
Tolong beritahu aku bagaimana sikapku, agar aku tak salah menafsirkan arti perubahanmu ~ Gendis Alamanda
Tiga hari sudah Gerhana berada di Inggris, pagi ini dia telah bersiap untuk pulang ke tanah air, entah kenapa ia sangat merindukan istrinya. Perasaan macam apa ini pikirnya
Ia masih belum menyadari perasaannya, karena menurutnya Gendis masih terlalu abu-abu, yang terkadang meyakinkan namun terkadang meragukan
Perjalanan yang memakan waktu lebih dari enam belas jam itu benar-benar membuatnya lelah, tepat pukul satu siang ia telah berada dikediamannya di Jakarta
Ia dan Banyu sudah disambut dengan para pelayan dan pengawal yang berjajar rapi, dan di antara mereka berdiri sosok gadis cantik dengan gaun sebatas lutut dan rambut yang dibiarkan tergerai sedang tersenyum manis dihadapannya
Segera Gerhana menghampiri gadis tersebut dan tanpa aba-aba memeluknya erat, menumpahkan segala rindu yang membuat dadanya terasa sesak.
Sontak perbuatan Gerhana membuat semua orang melongko, termasuk juga Banyu yang berada dibelakangnya
Gendis diam mematung, ada apa dengan pria yang sedang memeluknya ini, apakah ia kesambet pikirnya
"Mata jomblo gue ternoda ngeliat adegan kalian ini," Banyu mencibir sambil berlalu, "dilanjut dikamar aja romantis-romantisannya, jangan disini! Banyak dari mereka juga jomblo kayak gue." Banyu menengok kemudian melanjutkan langkahnya
Ucapan Banyu seperti tamparan bagi Gendis, ia segera melepaskan pelukan Gerhana dengan wajah merah merona menahan malu, sedangkan Gerhana tetap seperti biasa dengan tampang dinginnya seolah tidak terjadi apapun
Gerhana menarik tangan Gendis untuk mengajaknya kekamar, mereka menaiki satu persatu anak tangga dengan pikiran masing-masing
Gendis masih bingung dengan sikap Gerhana, 'apakah ia telah berubah? atau malah ini adalah salah satu rencananya untuk menyakiti ku?' Gendis membatin
Sedangkan Gerhana masih sibuk memikirkan bagaimana cara memulainya, sungguh ia tidak ahli dalam hal seperti itu
Setibanya dikamar, Gerhana langsung melepaskan tangan istrinya, "Siapin air untuk mandi dan baju ganti!" ucapnya dingin
Gendis mengangguk dan menuruti semua keinginan suaminya itu, setelah semua siap Gendis hendak keluar seperti biasa, namun Gerhana mencekal tangannya
"Tunggu disini aja!" Titahnya dan mendudukan Gendis disofa
Gendis hanya mengangguk pasrah
Setelah selesai mandi, Gerhana keluar hanya mengenakan handuk yang melilit pinggang nya, menampilkan perut kotak-kotak bak roti sobek itu. Ia berjalan mendekati istrinya, seketika itu pula Gendis menunduk malu melihat pemandangan yang membuat khilaf mata itu
"Kamu kenapa nunduk gitu? Malu?" Gerhana semakin mendekati istrinya, membuat pipi Gendis semakin merah karena malu
'Apa tadi dia bilang? 'kamu'? Aku nggak salah dengerkan?' batin Gendis
__ADS_1
"Keringin rambutku," Gerhana menyerahkan handuk kecil ketangan istrinya
Gendis semakin tak mengerti dengan pria dihadapannya ini, tanpa banyak bertanya Gendis segera mengambil handuk kecil tersebut dan dengan perlahan mulai mengusapkannya kerambut suaminya itu
Gerhana begitu menikmati sentuhan lembut dari istrinya, ia memejamkan mata untuk nenghilangkan kegugupannya
Setelah rambutnya kering, Gerhana segera berganti pakaian. Sedangkan Gendis masih duduk disofa tanpa berani untuk beranjak pergi
"Temenin gu... Eh aku tidur." Ucap Gerhana keder karena belum terbiasa dengan panggilan aku-kamu
Gendis mengernyitkan dahinya, 'Apa sebenarnya yang kamu rencanakan, Tuan Muda?' batin Gendis
"Tetap disitu lalu ku gendon, atau jalan sendiri?" Ucap Gerhana dengan seringainya
Dari pada digendong, Gendis segera berjalan menuju ranjang. Gerhana menepuk ruang disebelahnya untuk Gendis tidur
Gadis itu hanya bisa menuruti kegilaan suaminya, ia membaringkan tubuhnya disebelah Gerhana. Dadanya bergemuruh, jantungnya berdetak terlalu kencang seolah ingin kompat dari tempatnya
Gerhana memeluk tubuh istrinya dan menikmati wangi lembut itu, ia menghirup dalam-dalam aroma yang menenangkan itu. Tapi bukannya tenang, jantungnya malah serasa dangdutan didalam club, jedag jedug tidak karuan
"Biarkan tetap seperti ini, sampai aku bangun nanti," ucapnya dengan membelai lembut rambut istrinya
Kantuk pun menyerang Gendis sebab belaian lembut tangan suaminya. Gendis tertidur didalam dekapan Gerhana, sedangkan Gerhana masih menikmati aroma tubuh istrinya itu
Gerhana mengecup lembut kening istrinya dan mulai memejamkan mata indahnya menyusul Gendis kealam mimpi
Selang beberapa saat, Gerhana terbangun dan masih mendapati istrinya tertidur pulas dengan tangan melingkar dipinggangnya. Seolah tak bosan, Gerhana terus saja memandangi wajah tenang istrinya yang masih terlelap. Ia tersenyum dan mengecup bibir Gendis singkat
Dengan perlahan Gerhana memindahkan lengan Gendis dari perutnya, ia turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar. ia menuruni satu persatu anak tangga menuju pantry, ia mengambil makanan dan membawanya kembali kekamar
Ia membuka pintu secara perlahan agar tidak membangunkan kucing kecilnya yang tengah berpetualang dialam mimpi. Makanan ia letakkan diatas nakas dan kembali membaringkan tubuhnya disamping Gendis
Ada desiran aneh didalam dadanya ketika menatap Gendis, entah desiran apa pikirnya. ia melingkarkan kembali tangannya untuk mendekap sang istri dan memejamkan matanya
Gendis menggeliat didalam dekapan Gerhana. Ia mengerjabkan matanya berberapa kali untuk memastikan apakah ia bermimpi atau berhalusinasi, ia mencubit pipinya untuk nemastikan bahwa ini nyata. Dan ternyata pipinya bisa merasakan panas akibat cubitannya,
"Mas Gerhana," gumam Gendis lirih namun masih bisa didengar oleh Gerhana yang memang tidak tidur
Seketika dada Gerhana serasa diguyur es satu ember karena mendengar Gendis menyebut namanya. Ia mendekap erat istinya itu, dengan perasaannya campur aduk
__ADS_1
Gendis mencoba melepaskan pelukan suaminya yang terasa menyesakkan, ia mendongak memandang wajah tampan yang sedang mendekap tubuhnya
"Apakah aku setampan itu saat memejamkan mata?" tanya Gerhana tanpa membuka matanya, "Tidak ada orang lain yang bisa memandang ketampananku sedekat ini," kelakarnya
Seolah sedang tertangkap basah mencuri kolor tetangga, Gendis malah semakin membenamkan wajahnya didada bidang Gerhana, biarlah dikira gadis tak tau diri pikirnya
"Gendis!" Panggil Gerhana dengan dingin, entah karena setelan pabriknya atau bagaimana sikap dinginnya masih terus terasa walau jarak sedekat ini pikir Gendis
Gendis mendongak menatap manik hitam yang sedang menatapnya intens
"Apakah kamu bahagia selama menjadi istriku?" Tiba-tiba Gerhana bertanya seperti itu membuat Gendis bingung
Gerhana melepaskan pelukannya, lalu berjalan kedalam ruang ganti tanpa mengucapkan sepatah kata pun
'*Apakah dia marah karena aku tidak menjawab pertanyaannya? Tapi aku harus menjawab apa? Hidupku terasa mati karena kehilangan semua yang kusayangi, apakah masih bisa dikatakan bahagia?
'atau.... Apakah dia akan menceraikan aku karena dia merasa aku tak pantas menjadi istrinya? Jika ia, aku akan berusaha untuk ikhlas, aku cukup sadar diri siapa dan darimana asalku*' batin Gendis menerka-nerka
Tiba-tiba air matanya menetes, membayangkan ia akan menjadi janda diusia yang masih sangat muda, bagaimana masa depannya, tentu ia akan menjadi bahan cemoohan orang-orang
'Mungkin sudah menjadi garis takdirku untuk selalu dihina dan dicemooh orang' batin Gendis, dadanya terasa sakit. Seandainya ia boleh memilih, maka ia akan lebih memilih untuk ikut bersama keluarganya dialam yang kekal dari pada hidup seorang diri dan jadi bahan ejekan orang-orang
***
Halo gaes! Gimana kabar hari ini? Masih selalu diberi kesehatan kan?
Udah senyum belum hari ini?
Jangan lupa selalu tersenyum agar selalu terlihat bahagia walau sebenarnya ambyar๐
Ada yang DM Mawar bilang gini
Miss x : Kamu author Mawar Bunga kan?
Mawar : Iya, kenapa?
Miss x : Kamu niat bikin novel apa jualan bawang sih? Nangis mulu aku baca yang TAWANAN, kalo yang pertama ngukuk terus
Mawar : ๐๐ maafkan jari Mawar yang kadang demen ngiris bawang dibeberapa parts
__ADS_1