Tawanan

Tawanan
Bab 47


__ADS_3

Setelah mobil yang dikemudikan Max oleng dan menabrak pohon, beberapa orang pria berbadan tinggi besar keluar dari mobil jeep yang menembak ban mobil yang ditumpangi Gendis


Mereka menggedor jendela mobil Gendis dengan kuat


"Buka pintunya!" teriak mereka dengan terus menggedor kaca jendela


"Nyonya, sebaiknya anda tetap disini dan jangan keluar," pinta Mela


Darah segar sudah bercucuran dari dahi Mela akibat benturan keras pada dashboard mobil, tak beda jauh dengan Mela, Max pun terluka lumayan parah dikepalanya. Sedangkan Gendis hanya luka ringan


Max dan Mela tetap berusaha keras melindungi nyawa Nyonya Mudanya, akan lebih baik mereka yang tiada dari pada Gendis, pikirnya


"Kalian terluka, bagaimana ini?" ucap Gendis mulai panik


"Tenanglah, Nyonya. Kami baik-baik saja!" tukas Max


Mereka memecah kaca jendela mobil dengan menggunakan palu dan linggis, agaknya mereka telah merencanakan semua ini pikir Max


Setelah kaca terbuka, mereka membuka paksa pintu mobil dan menyeret Gendis keluar. Max dan Mela segera keluar untuk menolong Nyonya mudanya


"Lepaskan!" Teriak Gendis, "Siapa kalian?"


"Lepaskan Nyonya Muda!" Teriak Max, namun malah disambut gelak tawa oleh mereka semua


"Ya Allah lindungilah kami!" Gendis berdo'a dalam hati


'Saat ada yang menyakitimu, lawan Gendis! Lawan mereka!' tiba-tiba Gendis seolah mendengar suara Samuel yang terngiang-ngiang dikepalanya


'Lawan Gendis, Lawan!'


Tanpa pikir panjang Gendis menggigit tangan pria yang menariknya dengan kuat


"Aduuuuh aduuuh aduuuh!" Pria tersebut mengaduh kesakitan dan melepaskan cekalan tangannya, dengan cepat Gendis menendang pusaka pria tersebut kuat-kuat hingga dia jatuh tersungkur


Gendis memasang kuda-kuda siap tempur, tapi ia lupa untuk melepas sepatu hak nya terlebih dahulu. Max dan Mela terbengong sesaat menyaksikan bahwa Nyonya Muda yang dikiranya lemah ternyata seorang gadis tangguh


Mereka menyerang Gendis, dengan cepat Gendis membalas serangan mereka bertubi-tubi. Max pun sama, ia menghajar pria-pria tersebut dengan sedikit tenaga yang tersisa


Mela pun ikut membantu melawan mereka alakadarnya, karena pada dasarnya Mela tak tau tentang ilmu bela diri sedikitpun


Max dan Gendis sudah kewalahan menghadapi mereka yang jumlahnya tidak sebanding, salah satu dari mereka menyergap Mela dan menusuk perutnya menggunakan belati, Mela jatuh tersungkur


"Melaaaaaaa!" Teriak Gendis dengan air mata yang mulai berjatuhan


Max yang lengah pun segera disergap oleh mereka, kemudian salah satu dari mereka menghujamkan belati kedalam perut Max hingga ia jatuh tersungkur dengan bersimbah darah

__ADS_1


"Maaaaaaax!" Teriak Gendis yang sudah kacau


Tak ingin menyia-nyiakan waktu, salah satu dari mereka segera membekap mulut Gendis dari belakang menggunakan sapu tangan yang sudah diberi cairan bius. Perlahan tapi pasti Gendis jatuh tak sadarkan diri dan dengan sigap mereka membawa Gendis


***


Gerhana dan Banyu baru saja selesai meeting dengan client dari Jepang, mereka segera menuju parkiran dimana Exel sudah menunggu


Exel melajukan mobilnya setelah Gerhana duduk dikursi penumpang dan Banyu duduk disebelah Exel


Gerhana membuka layar kunci pada ponselnya, ia terkejut karena Hendra menelponnya empat kali


"Tidak biasanya Papa menelpon sampai sebanyak ini, apa ada hal yang penting." Gumam Gerhana yang masih bisa didengar Banyu


Banyu pun segera mengecek ponselnya, ia pun terkejut karena Papanya menelpon sampai tiga kali, "Papa juga nelpon gue!" ujarnya


"Apa ada yang sangat penting, sampai menelpon sebanyak ini?" ucap Gerhana penuh tanya


"Coba lo telpon balik, Ge!"


Gerhana segera menelpon Papanya, "Hallo, Assalamu'alaikum!" sapanya setelah telpon tersambung


"Wa'alaikumsalam, darimana saja, kenapa tidak ada satu pun yang menjawab telpon Papa?" semprot Hendra setelah menjawab salam


"Tadikan Ge udah jelasin, Pa," jawab Gerhana, "Kami baru aja selesai meeting, sekarang lagi jalan pulang. "


Padahal Gendis baru berangkat lima belas menit yang lalu, tapi ia ingin agar putra dan menantunya bisa segera menghabiskan malam yang romantis bersama. Ia juga sudah menyiapkan kamar hotel disekitar pantai tersebut, yang menyajikan pemandangan langsung ketepi pantai


Hendra dan Henny sudah menyiapkan kamar mewah dengan taburan bunga dan lilin yang sudah siap dinyalakan kala Gerhana dan Gendis telah menyelsaikan makan malamnya. Mereka paham betul kala Gerhana tidak menyiapkan kamar pengantin yang indah saat mereka menikah dulu


Gerhana mengernyit, "memangnya ada apa sih, Pa?"


"Sudah cepat kesana, kasian istrimu sudah menunggu lama." Tegas Hendra dan tanpa menunggu persetujuan putranya ia segera menutup sambungan telponya


"Xel, cepat ke alamat ini," ujar Gerhana seraya memberikan ponselnya yang sudah stay di maps


Exel segera melajukan mobilnya menuju alamat yang diberikan Gerhana


"Ngebut, Xel!" Pinta Gerhana, "Kasian istriku udah menunggu lama disana."


Exel langsung menambah kecepatan laju kemudinya membelah jalanan yang kebetulan tidak terlalu padat


"Wah lo udah bosen idup Xel, Ge!" Ucap Banyu kesal karena Exel sudah selayaknya pembalap kala disirkuit saat ini, jantungnya serasa diajak maraton kala Exel semakin menambah kecepatannya


"Berisik!" tukas Gerhana

__ADS_1


"Gue bukan ikan, mana mungkin berisik!" jawab Banyu kesal


"itu bersisik pe'a, bukan berisik!" geram Gerhana


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan membuat pusing karena Banyu tak berhenti mengoceh, akhirnya mereka tiba ditempat tujuan


Gerhana segera berlari kecil menuju tempat yang sudah disiapkan oleh Hendra


"Tuan, mari ikuti saya," ucap pelayan sopan, ia bertugas untuk menyambut Gerhana dan Gendis


"Apakah istriku sudah sampai?" tanya nya sebelum berjalan mengikuti sang pelayan


"Belum, Tuan," jawabnya menunduk sopan, "padahal dari jadwal seharusnya Nyonya sudah sampai sejak setengah jam yang lalu." Lanjutnya menjelaskan


Gerhana segera menelpon Papanya, untuk memberitahukan kalau Gendis belum juga tiba ditempat tujuan


"Gendis sudah berangkat sejak pukul setengah tujuh, Ge!" jawab Hendra


"Tapi dia belum juga sampai, Pa," jawabnya mulai khawatir, "pergi dengan siapa dia, Pa?"


"Gendis bersama Maxxon dan Mela," jawab Hendra yang mulai merasa panik


Gerhana segera mematikan sambungan telponnya dan menghampiri Exel agar ia menghubungi Max. Namun hingga panggilan ketiga, Max tak kunjung mengangkat telponnya


Gerhana segera menghubungi istrinya, namun sama halnya dengan Max, hingga dering ke tiga, Gendis tak kunjung mengangkat telponnya


Exel mencoba menghubungi Mela namun sama saja, tidak ada satu pun yang merespon telponnya


Gerhana semakin gusar, pikirannya sudah melanglang buana memikirkan istrinya


"Coba cek dimana mereka, gue pasang Gps disemua kendaraan dirumah," ucap Banyu


Bagaikan angin segar, Gerhana segera mengecek keberadaan mobil yang ditumpangi Gendis


"Nggak jauh dari sini, tapi kenapa hanya berhenti disitu tanpa bergerak sedikitpun!" ucap Gerhana dengan mimik wajah tak terbaca


"Ini bukan jalan menuju kesini, Ge!" Tukas Banyu setelah ikut mengecek posisi mobil yang dikemudikan Max, "apa mereka tersesat, gue pikir nggak mungkin, Max adalah salah satu sopir terbaik."


Tak ingin membuang waktu, Gerhana meminta Exel untuk segera melajukan mobilnya menuju lokasi tempat Gendis berada


***


Sudah ada yang bisa nebak penjahitnya?


Ini udah detik-detik terungkap, tinggal satu eps ini, dan eps selanjutnya terungkap

__ADS_1


Salam sayang untuk kalian semua, jangan lupa jejak


Peluk cium via online 🤗😘


__ADS_2