Tawanan

Tawanan
Bab 51


__ADS_3

Setelah melamar Anggi, Mahen segera mengajak Anggi kekampung halamannya untuk meminta restu kepada orang tua Anggi. Awalnya orang tua Anggi menolak, karena mereka merasa Anggi tidak sepadan dengan Mahen


Namun Mahen berupaya keras meyakinkan orang tua Anggi kalau ia memang bersungguh-sungguh ingin menikahi putri mereka. Bahkan Teguh pun ikut turun tangan membantu meyakinkan calon besanya kalau ia sama sekali tidak pernah menilai seseorang dari harta yang mereka miliki


Akhirnya orang tua Anggi luluh dan mengizinkan Mahen mempersunting putri mereka. Saat pernikahan Anggi dan Mahen, Ratri tidak menemani putranya sebagai tanda bahwa ia tidak pernah merestui hubungan mereka


Setelah Anggi dan Mahen menikah, Teguh membelikanya sebuah rumah minimalis yang sangat cocok untuk pasangan pengantin baru. Mereka menempati rumah barunya dan hidup bahagia berdua


Namun hingga hampir dua tahun menikah Ratri tak pernah sekali pun mengunjungi putra dan menantunya, lain halnya dengan Teguh dan putra bungsunya yang lebih betah dirumah putra sulungnya dari pada dirumahnya sendiri


Anggi adalah istri yang baik, ia pandai memasak dan mengurus keluarga, Teguh yang tidak mempunyai seorang putri pun sangat menyayangi Anggi selayaknya putrinya sendiri


Mahen sendiri masih melanjutkan S2 nya sambil bekerja diperusahaan Papanya, ia adalah suami yang penyayang, sabar dan sangat bertanggung jawab


Melihat putranya begitu bahagia bersama dengan gadis pilihannya membuat Teguh ikut merasa bahagia, lain halnya dengan Ratri yang terus berupaya untuk menyingkirkan Anggi


***


Dian kembali ke Indonesia setelah dua tahun lamanya berusaha menyembuhkan luka batinnya


Ratri yang mengetahui kepulangan Dian segera mengajaknya untuk bertemu disebuah restaurant


"Bagaimana kabar kamu, Sayang?" tanya Ratri seraya memeluk dan mencium pipi Dian


"Baik, tante bagaimana?" jawab Dian seraya membalas pelukan Ratri


"Seperti yang terlihat," Ujar Ratri kemudian mendudukan bokongnya dikursi


"Bagaimana dengan Mahen dan istrinya, Tante?" raut wajah Dian berubah sendu, "apakah mereka sudah punya momongan?"


"Jangan membahas gadis itu, kau tau tante tidak menyukainya dan tidak pernah merestui mereka!" Tegas Ratri


Dian hanya diam tak menjawab ucapan Ratri


"Apakah kamu sudah tidak mencintai putraku?" tiba-tiba Ratri bertanya demikian dengan menatap lekat Dian


Dian menunduk jauh didalam hatinya, ia masih sangat menginginkan Mahen, namun apadaya Mahen sudah memilih Anggi sebagai pelabuhan terakhirnya


"Tante akan membantumu mendapatkanya kembali!" Ratri berujar dengan mantap, "karena hanya kamu yang pantas bersanding dengan Mahen


"Tapi dia tidak mencintaiku, tante!"

__ADS_1


"Cinta akan datang seiring berjalannya waktu!" tukas Ratri


Awalnya Dian tidak mau, namun rasa cintanya yang begitu besar mampu membutakan mata hatinya, ia bertekad untuk bisa memiliki Mahen dengan cara apapun, termasuk menyingkirkan rivalnya


Ratri dan Dian menyusun rencana untuk menyingkirkan Anggi dari kehidupan Mahen. Mereka akan segera melancarkan aksi jahatnya


***


Dian menemui Mahen, dengan alasan penyambutan sahabat, Dian mengajak Mahen untuk makan malam berdua. Mahen menolak dengan tegas karena ia sudah mempunyai istri


Akhirnya Dian yang mendatangi Anggi sendiri untuk meminta izin. Sedangkan Anggi tak menaruh curiga sedikitpun terhadap Dian hingga ia mengizinkan suaminya untuk makan malam bersama Dian


"Ku harap ini yang terakhir kalinya kamu mengajakku pergi berdua, Dian!" Tegas Mahen setelah duduk dikursi pengujung


Awalnya Dian mengajak Mahen untuk makan malam direstauran yang ada di hotel milik kakaknya, namun Mahen menolaknya dan lebih memilih untuk makan dikafe saja


Akhirnya Dian menyetujui, asalkan rencananya tidak gagal pikir Dian. Ia sudah memberitahu Ratri perihal mereka tak jadi untuk makan malam di hotel dan Ratri mu mengiyakan asalkan Mahen mau menemui Dian


"Aku ketoilet sebentar!" Pamit Mahen dan diangguki oleh Dian


Seolah Dewi Fortuna sedang berpihak padanya, ia segera menaruh obat tidur kedalam jus jambu milik Mahen


"Cepat habiskan jus mu, dan segera antarkan aku pulang!" Ucap Dian setelah Mahen kembali dari toilet


Setelah itu Mahen pergi kekasir untuk membayar semua makanan dan minuman yang mereka pesan, awalnya Dian lah yang akan membayar namun Mahen menolaknya karena ia adalah seorang laki-laki tidak mungkin meminta traktiran kepada seorang wanita


Saat didalam mobil hendak mengantarkan Dian, tiba-tiba Mahen merasakan sakit yang luar biasa dikepalanya dan seketika itu ia pingsan


"Apa obat yang gue kasih terlalu banyak, hingga dia merasakan sakit kepala bukannya mengantuk" gumam Dian, ia segera memutar posisi dengan Mahen yang duduk di sebelah kemudi dan ia yang mengemudikan mobil milik Mahen


"Terserah deh, yang penting dia nggak sampe mati!" Gumam Dian, ia kemudian melajukan mobilnya menuju hotel yang sudah disiapkan oleh Ratri


Dian dibantu oleh beberapa orang suruhan Ratri membawa Mahen kedalam salah satu kamar yang sudah disiapkan. Dan ratri sudah berada disana bersama seorang photographer yang akan mengabadikan momen Mahen dan Dian


Ratri sudah melepas kemeja Mahen yang sudah tertidur pulas diatas ranjang, segera Dian pun melepas pakaiannya, ia hanya memakai tangtop dan berbaring disamping Mahen


Segera sang photographer sewaan Ratri mengabadikan momen tersebut, Dian berganti-ganti posisi, ada yang memeluk Mahen, ada yang ia dipeluk Mahen dan ada dia yang mencium pipi Mahen


"Sempurna!" Ucap Ratri setelah melihat hasil jepretan sang photographer


Segera Ratri memakaikan kembali kemeja putranya dan membawanya pulang kerumahnya setelah ia memberikan uang kepada sang photographer dan orang-orang yang terlibat didalam skandal tersebut

__ADS_1


***


Dikediaman Mahen dan Anggi


Anggi merasa gelisah karena hingga pukul sebelas malam suaminya tak kunjung pulang, ia segera saja menampik pikiran-pikiran kotor yang terlintas dikepalanya


Ia terus berjalan mondar-mandir didepan pintu untuk menunggu suaminya. Hingga pagi hari tiba, ia terbangun dengan posisi tidur disofa ruang tamu dan ternyata Mahen masih belum kembali


"Kemana kamu, Mas?" Lirih Anggi, tak terasa bulir bening menetes begitu saja lalu buru-buru ia menghapusnya


Anggi segera memasak dan membereskan rumah, saat hendak membuang sampah tiba-tiba mertuanya datang dengan tatapan sinis yang tak bersahabat


Anggi berjalan menghampiri Ratri dan hendak menyalaminya, namun Ratri dengan kasar menampik tangan menantunya itu


"Jangan pernah menyentuhku dengan tangan kotormu itu!" Sarkasnya


Anggi hanya bisa menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan, 'sabar Anggi, sabar!' batinya menenangkan


Ratri segera mengambil amplop cokelat dari dalam tasnya dan melemparkannya kewajah Anggi. Batin Anggi menangis menerima perlakuan buruk ibu mertuanya, selama ini belum pernah ada yang memperlakukanya dengan seburuk ini


"Mahen itu tidak cocok dengan gadis kampungan dan miskin sepertimu," ucap Ratri penuh penekanan, "Dia hanya cocok bersama Dian, gadis yang sepadan dengan kami!"


Anggi hanya diam, tak mampu membalas perkataan tajam mertuanya itu


"Buka amplop itu, dan lihatlah betapa Mahen sangat bahagia bersama Dian," ucapnya sinis


Bagaikan disambar petir disiang bolong, hati Anggi seketika hancur berkeping-keping melihat foto suaminya sedangbtidur bersama perempuan lain. Seketika ia terduduk lemas dengan Air mata yang siap meluncur bebas


"Seharusnya kau sadar! Siapa kau dan siapa Mahen!" Ucapnya dengan sinis, "ingatlah darimana asalmu, seorang gadis kampung tidak akan pantas bersanding dengan pria idaman seperti putraku!" Lanjutnya kemudian berlalu pergi meninggalkan Anggi yang menahan sakit didalam hatinya


Ucapan tajam Ratri terus terngiang-ngiang ditelinga Anggi, ia hanya bisa menangis dan terus menangis


"Maafkan Bunda, Sayang!" Ucapnya seraya mengusap perut ratanya, "kita harus pergi menjauh dari ayahmu, bahkan sebelum ia tau jika kau sudah tumbuh disini" lanjutnya dengan lelehan air mata yang sudah menganak sungai


Ia berencana akan memberitahu suaminya saat ia kembali semalam, namun harapan tinggalah harapan yang ada tinggalah luka hati yang menganga


Ia segera mengemasi baju-bajunya dan pergi kepangkalan ojeg untuk meminta diantarkan keterminal. Ia sudah bertekad untuk kembali ke Yogya bertemu orang tuanya


***


Jangan lupa jejak ya readers, biar Mawar makin semangat up nya

__ADS_1


Salam sayang, Peluk cium via online untuk kalen tercintaaah🤗😘


__ADS_2