Terima Kasih Cinta

Terima Kasih Cinta
Bab 34


__ADS_3

“APA?! Alisha pindah ke apartemen lo?!”


Seisi ruangan sontak memperhatikan Fal dan Ares yang berdebat di showroom milik Ares ini.


“Pelanin suara lo!” Fal tidak enak tengok kanan-kiri.


“Elo…!” Ares habis sabar menghadapi sahabatnya.


“Gue nggak ngerti apa yang ada di otak lo, Fal!”


Fal menarik Ares memasuki ruangan dan menutup pintunya rapat-rapat.


“Gue nggak punya pilihan, Res.” Fal membela diri. “Alisha bilang, dia ada project dari kantornya, dan project-nya di Jakarta. Dia bakal tinggal dalam waktu lama. Nggak mungkin dia terus di hotel.”


“Trus urusan sama lo apaan?” sambar Ares keras. “Lo sadar nggak sih udah main api? Dengan lo hubungan lagi sama Alisha aja itu udah salah. Dan sekarang lo buka jalan untuk kalian bisa ketemuan terus.”


“Res, gue ke sini mau minta solusi, bukan omelan lo.”


“Apa gunanya lo nanya pendapat gue? Kapan lo pernah nurutin saran gue?”


Fal terduduk lesu. “Gue juga bingung. Alisha sama sekali nggak bilang tentang ini. Gue pikir, dia bakal balik seterusnya ke Inggris. Hubungan gue sama Tanvi udah baik-baik aja sejak perhatian gue nggak kebagi lagi. Tiba-tiba aja gue dapet kabar dia pindah satu gedung apartemen sama gue. Pantes aja waktu dia ngirim email nanya nama apartemen gue. Ternyata dia rencana pindah dan ngasih surprise buat gue. Tanpa dia tau kalo gue udah…”


Ares mendelik. “Lo belum kasih tau dia kan kalo lo udah married?”


Fal menggeleng.


“Lo emang hobi banget cari masalah! Minggu depan acara tujuh bulanan calon bayi lo. Dan lo masih rahasiain pernikahan lo dari Alisha? Sampe kapan lo mau sembunyiin? Trus kalo anak lo lahir, apa lo bakal tetep prioritasin Alisha ketimbang anak dan istri lo?”


Fal jadi terpojok membenarkan kata Ares.


Kenapa dia begitu gegabah bertindak?


“Dengerin kata gue, secepatnya lo bilang sama Alisha tentang pernikahan lo. Kalo enggak, situasi bakal makin rumit. Lo cinta sama Tanvi, tapi lo nggak bisa ninggalin Alisha. Lo pernah tega sama Tanvi, kenapa lo nggak bisa tega sama Alisha?”


Sungguh Fal dilema.


Ares melanjutkan. “Kalo lo nggak bisa ninggalin Alisha, suruh Alisha ninggalin lo. Itu solusi dari gue. Kemaren-kemaren lo bisa tanpa Alisha. Dengan kata lain, lo cuma lemah kalo dia ada di deket lo. Disaat dia jauh, lo nggak kepikiran kan sama dia.”


“Tapi…” Fal masih ragu. “Gimana gue tega nyuruh dia pergi?”


“Lo aja bisa tega selingkuh dari Tanvi, kenapa lo nggak tega nyuruh Alisha pergi?” tembak Ares telak.


“Mending lo pikirin kondisi Tanvi. Udah berapa kali lo ingkar janji nemenin dia ke dokter kandungan. Sampe lo nggak tau kondisi bayi kalian.”

__ADS_1


Fal tercekat. “Apa maksud lo?”


“Jadi Tanvi belum bilang sama lo, tentang kehamilannya?”


Mendadak Fal merasa tegang.


***


“Tanvi, kamu yakin mau ikut ke rumahnya Alif?” tanya Dena meyakinkan.


“Aku mau liat kondisi Alif.” Tanvi gelisah.


Barusan ada kabar kalau ibu angkat Alif meninggal.


Tanvi tahu betul Alif sangat dekat dengan ibunya.


Pasti Alif terpukul dan sangat kehilangan.


Akhirnya Roni pacar Dena berinisiatif membawa mobil menjemput mereka untuk datang ke rumah Alif.


“Tapi kita nggak mau kamu kecapean lho,” ingat Indah melihat kondisi Tanvi.


“Aku nggak pa-pa. Kalian jangan kuatir.”


Wajah Tanvi terlihat pucat dan lemas.


Begitu sampai di rumah Alif, Tanvi bergegas masuk dan mendapati Alif duduk di depan jenazah ibunya yang ditutupi kain.


Wajah Alif terlihat sedih dan murung.


Melihat Tanvi dan yang lain datang, Alif berdiri dan mendekati mereka.


“Kamu yang sabar ya, Lif.” Tanvi membalas pelukan Alif yang langsung menangis lagi.


Alif tidak menjawab, hanya terisak.


Tanvi bisa merasakan kepedihan Alif.


Indah dan Dena bergantian memeluk Alif yang diam saja.


Sudah lama ibunya Alif sakit-sakitan.


Dan Alif tidak menyangka harus kehilangan ibunya setelah berbagai pengobatan yang dijalani.

__ADS_1


“Papa kamu mana, Lif?” tanya Tanvi.


“Di sana, Kak.” Tunjuk Alif.


Mereka mengikuti pandangan Alif dan melihat Papanya Alif duduk di meja makan sambil melamun memandangi foto istrinya. Matanya sembab dan memerah.


Mereka duduk melihat jenazah ibunya Alif.


“Tanvi, mending kamu pulang. Inget kondisi kamu.” Indah mengingatkan.


Tanvi memegang kepalanya yang berat.


“Iya sih, Ndah. Aku lemes.”


“Tuh kan. Biar Roni anter kamu pulang ya. Kita di sini dulu temenin Alif.”


“Enggak usah, aku naik taksi aja. Apartemenku jauh.”


“Jangan, Vi. Dalam kondisi begini kamu nggak boleh sendirian.”


Tanvi terdiam, membenarkan kata saudarinya.


Kondisinya tidak pernah diduga, dia bisa lemas kapan saja bahkan sampai pingsan.


“Ya udah, biar aku telepon Kak Fal supaya jemput aku ke sini.”


Ia keluar menuju teras dan menghubungi nomor Fal.


Cukup lama menunggu, Fal tidak kunjung menjawab.


Apa mungkin Fal lagi sibuk?


“Halo?”


Tanvi tercekat.


Kok suara perempuan?


“Fal lagi di kamar mandi. Ada perlu apa?”


Klik.


Ia terduduk lemas di kursi teras, air matanya bergulir turun.

__ADS_1


“Kak Fal lagi sama siapa? Kenapa aku ngerasa Kak Fal bohongin aku lagi?”


***


__ADS_2