
FELISYA
Sekarang sudah seminggu dari hari pernikahan ku yg mendadak. Aku ttp melakukan aktifitasku seperti biasanya. Kuliah dan ngaji di pesantren meski tidak sesering dulu. Aku hanya ngaji asarnya saja. Karna saat asar semua santriwn dan santriwati berkumpul di mushollah. Bahkan warga banyak juga yg ikut pengajian. Rani dan Icha masih bersikap seperti biasa. Meski terkadang mereka sering menggoda ku. Namun tidak dengan mbak nindin. Mbak nindi berubah. Bahkan terkesan ketus jika aku menanyakan rina dan icha.
Hari kamis. Aku bersiap" untuk pergi ke pasar. Membeli beberapa bahan dapur yg sudah hampir habis. Awalnya ummi ingin ikut. Namun ku tolak halus. Aku hanya meminta catatan bahan apa saja yg harus ku beli. Karna sejujurnya, aku masih belum ngerti urusan dapur meski aku bisa masak. Krna aku tidak pernah ikut ibu ke pasar.
Aku izin sama mas Fatih. Sejak aku menjadi istrinya. Aku memanggilnya mas Fatih. Bukan lagi mas fauzan. Karna kata ummi, abi lebih menyukai nama Fatih.
Aku pergi setelah diizinkan belanja ke pasar dengan syarat harus kembali sebelum dhuhur. Atw aku tidak akan diizinkan untk keluar lagi. Itu yg mas Fatih katakan. Meski ku tau itu hanya becanda. Namun aku akan ttp menurutinya. Karna dia adalah suami ku. Bagaimanapun, aku ttp merasa berdosa. Karna sampai saat ini aku masih belum menerima nafkah batin darinya. Itupun karna aku yg belum siap. Bukan karna mas Fatih yg tidak ingin memberi.
Di tengah perjalanan. Aku mendengar seseorang memanggil ku. Saat aku menoleh. Aku sadar bahwa itu adalah mbak nindi.
" Ada apa mbak???" Tanya ku sesopan mungkin. Meski merasa aneh. Karna akhir" ini mbak nindi tidak pernah menyapa ku lebih dlu.
__ADS_1
" Nggak lis. Ini... Aku butuh bantuan kamu lis. Tadi di sana mbak liat ada anak kecil yg mau dibawa preman. Mau nolongin nggak berani kalok sendirian. Kamu mau kn bantuin anak itu???" Tanya mbak nindi.
" Oh. Ya udah mbak. Aku bilang sama mas fatih dulu. Supaya aman." Jawabku hendak kembali pulang. Namun langkahku ditahan oleh mbak nindi. " kenapa mbak???" Tanya ku heran.
" Nggak usah lis. Nanti keburu ilang premannya. Dan takutnya terjadi apa" sama anak itu. Ayo cepet lis." Kata mbak nindi sambil trus menarik" diriku.
Akhirnya aku ikut mbak nindi menuju jalan yg agak sepi yg dimaksud mbak nindi. Hingga akhirnya aku merasa kepala bagian belakangku di pukul sangat keras. Aku sempat melihat mbak nindi memegang sebatang balok kayu hingga akhirnya semuanya gelap.....
\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-
Aku mondar mandir di depan rumah. Felis belum pulang dri pagi. Aku sangat mengkhawatirkan istriku. Bagaimana tidak. Dia adalah gadis yg terlalu baik menurutku. Sehingga mudah saja jika ada penjahat yg membawanya.
Abi dan ummi tidak dirumah. Tadi setelah felis berangkat ke pasar. Tiba" abi dan ummi harus ke jakarta. Karna adik perempuan abi sedang dirumah sakit. Tinggallah aku seorang diri dirumah.
Tiba\-tiba terbesit difikiranku. Mungkinkah Felis menemui Rani dan Icha dipesantren dan tertidur disana??.. aahh. Kenapa aku tidak berfikir kesana. Segera ku langkahkan kaki ku ke pesantren putri.
__ADS_1
Terlihat beberapa santri yg sedang berjalan itu berhenti dan menunduk saat melihatku memasuki area santri putri. Sesampainya di koridor, aku memanggil seorang santri untuk memanggilkan Rani dan Icha.
Beberapa menit menunggu. Akhirnya mereka datang. Langsung aku bertanya pda mereka ttg felis. Namun nihil. Felis tidak juga ada dipesantren. Aku berterima kasih dan segera pergi.
Aku berfikir. Kemana perginya felis. Apa dia kabur. Apa dia tersiksa karna pernikahan ini. Tapi selama ini dia baik" saja. Bahkan terlihat bahagia. Sekarang apa yg harus ku lakukan.
Aku mengacak rambutku. Lelah berfikir. Mungkin besok aku akan mencarinya. Yah. Aku harus mencarinya...
Aku frustasi. Aku hampir gila. Bahkan orang kampung dan beberapa pemilik toko dipasar tidak melihat felis datang dan belanja. Aku berjalan gontai.
"AAAAHHHHKK...." Aku benar" akan gila jika felis tidak ditemukan. Tanpa sadar aku menangis. " Felisyah. Kamu kemana sayaang." Lirihku.
__ADS_1