Tawanan

Tawanan
Bab 42


__ADS_3

Setelah semua orang pergi, tinggalah Samuel, Gerhana dan istrinya diruangan itu


"Kak, bisakah kalau besok aku pulang? Aku sudah merasa lebih baik," ungkap Samuel


"Kau masih belum sembuh, Sam! Tinggalah beberapa hari disini." jawab Gerhana santai


Samuel bingung ingin mengungkapkan unek-uneknya, dia sungguh merasa tak nyaman diruang rawat kelas sultan seperti ini, yang dia pikirkan adalah bagaimana caranya membayar, ia tak mungkin meminta uang dari orang tuanya, sedang mereka sengaja tak ingin Samuel beri tahu agar tak khawatir


"Emmm ruangan ini terlalu mewah, Kak. Bagaimana bisa aku membayarnya?" Samuel berucap lirih


"Ha ha ha, tenanglah Sam, kau tidak perlu memikirkan hal itu." Gerhana malah tertawa menanggapi ucapan Samuel


"Tapi, Kak. Aku tidak mau merepotkanmu," jawabnya lirih, ia sungguh malu jika harus merepotkan orang lain


"Aku bahkan tidak merasa direpotkan," jawabnya santai sambil menatap Samuel, "kau adalah sahabat istriku, orang yang selalu baik dan melindunginya selama ini, jadi sekaranglah saatnya aku untuk membalas kebaikanmu." Lanjutnya


"Tapi, Kak.... "


"Tidak ada tapi-tapian, nikmatilah waktu istirahatmu selama disini, sebelum kembali bergelut dengan tugas yang tiada habisnya!"


Samuel benar-benar merasa sungkan terhadap kebaikan Gerhana, ia juga sangat bersyukur karena wanit yang dicintainya hidup bahagia bersama pria yang mencintianya


"Apa kau mengenal mereka, Sam?" tanya Gerhana setelah hening beberapa saat


"Aku bahhkan tidak melihat wajahnya, Kak." Jawabnya jujur


"Dari keterangan polisi, motif mereka adalah balas dendam, karena kamu sudah merebut pacarnya," terang Gerhana


Samuel mengernyit, "Siapa yang merebut dan siapa yang direbut!" gumamnya dan masih bisa didengar Gerhana


"Mereka adalah teman-teman Robert, kamu kenal?"


"Robert itu setahuku adalah mantan pacar Pricilia atau Cia, Kak!"


"Yang tadi?" Gerhana meyakinkan


Samuel mengangguk, "tapi aku tidak menjalin hubungan apapun denganya, hanya sebatas teman kampus, itu saja!" ucapnya


***


Tak terasa lima hari sudah berlalu, dan Samuel saat ini telah diperbolehkan untuk pulang, Gendis sudah menyiapkan segala barang-barang mereka yang ada diklinik, dibantu oleh Mela


"Tinggalah dirumah kami sampai keadaanmu benar-benar pulih, Sam!" Pinta Gerhana

__ADS_1


"Aku sudah jauh lebih baik, Kak," balas Samuel sopan, "aku sudah bisa mengurus diriku sendiri." Lanjutnya


"Mana mungkin, tanganmu saja masih terlihat memar, bagaimana bisa untuk mengerjakan tugas mengurus dirimu sendiri!"


Samuel sungguh merasa tak enak hati dengan segala kebaikan Gerhana, sudah menyelamatkannya dari brandalan-brandalan itu, merawatnya selama dirumah sakit, serta membayar semua tagihannya, lalu sekarang meminta Samuel untuk tinggal di rumahnya


Samuel masih cukup tau diri untuk tidak terlalu bergantung dan merepotkan orang lain, apalagi orang tersebut notabene nya adalah suami sahabatnya


Akhirnya Gerhana mengalah dan membiarkan Samuel untuk kembali ke kosannya, tapi ia tetap mengirim orang untuk menjaga dan membantu keperluan Samuel selagi belum benar-benar pulih


***


Dikedimaan Tuan Muda


Gerhana sedang sibuk berkutat dengan pekerjaannya, walaupun hari sabtu tapi ia tetap harus memeriksa beberapa dokumen dan menandatanganinya


Gendis masuk dengan membawa secangkir kopi dan cemilan untuk suaminya, ia meletakkan kopinya diatas meja. Tiba-tiba ia duduk dipangkuan suaminya yang sedari tadi tidak menghiraukan kehadirannya


"Apa kau sedang menggodaku, Nyonya?" ucap Gerhana menatap manik indah istrinya


Gendis menggeleng, "Ini semua karena kamu tidak mengindahkan kehadiranku!"


"Benarkah?" balasnya dengan senyum menggoda


"Sayang!" panggil Gendis manja


"Hmmm," Jawab Gerhana tanpa mengalihkan pandangan dari tumpukan dokumen


"Apakah lembaran-lembaran kertas itu lebih penting dariku," batinnya kesal


Gendis yang kesal karena merasa diabaikan hendak beranjak pergi, namun dengan gesit Gerhana menarik pinggang ramping istrinya agar kembali duduk dipangkuannya


"Mau kemana?" Gerhana menatap istrinya


"Mau ketaman!" jawabnya ketus


"Marah?"


"Tidak!" jawab Gendis


Gerhana yang gemas melihat wajah kesal istrinya lalu menghujani pipi mulus itu dengan kecupan-kecupan sayang


"Hentikan!" ketus Gendis

__ADS_1


Gerhana tak hilang akal ia meraih tengkuk istrinya kemudian memajukan wajahnya dan mulai menikmati bibir ranum yang selalu menjadi candu itu. Gendis yang kesal tak mau membalas cium*an yang diberikan suaminya


Gerhana selalu menggila disaat-saat seperti ini, ia lalu menekan remot untuk mengunci pintu ruang kerjanya. Ia membopong tubuh mungil Nyonya Gerhana dan membaringkannya disofa, ia kembali mel***t bibir Gendis dengan rakus dan tangannya mulai bergerilya menjelajahi setiap lekuk tubuh istrinya


Sungguh tubuh yang menghianati hati pikir Gendis, karena tubuhnya merespon setiap sentuhan suaminya. Padahal ia masih sangat kesal karena merasa diabaikan, "Aiiiih dasar tubuh penghianat! Atau lanjut nanti saja ngambeknya?" batinya bimbang, disatu sisi ia kesal tapi disisi lain ia ingin


Gerhana mulai melucuti satu persatu pakaian yang dikenakan istrinya, hingga menampilkan pemandangan indah yang luar biasa. Gendis tak tinggal diam, ia pun membantu Gerhana melepaskan pakaiannya


Lidahnya yang nakal mulai mengeksplore semua bagian tubuh istrinya, ia menjilat, menghisap, dan bermain-main dibagian yang menjadi favoritnya


"Apa kau masih marah, Nyonya?" tanyanya seraya mendongak menatap istrinya


"Tentu saja!" jawabnya masih menggunakan mode ngambeknya


Gerhana yang gemas melihat tingkah istri kecilnya semakin liar menjelajahi hutan rimba milik istrinya, ia mencari sumber air dan mulai menjilat kemudian menghisapnya, menimbulkan sensasi yang tidak bisa diungkapkan oleh Gendis


"Sayang!" panggil Gendis dengan desahannya


Darah Gerhana semakin mendidih karena suara Gendis yang terdengar begitu sexy itu, ia semakin bersemangat bermain-main di lembah istrinya


"Sayaaaaang!" Gendis semakin menggila


Gerhana mulai merangkak naik mendaki gunung dan menghisap sumber mata air disana, membuat sang empunya tak dapat menahan diri. Gendis menekan kepala suaminya agar semakin memperdalam hisapan nya


"Uuuuh, Sayaaaaaang!" Desahan demi desahan lolos begitu saja dari bibir mungil Gendis


Gerhana yang sudah menahan diri sedari tadi akhirnya mengakhiri foreplay nya


Junior Gerhana memulai aksinya dengan mencari tempat hangat favoritnya, ia mulai memasuki tempat yang sempit juga hangat itu, terkadang masuk semakin dalam terkadang keluar


"Faster, Sayang." Gendis yang sudah menggila tak dapat menahan diri lebih lama lagi


Junior Gerhana menambah ritmenya, Gendis menggeliat menikmati setiap permainan si Jun. Setelah lebih dari satu jam akhirnya si Jun muntah-muntah karena mabok perjalanan yang maju mundur nyungsep itu


***


Aduuh kepolosan Mawar ternodai gegara mikirin ini


Kalau kurang gereget tambahin sendiri ya gaes


Salam sayang dari Mawar, peluk cium via online🤗😘


Jangan lupa selalu tinggalkan jejak biar Mawar tau yang baca itu Manusia bukan Mbak Kunti dan Mas Wowo yang sekarang hobby baca novel di NT/MT karena udah beli kuota buat ngedownload

__ADS_1


__ADS_2