanpa mengeluarkan suara, tapi dari tatapan matanya nampak jelas kalau mereka sedang beradu argumen
"Selamat ya, Ge!" Ucap pemuda tersebut saat menyalami Gerhana
"Hmmm," jawab Gerhana dengan wajah tak bersahabat, "apa nggak ada lagu lain yang bisa lo bawain selain itu?" lanjutnya menatap pemuda tersebut
"Banyak sebenernya, cuma gue pengen lagu itu aja!" Jawab pemuda tersebut santai
Gerhana mengepalkan tangannya saat pemuda tersebut menyalami istrinya
"Selamat ya, Ndis!" Ucap pemuda tersebut ramah
"Makasih, Mas," balasnya ramah, "Mas abi kapan nyusul?" Lanjut Gendis, ya pemuda tampan tersebut adalah Abimana Putra Alvaro yang tak lain adalah mantan bos Gendis
"Do'a kan dapet calon secepetnya aja."
Gendis hanya bisa tersenyum menanggapi, sedangkan suaminya sudah memasang wajah ditekuknya sedari tadi
__ADS_1
"Kamu kenapa sih, Sayang?" Tanya Gendis menatap suaminya
"Nggak apa!" balasnya singkat padat dan jelas
Gerhana lalu turun dari pelaminan dan berjalan kearah para pemain musik dan duduk didepan piano
"Lagu ini saya persembahkan untuk wanita yang paling saya cintai," ucapnya memberi jeda, "perasaan saya untuknya lebih besar dari pada lagu ini, semoga kalian bisa menikmatinya."
Gerhana mulai menarikan jemarinya dengan lincah diatas tuts tuts piano dihadapannya, ia bersiap menyanyikan sebuah lagu
Dengarkanlah, wanita pujaanku
Malam ini akan kusampaikan
Hasrat suci kepadamu, dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin mempersuntingmu
'Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buat 'ku hancur
'Ku tak akan mengulang 'tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Dengarkanlah, wanita impianku
Malam ini akan kusampaikan
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin mempersuntingmu
'Tuk yang pertama dan terakhir
Janji Suci ~ Yovie And Nuno
Gendis sangat terharu hingga menitikkan air matanya, ia tak menyangka jika pria arogan yang telah menikahinya beberapa bulan lalu kini bisa berubah menjadi seorang yang romantis
Semua orang bersorak sorai meneriaki koromantisan Gerhana, bahkan Micko sampai menuntun Gendis untuk berjalan kepanggung
Gerhana menyambut istrinya dan mengajaknya untuk naik ke atas, ia dengan mesranya menggandeng tangan Gendis
"Cium!"
"Cium!"
"Cium!"
Terdengar sorakan para tamu yang meminta Gerhana mencium Gendis diatas panggung. Dan dengan tak tau malunya, Gerhana memajukan wajahnya menghadap Gendis dan tangan kanan memegang tengkuk istrinya sedangkan tangan kiri melingkar dipinggang Gendis
Gerhana mulai mel*mat bibir ranum yang dihiasi lipstick itu dengan lembut, Gendis tertegun dengan ulah suaminya itu, namun didetik berikutnya ia memejamkan mata teduhnya menikmati permainan yang diciptakan sang suami
"Udah woy udah!" Teriak Banyu, "kalau mau lanjut di kamar aja, kasian mata para jomblo ternodai!" Lanjutnya kesal
__ADS_1
Gendis tersadar dengan teriakan Banyu, ia segera mendorong dada bidang suaminya agar melepaskan cium*n nya. Pipinya bersemu merah karena malu, sedangkan sang suami tetap bersikap biasa saja seolah tidak terjadi sesuatu apapun
***
Acara resepsi telah usai, semua tamu undangan yang hadir sudah kembali ke kamar hotel masing-masing untuk beristirahat. Sama halnya dengan Gendis dan Gerhana, mereka tengah bergantian untuk mandi
Setelah mandi mereka merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang pengantin yang dipenuhi kelopak bunga mawar
"Berasa jadi penganten baru terus ya, Sayang!" Ucap Gerhana dengan tangan membelai lembut pipi istrinya
Gendis tersenyum menatap pria yang telah menjadi suaminya tersebut
"Kamu ada satu atau dua atau tiga atau lebih tempat yang ingin dikunjungi, Sayang?" Tanya Gerhana lembut
"Sepertinya tidak!" Balas Gendis sambil mengingat-ingat
"Apa kamu nggak pingin ke Korea buat ngeliat Oppa-Oppa yang ganteng-ganteng itu?"
"Bagiku, suamiku lebih tampan dari siapapun!" Jawab Gendis menatap mata elang suaminya
"Sejak kapan kucing kecilku ini pandai menggombal?" Ucap Gerhana dengan mencubit gemas hidung istrinya
"Iiih sakit tau!" Sewot Gendis
"Uluh uluh, maaf sayangku." Gerhana semakin menggoda istrinya
Gendis memanyunkan bibirnya kesal, hal itu malah membuat sang suami semakin gemas dan mencium bibirnya
"Tapi memang kamu benar, Sayang. Kalau aku ini pria yang paling tampan." Ujarnya membanggakan diri
"Sombong!" Cibir Gendis, "tapi memang bener sih!" Lanjutnya
"Jadi kamu pengen kita bulan madu kemana, Sayang?" Ucap Gerhana mulai serius
"Bagaimana kalau kita umrah saja, Sayang!" Gendis memberi saran
"Itu ide yang bagus," balas Gerhana tersenyum dan menarik istrinya kedalam dekapan, "sekalian kita berdo'a minta momongan yang shalih dan shalihah."
Gendis mengangguk dan membalas pelukan suaminya
"Setelah itu kita ke England, bagaimana menurutmu, Sayang?" Tanya Gerhana dengan masih mendekap istrinya
"Boleh."
"Sekalian kita lihat rumah kita yang disana!"
"Apa kamu punya runah disana, Sayang?" Tanya Gendis yang memang tidak tau kalau suaminya punya perusahaan dan rumah diberbagai negara
"Tentu saja! Nanti aku akan ajak kamu untuk melihat rumah kita disana dan di beberapa negara lainnya." Ucapnya santai
Gendis melongo mendengar penuturan suaminya, ia tidak pernah membayangkan 'sekaya' apa suaminya itu, ia bahkan belum pernah sekalipun menginjakkan kakinya di kantor sang suami, entah istri macam apa pikirnya, tapi yang ia tau hanya, mau miskin atau kaya Gerhana tetaplah suaminya, jodohnya yang sudah digariskan oleh sang Maha Pencipta
Gendis memejamkan matanya menikmati dekapan hangat suaminya, tak lama kemudian Gerhana ikut menyusul istrinya menuju alam mimpi
***
Halo gaes! Gimana kabarnya kalen semua? Sehat selalu kan?
Maafin Mawar yang jarang update ya sekarang, karena terlalu sibuk didunia nyata jadi agak sulit kembali ke dunia halu
__ADS_1
Makasih banyak buat yang selalu setia sama kisah ke uwuan Babang Ge dan Gendis, salam sayang buat kalen semua
Peluk cium via online 🤗😘