
Bruk
Gerhana mendorong perempuan yang tiba-tiba duduk dipangkuannya dengan kasar hingga jatuh terjungkal, ia lalu bangkit dan menyedekapkan tangannya menatap tajam perempuan tidak tau diri itu
"Dasar nggak tau malu!" Sentak Gerhana
Perempuan tersebut menatap sendu Gerhana dengan bulir bening yang mulai berjatuhan dari mata coklatnya
"Maksud lo apa tiba-tiba masuk ruangan gue dan dengan tidak tau dirinya lo duduk dipangkuan gue? Apa urat malu lo udah putus?" Hardik Gerhana
"Kenapa, Ge? Kenapa elo nggak pernah mandang gue sedikitpun? Kenapa?" Perempuan tesebut berteriak dengan frustasi
Gerhana yang muak segera menghubungi Banyu, ia tak ingin membuat istrinya salah paham jika tau perempuan tersebut dikantornya
"Nyu, cepet keruangan gue!" Titahnya, kemudian menutup telponnya
"Kenapa, Ge? Jawab!" Perempuan tersebut mencoba memeluk Gerhana
Gerhana segera menepis tangan perempuan tersebut, "jaga sikapmu, Carolina!"
"Gue udah selalu berusaha biar elo ngeliat gue, tapi sikap dingin lo nggak pernah mencair sedikitpun buat gue!" Ucapnya dengan lelehan air mata yang menganak sungai, "gue harus gimana biar elo bisa sedikit ngeliat ketulusan gue?" Sambungnya
"Dengerin gue karena ini untuk pertama dan terakhir gue ngomong ini!" Gerhana menjeda ucapannya, "karena gue nggak pernah minat dan tertarik dengan perempuan-perempuan seperti elo! Dan gue tegasin 'jangan pernah ganggu gue atau ngusik kehidupan gue'!" Sambungnya dengan menekankan diakhir kalimat
"Satu lagi, jangan pernah elo coba-coba untuk mengusik istri gue, sehelai rambut pun yang jatuh karena elo, gue nggak akan pernah lepasin elo!" Tegasnya memperingati
Banyu datang dengan tergesa-gesa, ia lalu membuka pintu ruangan Gerhana dan betapa terkejutnya ia melihat sosok Carolina Muhtar yang tak lain adalah teman kampusnya dulu
"Carol?" Guman Banyu
"Cepat bawa perempuan ini keluar, dan bilang sama security buat jangan pernah ngebiarin perempuan ini menginjakkan kaki di kantor gue!"
Banyu segera berjalan mendekati Gerhana, ia masih tak mengeri dengan apa yang baru saja terjadi hingga membuat Gerhana nampak murka
"Apa yang terjadi?" Tanya Banyu
"Gue nggak suka ada perempuan tak tau diri menginjakkan kaki dikantor gue!"
Tanpa banyak berbasa basi karena melihat wajah Gerhana yang nampak memerah, Banyu segera menyuruh Carolina untuk pergi dari sana
__ADS_1
"Nggak usah pegang gue!" Carolina menepis tangan Banyu yang hendak mengusirnya, "Gue bisa pergi sendiri!" Sambungnya kemudian melangkahkan kakinya keluar ruangan Gerhana
***
Sementara itu ditempat lain, Gendis sedang asik memilih-milih pakaian bersama mertuanya. Walau sudah membeli begitu banyak barang, namun Henny tetap meminta Gendis untuk mencoba beberapa pakaian
"Ma, Gendis rasa ini udah lebih dari cukup deh!" Ucap Gendis yang sudah mulai lelah berburu segala macam kebutuhan wanita sedari tadi
Henny menengok kebelakang melihat barang yang telah dibelinya untuk Gendis sudah tertenteng penuh ditangan Max, Mela dan dua orang bodyguard
"Sekali lagi deh, kamu coba baju yang warna toska itu!" Ujarnya menunjuk baju yang terpajang ditubuh manekin, ia lalu memanggil pelayan toko untuk membantu Gendis mencobanya
Dengan berjalan gontai Gendis mengikuti si pelayan toko keruang ganti untuk mencoba baju pilihan Mama mertuanya, setelah itu ia keluar dan memperlihatkannya kehadapan Henny
"Luar biasa!" Ucap Henny takjub
Setelah itu Gendis kembali keruang ganti untuk berganti dengan dressnya tadi
Setiap kali Gendis hendak membayar tagihan, namun selalu saja tagihan tersebut telah dibayarkan oleh Henny. Hal itu semakin membuat Gendis tak enak hati
"Ma, kenapa jadi Mama yang beliin Gendis," Ucap Gendis merajuk, "harusnya kan Gendis yang belanjain!"
"Nanti uang suamiku yang sultan itu nggak bisa berkurang kalau Mama begini!" Canda Gendis
Henny tertawa dengan celoteh menantunya, ia begitu gemas dengan tingkah menantunya. Ia merasa seolah menemukan anak perempuan yang sedari dulu ia dambakan, hal itu membuatnya begitu menyayangi Gendis
Setelah lelah seharian berbelanja, akhirnya Henny dan Gendis memutuskan untuk pulang. Tapi sebelum itu mereka menikmati makan es krim bersama dengan para pengawal terlebih dahulu
***
Tepat pukul 21:15 WIB Gerhana kembali dari kantornya, ia berjalan cepat menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya, ia sudah tidak sabar ingin segera bertemu istrinya. Entah kenapa ia selalu merasa rindu saat tak bisa menatap wajah ayu istrinya
Ceklek
Ia membuka pintu perlahan agar tak membangunkan istrinya, ia mencium semerbak aroma wewangian yang amat menenangkan, terlihat istrinya telah terlelap dibawah selimut yang hangat. Cahaya lampu tidur yang remang-remang membuat Gendis semakin terlihat mempesona dimata Gerhana
Tak ingin mengganggu, ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Cukup lima belas menit ia sudah keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melingkar dipinggangnya, sehingga menampilkan roti sobek yang menggoda iman
Ia terkejut melihat lampu kanar yang menyala terang, ia semakin terkejut karena melihat istrinya yang hanya memakai lingerin berwarna merah maroon tengah duduk disofa, dengan kaki kanan menumpang diatas kaki kirinya, menampilkan paha putih mulus miliknya
__ADS_1
Gluk
Gerhana menelan ludahnya dengan susah payah, masih seolah tak percaya melihat bidadarinya terlihat begitu sexy. dada putih mulusnya terpampang jelas ditambah beberapa tanda kepemilikannya membuatnya semakin terlihat sexy
Tak ingin menyianyiakan kesempatan, Gerhana segera berjalan mendekati istrinya yang tengah tersenyum manis. Ia mendudukkan bokongnya di samping Gendis
Tak diduga Gendis langsung berpindah duduk dipangkuan suaminya, tetesan air dari rambutnya yang basah membuat Gerhana semakin nampak maskulin dimata Gendis
Tangannya terulur membelai dada bidang suaminya mwmbiat pola abstrak yang palimg disukainya. Gendis menatap mata tajam suaminya, ia lalu mendekatkan bibirnya mengecup singkat bibir tipis Gerhana
Tangan Gerhana sudah memeluk pinggang ramping istrinya, senyumnya mengembang karena perlakuan istrinya yang tak seperti biasanya
"Nyonha belajar menggodaku dimana, hmm?" tanya Gerhana dengan tangan kiri tetap memeluk istrinya dan tangan kanan membelai lembut pipi Gendis, menelusui setiap inci wajah mulus istrinya
Gendis tersenyum manis, ia kembali mencium bibir Gerhana, bukan hanya ciuman tingkat, namun ciuman yang begitu dalan
Gerhana langsung membopong istrinya berjalan menuju ranjang dengan bibir yang masih bertaut satu sama lain
"Apakah aku terlihat lebih cantik dari biasanya?" Tanya Gendis setelah tautan bibirnya terlepas
Gerhana mengernyit mendengar ucapan istrinya, tiba-tiba atmosphere di kamarnya berubah mencekam. Ia mengirup napas dalam-dalam sebelum menjawab
"Kau selalu terlihat cantik setiap hari, tapi hari ini kau terlihat lebih sexy dan menggoda!" Balasnya seraya berbisik, bibirnya yang nakal mulai menggigiti telinga istrinya
"Lebih cantik aku, atau si Carrot itu?" Tanya Gendis, bibirnya mulai menjelajahi leher suaminya. Sesekali ia memberikan gigitan-gigitan kecil, sesekali pula lidahnya menjilat
"Uuuuh" Gerhana mengerang tak tahan dengan ulah istrinya, "Hentikan, Sayang! Aku sudah tidak tahan!" Lanjutnya dengan napas tak beraturan
Ia sudah tak bisa berpikir jernih untuk menjawab pertanyaan istrinya. Segera ia mendorong perlahan tubuh Gendis agar terbaring iatas ranjang
Tangannya dengan sigap melepaskan lingerin tipis yang dikenakan Gendis, sehingga menampilkan pemandangan yang luar biasa. Tanpa basa basi ia segera melahap makan malamnya dengan mencicipi bagian-bagian favoritnya terlebih dahulu
***
Jangan lupa jejak ya readersku tercinta, dengan cara tekan like, komen dan vote untuk menyemangati Mawar
Salam sayang dan salam rindu buat kalen semua, peluk cium via online🤗😘
Satu lagi, terimakasih buat kalen yang masih selalu setia sama Babang Ge dan Gendis
__ADS_1