
Sinar mentari telah menyapa bumi, diiringi cicit burung yang menari-nari seolah mengerti betapa riang hati yang sedang menanti pagi
Sepasang suami istri masih bercengkrama dibawah selimut tebalnya yang nyaman, tak menghiraukan sinar mentari yang mulai menyusup masuk melalui celah-celah gorden tebalnya
"Sayang, bolehkah aku bertanya sesuatu?" Tanya Gendis yang masih memeluk suaminya
"Tentu, apa yang ingin kau tau?" Balasnya seraya menatap wanitanya yang masih dalam dekapan
"Tentang mahar!" Ucap Gendis ragu, ia tak ingin suaminya salah paham dan mengira bahwa maharnya kurang
Gerhana mengernyitkan dahinya
"Kenapa maharnya 'hotel'?" ucapnya hati-hati, akhirnya Gendis berani mengungkapkan pertanyaan yang mengganjal dipikirannya sedari selesai akad nikah kemarin
"Apa kamu tidak suka?" Tanya Gerhana lembut
"Menurutku itu terlalu berlebihan!" Tukas Gendis mendongak menatap manik elang Gerhana
"Itu tidak sebanding dengan aku mendapatkan istri sepertimu." Balas Gerhana dengan mencium kening istrinya
Gendis tersipu malu dengan jawaban suaminya, hatinya seketika menghangat. Mungkin kah sudah mulai tumbuh benih-benih cinta dihati Gendis untuk suaminya pikir Gendis
"Ayo mandi!" Ajak Gerhana kemudian bangkit dan menggendong istrinya
Gendis tersenyum malu menatap pria yang tengah menggendongnya itu, walau sudah biasa tapi tetap saja ia masih merasa malu
Setelah selesai dengan ritual mandinya, mereka turun kebawah untuk sarapan. Ternyata Henny dan Hendra masih belum keluar kamar, sedangkan Banyu sudah stand by di meja makan
"Pagi pengantin baru!" Sapa Banyu meledek
"Pagi juga jomblo karatan." Balas Gerhana dan langsung mendapat sikutan dari istrinya
Henny dan Hendra datang, mereka kemudian mendudukan bokongnya ditempat masing-masing
"Pagi, Ma, Pa!" Sapa Gendis, Gerhana dan Banyu kompak
"Pagi, Sayang!" Balas Henny dengan senyuman khasnya
Setelah selesai makan, mereka berbincang terlebih dahulu dimeja makan seperti biasa jika hari libur
"Sayang, kamu tidak punya rencana untuk mengajak istrimu jalan-jalan? Dia pasti sangat suntuk dirumah." Ucap Henny melirik Gerhana
"Nah bener tuh kata Mama, masa selama jadi istri lo cuma diumpetin dirumah mulu!" Sahut Banyu
"Istri gue itu berharga, makanya harus dijaga dengan bener!" Sewot Gerhana, "lagian istri gue juga bukan untuk konsumsi publik, makanya nggak gue pamerin kemana-mana!"
"Alasan!" timpal Banyu memancing percikan perdebatan unfaedah dengan Gerhana
Gendis hanya diam menyimak perbincangan mereka, ia sebenarnya tidak terlalu ingin pergi keluar untuk jalan-jalan, karena seingatnya setiap kali ia keliar rumah pasti akan membuat masalah
"Udah, udah!" Henny melerai, "yang satu udah nikah, yang satu udah tua, tapi masih aja kaya anak-anak." Lanjutnya dengan memijat pelipisnya
"Baiklah, Ma! Aku akan mengajak istriku jalan-jalan," ucap Gerhana dan menarik tangan istrinya untuk berganti pakaian
Gendis dan Gerhana sudah siap dengan pakaian santai, mereka segera menuruni anak tangga dan berpamitan kepada orang tuanya, tak lupa Gerhana meledek Banyu terlebih dahulu
__ADS_1
"Gue kencan dulu, ya Nyu!" Pamitnya dengan senyum mengejek
"Ck! Buruan sana!" Banyu mendorong Gerhana agar cepat pergi, ia sudah tidak tahan diejek Gerhana terus menerus perihal status jomblonya
Gerhana segera melesatkan mobilnya keluar dari kediamannya, ia sengaja ingin menyetir sendiri, agar lebih romantis dengan istrinya
"Kamu ingin jalan-jalan kemana, Sayang?" Tanya Gerhana dengan melirik Gendis disebelahnya sekilas
"Terserah!" Jawab Gendis dengan menengok suaminya
"Bagaimana kalau belanja?"
Gendis menggeleng, ia ingat betul kala belanja dengan Gerhana pasti semua yang sudah ia sentuh akan dibelinya
"Nonton?" Tanya Gerhana
Gendis kembali menggeleng, ia masih ingat saat nonton bersama Abimana ia malah ketakutan dan hampir pingsan karena melihat banyak darah difilm yang sedang diputar
"Bagaimana kalau makan?" Tanya Gerhana masih mencoba sabar
"Kita kan baru saja sarapan, Sayang!" Balas Gendis melirik suaminya, "apakah tadi belum merasa kenyang?"
"Tentu saja sudah," ucapnya masih fokus menatap jalanan yang macet didepannya, "jadi kita mau kemana?" sambungnya melirik istrinya
"Terserah!" Jawab Gendis dengan santainya
Gerhana hanya bisa mengelus dadanya agar lebih sabar menghadapi wanita disebelahnya yang sungguh membingungkan. Ditanya kemana menjawab 'Terserah', namun saat direkomendasikan suatu tempat ia menolak
"Bagaimana kalau ke panti asuhan?" Tanya Gerhana setelah mendapatkan ide
Kekesalan Gerhana seketika lari kocar kacir entah kemana saat menatap senyum manis istrinya
Mereka membeli beberapa hadiah untuk anak-anak disana, rasanya sudah sangat lama Gerhana tidak pernah berkunjung kepanti asuhan, sejak orang tuanya meninggal
Setibanya disana mereka disambut hangat oleh pengurus panti, wanita tua itu dibuat takjub memandang mahakarya Tuhan yang luar biasa dihadapanya. Selama ini Gerhana adalah donatur tetap disana, namun sekalipun ia belum pernah bertemu dengan Gerhana
Baru kali ini Gerhana sendiri yang datang berkunjung, sedang biasanya Exel lah yang selalu mengurusi segalanya
"Saya Gerhana, dan ini istri saya, Gendis namanya!" Ucapnya saat berjabat tangan dengan wanita tua tersebut
Gendis tersenyum menyapa si wanita
"Saya Aminah, pengurus panti ini," Ujarnya, "suatu kerhormatan karena Tuan dan Nyonya bisa berkunjung secara langsung kemari."
"Panggil nama saja, Bu!" Timpal Gendis
"Mari saya antar menemui anak-anak!" Ujarnya sopan, ia lalu mengajak Gendis dan Gerhana menemui anak-anak yang sedang bermain
Bu Aminah memperkenalkan Gendis dan Gerhana kehadapan anak-anak, dan mereka langsung menyalami Gendis dan Gerhana secara bergantian sambil memperkenalkan diri
Gendis tersenyum melihat anak-anak yang bisa menerimanya dan sang suami dengan hangat, ia menemani mereka bermain dan Gerhana duduk dengan memandangi interaksi Gendis dan anak-anak panti tersebut
Hati Gerhana menghangat, membayangkan jika ia dan Gendis bisa segera mempunyai keturunan, betapa bahagianya mereka dan keluarga saat malaikat kecil hadir ditengah-tengah mereka
Gendis dan Gerhana berpamitan untuk pulang karena waktu telah menunjukkan pukul empat sore
__ADS_1
"Mommy dan Daddy pulang dulu, ya! Lain waktu kami akan berkunjung kemari lagi!" Pamit Gendis yang disambut raut sendu oleh anak-anak
Gerhana yang meminta untuk anak-anak panti memanggilnya dan Gendis, Mommy dan Daddy. Karena ia ingin bisa lebih akrab kepada anak-anak, sekalian latihan saat nanti mereka telah dikaruniai buah hati pikirnya
"Sayang, apa mau langsung pulang?" Tanya Gerhana dengan melirik sekilas istrinya yang duduk disamping kemudi
"Terserah," jawab Gendis
Gerhana hanya bisa menghela napas mendengar jawaban istrinya yang setiap ditanya jawabnya selalu 'Terserah'
"Bagaimana kalau kita nonton?"
"Kurasa bukan ide yang buruk," jawab Gendis melirik suaminya, "tapi aku tidak ingin nonton film action."
"Kenapa?"
"Aku tidak suka melihat banyak darah," balas Gendis menunduk, "aku takut!" Sambungnya
"Baiklah, kita nonton film romantis saja."
Gendis dan suaminya telah duduk di Studio XX untuk menonton film yang telah dipilih Gerhana, ia sengaja memilih kursi pojok paling atas agar bisa lebih menikmati film entah ada maksud terselubung, hanya Tuhan dan Gerhana yang tau
Gerhana sangat menikmati film yang sedang diputar, ia sesekali menyuapi istrinya popcorn yang dibelinya sebelum membeli tiket masuk. Saat adegan berci*man Gendis memilih untuk memalingkan wajahnya karena malu, hal itu malah dimanfaatkan Gerhana untuk meniru adegan tersebut
Gendis berjingkat saat tangan sang suami meraih tengkuknya dan mulai mel*mat bibirnya, ia berusaha mendorong dada bidang Gerhana agar mau melepaskan ci*mannya. Namun bukannya dilepaskan, Gerhana malah semakin semangat menggoda istrinya
"Napas, Sayang!" Bisik Gerhana saat melepas ci*mannya
"Bisakah tidak mesum disembarang tempat!" Tukas Gendis kesal
"Apakah Nyonya tidak suka?" Godanya, "kalau tidak suka ditempat seperti ini, mari kita pulang saja." Lanjutnya
"Ck! Dasar tidak tahu malu!" Gendis berdecak kesal
Melihat Gendis yang kesal, Gerhana malah semakin bersemangat menggoda istrinya. Hingga film selesai diputar Gerhana terus saja menggoda Gendis, membuat istrinya semakin kesal
"Udah dong ngambeknya," Ucap Gerhana saat sudah sampai di parkiran
"Kamu mesum!" Gendis bersedekap sambil bersungut-sungut
"Maaf, Sayangku!"
"Pokoknya aku nggak suka kalau kamu seperti ini lagi ditempat umum!" Ketus Gendis memperingati
"Baiklah, kalau ditempat sepi boleh kan?". Tawar Gerhana
"Tentu saja!" Jawab Gendis, kemudian ia menutup mulutnya karena malu telah keceplosan
Gerhana lalu mengajak istrinya untuk masuk kedalam mobil setelah ia membukakan pintu, kemudian melajukan mobilnya menuju restauran untuk makan malam sebelum pulang
***
Gimana kabar gaes, baik kan? Jangan lupa selalu jaga kesehatan ya, karena mencegah itu lebih baik dari pada mengobati
__ADS_1
Jangan lupa jejak biar Mawar semangat up nya, salam sayang buat kalen semua. Peluk cium via online 🤗😘