Tawanan

Tawanan
Bab 7


__ADS_3

"Tadi kamu kenapa nangis pas nonton, Ndis?" Tanya Abi penasaran


"Aku takut liat banyak darah!" Tulisnya


Abi terkejut, 'kalau dia takut darah kenapa tadi setuju waktu di ajak nonton film action' Batin Abi


"Pasti ada sejarahnya kan?" Abi bertanya dengan hati-hati, takut kalau sejarah tersebut mengingatkan Gendis dengan luka lamanya


Gendis mengangguk, kemudian menulis dilayar ponselnya "Aku takut darah karena dulu, sahabatku pernah kecelakaan didepan mataku. Lalu dia tertidur lama dan tak bangun-bangun sampai beberapa hari di rumah sakit


"Aku takut dia akan meninggalkanku seperti Bunda, Aku benar-benar takut melihat banyak darah sejak itu"


Abi mengangguk mencoba untuk mencerna maksud yang Gendis tulis


"Maaf!" Ucap Abi menyesal


"Untuk?" Tulis Gendis


"Karena udah bikin kamu takut!" Jawabnya penuh sesal


"Tidak apa-apa!" Balas Gendis


Setelah selesai dengan urusan makan, Abi lalu membayar tagihannya. Kemudian mereka berlalu ketoko pakaian dengan brand ternama di mall tersebut


"Kamu pilih aja, Ndis! Mana aja yang kamu suka" Ucap Abi ketika sampai didepan toko


Gendis menggeleng, ia tak mau menyusahkan orang lain. Apalagi Abi adalah anak majikanya


"Ayolah! Sekali saja tidak masalah!" Abi dengan rayuan mautnya


Gendis tetap menggeleng sebagai jawaban


"Kalau kamu nggak mau, Mas jadi sedih" Ucap Abi dengan raut wajah dibuat sesedih mungkin


Akhirnya Gendis menurut, ia memilih satu potong kaos oblong. Lalu pergi ke kamar ganti, saat melihat harga yang tertera didalam label, Gendis buru-buru keluar untuk mengembalikan kaos tersebut


'Duit segitu mah buat makan aku dan nenek seminggu juga masih nyisa banyak' Batin Gendis heran melihat harga sepotong kaos oblong tersebut


"Nggak jadi yang itu?" Abi bertanya heran karena melihat Gendis mengembalikan baju tersebut


Gendis menggeleng "Kebesaran!" Tulisnya mengelak


"Namanya juga kaos oblong, Ndis! Pengen yang ketat pake celana leging aja"


Gendis kemudian berkeliling untuk memilih baju dengan harga termurah, tapi hasilnya nihil


'Toko apaan ini, mahal semua yang dijual! Kalau dikampung mah paling mahal juga paling 35 rebu doang!' Batinnya mencibir


Sedangkan Abi masih setia mengekor kemana pun Gendis berjalan


Akhirnya Gendis memilih asal kaos dan celana jeans robek-robek, karena sudah terlalu lelah berkeliling tapi tetap saja tak ada yang seharga pakaian dikampungnya


"Kamu yakin mau celana itu, Ndis?" Tanya Abi sambil melirik celana yang dipegang Gendis


Gendis pun mengangguk sebagai jawaban


Setelah membayar, mereka berjalan ke toko sepatu. Abi menyuruh Gendis untuk memilih sepatu mana pun yang dia suka


Gendis hanya memilih asal, asalkan pas dikakinya itu sudah cukup baginya


Abi masih menawari Gendis untuk memilih apapun yang ia inginkan, tapi Gendis menolak dengan alasan sudah cukup lelah


Akhirnya mereka memilih untuk pulang. Setibanya dirumah, mereka sudah disambut oleh Guntoro dan Lusi yang duduk di ruang tv


"Kamu seneng, Nak?" Tanya Lusi lembut sambil menatap Gendis


Gendis tersenyum sambil mengangguk


"Seneng apanya, dia diajak nonton film action malah mewek!" Cibir Abi setengah bercanda


"Ya kamu malah ngajak Gendis nonton film begituan, film romantis kek harusnya!" Balas Lusi


"Dia kan masih kecil, mana boleh nonton begitu" Ucap Abi


Gendis berpamitan untuk pergi kekamarnya


"Ternyata punya adik itu nyenengin ya, Ma, Pa!" Ucap Abi


"Kamu suka?" Tanya Guntoro


Abi mengangguk "Seandainya dulu aku punya adik, mungkin aku bakal betah di rumah!"

__ADS_1


Abi sejak dulu merasa kesepian karena menjadi anak tunggal, hal itu membuatnya tak betah berlama-lama di rumah


Tapi setelah bertemu Gendis, ia merasa menemukan sosok adik perempuan yang menggemaskan


***


Gendis


Kamu sedang apa, El?


Gendis mengirim pesan, satu menit kemudian Samuel sudah mengetik balasan


Samuel


Sedang memikirkanmu


Gendis tersenyum menerima balasan pesan dari sahabatnya itu


Gendis


Berhentilah menggombal, El. Apakah dikampusmu ada mata kuliah menggombal


Samuel


Ini eksklusif untuk Alamanda seorang


Gendis terkekeh membaca pesan balasan dari Samuel


Gendis


Sudah, hentikan gombalanmu, El!


Kapan kita bisa bertemu ya?


Gendis begitu merindukan sahabatnya itu, banyak hal yang ingin Gendis bagi dengan Samuel


Samuel


Pasti kamu rindu kan?


Percayalah aku memang orang yang paling pantas untuk dirindui


Gendis terkekeh dengan gombalan sahabatnya itu


Gendis


Samuel


Hahaha pasti ekspresi muka kamu lucu sekali saat ini, Nda


Gendis


Hmmm


Samuel


Jangan ngambek, nanti manisnya ilang


Gendis


Ooh ayo lah El, perutku pusing dengan gombalanmu itu


Samuel


Mungkin maksudnya mules🙄


Samuel mengirim pesan namun tak dihiraukan oleh Gendis karena kesal


Samuel


Yeee beneran ngambek,!


Gendis masih mendiamkan, untuk melihat bagaimana Samuel merayu ketika dia kesal


Samuel


Nda


Samuel


Manda

__ADS_1


Samuel


Gendis Alamanda Maheswari


Gendis tersenyum puas melihat sahabatnya kelimpungan karena pesannya tidak digubris


Drrt Drrt Drrt


Ponsel Gendis bergetar tanda ada panggilan masuk, dan bisa dipastikan kalau sipelaku adalah Samuel


Samuel


Panggilan video WhatsApp


Gendis lalu menggeser icon hijau dilayar ponselnya


"Halo" Sapa Gendis lembut


"Gitu aja kamu marah, Nda!"


"Siapa yang marah, El?" Gendis mengelak


"Kamu lah, siapa lagi!"


"Cuma kesel doang, nggak marah!"


"Sama aja, Manda"


"Yang bikin kesel siapa?"


"Iya, iya aku yang salah" Samuel mengalah


"Ya memang laki-laki itu tempatnya salah!"


"Kok gitu?" Samuel tak mengerti


"Karena yang ada itu 'Mas Salah' bukan 'Mbak Salah'! " Jawab Gendis sambil tersenyum


Samuel tertawa mendengar jawaban Gendis


"Nda!" Panggil Samuel


"Iya?"


"Senyum kamu berapa PK sih?" Tanya Samuel


"Maksudnya?" Gendis tak mengerti


"Adem banget ngeliatnya ha ha ha"


"Emangnya AC!"


"Udah udah, tidur yuk udah malem!"


"Hayu!"


"Kamu jaga diri baik-baik ya, Nda!" Samuel berpesan sebelum mengakhiri sambungan telponnya


"Iya, kamu juga kuliah yang bener!" Jawab Gendis menasehati


"Ya udah, good night and have a nice dream, Manda"


"Night too, El" Ucap Gendis kemudian menutup sambungan telponnya


Gendis lalu memejamkan matanya mencoba berselancar di dunia mimpi


***


Di dalam sebuah kamar mewah dengan segala fasilitas yang ada bak hotel bintang lima, seorang pemuda tampan masih terjaga dengan posisi duduk bersandar dikepala ranjang kingsize nya


Ia menatap sendu figura kecil ditangannya, pikirannya melayang pada kejadian hampir 19 tahun yang lalu


Tangannya terkepal kuat, rahangnya mengeras, dan matanya memancarkan api kebencian dan dendam


"Lo liat seberapa lama lagi gue ngasih waktu buat kalian bahagia sekarang! Saat waktunya tiba, gue pastikan kalian akan menangis darah untuk membayar semua ini!" Gumamnya dengan seringai yang mengerikan


Ia meletakkan kembali figura tersebut diatas nakas, kemudian berbaring dan mencoba memejamkan matanya untuk menuju ke alam mimpi, berharap bisa bertemu dengan orang yang ia rindukan


***


Jangan lupa tinggalkan jejak ya readers

__ADS_1


Dengan cara like komen dan vote, kalau kalian suka cerita Gendis bisa klik 'jadikan favorit'


Peluk cium via online untuk readersku tercintaaaaah🤗😘


__ADS_2