Terima Kasih Cinta

Terima Kasih Cinta
Bab 33


__ADS_3

“Selamat ulang tahun pernikahan, Nek!” Tanvi memeluk Nenek yang terlihat sumringah.


“Ini kado dari kami. Semoga Nenek suka.”


“Aduhhh Nenek dan Kakek kan sudah tua. Tidak perlu lah hadiah.”


“Nenek jangan nolak,” sahut Fal. “Nenek pasti suka hadiahnya. Soalnya cucu menantu Nenek yang pilihin.”


“Buat Nenek, hadiah terindah yaitu kehamilan istri kamu, Fal.”


Acara malam ini dihadiri semua, kecuali Nindy. Adik iparnya itu sedang sibuk belajar untuk ujian semester.


Tanvi mengobrol dengan Reva.


Sejak kejadian launching yang hampir gagal gara-gara Reva tidak hadir, Tanvi dipromosikan menggantikannya jadi model perusahaan, namun ditolak oleh Fal yang tidak ingin istrinya jadi model.


Reva jadi curhat dirinya sempat ribut dengan Farhan, gara-gara Reva tidak ingin punya anak.


“Kalo sampe hamil dan melahirkan, body gue bisa melar, kan. Ntar gue nggak bakal dapet job model lagi. Kalo udah punya anak, waktu gue bakal abis ngurus anak, mana ada job lagi.”


Begitu kata Reva.


Percuma juga memberi pengertian pada Reva yang mempunyai pikiran seperti itu.


Lagipula Reva sudah menjadi model sejak remaja.


Ia hanya berpikir, kasihan Farhan.


Semua yang menikah pasti ingin mempunyai anak.


Tapi Farhan tidak mendapatkannya karena Reva tidak ingin hamil.


Namun pikiran itu ditepisnya.


Farhan sudah dewasa, tidak baik dia mencampuri urusan rumah tangga iparnya itu.


Reva lalu sibuk dengan teleponnya.


Tanvi jadi bosan duduk sendiri.


Mama dan Tante Rima sibuk melihat-lihat baju bayi yang dijual di online shop, untuk calon bayinya.


Kakek bersama Papa, Om Tito, dan Farhan sibuk membicarakan pekerjaan.


Tapi ke mana Fal?


Tanvi mengedarkan pandangan, baru sadar suaminya tidak ada.


Padahal barusan masih ada bersamanya.


Di mana Fal sebenarnya?


***


“Come on, Lis.. gue nggak bisa malem ini. Besok aja.”


*Suara Kak Fal!*


Tanvi mengintip ke arah teras depan.


Fal sedang menelepon.


Oooo… ternyata Fal sedang menelepon Alisha.


Mendadak Tanvi jadi sedih. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa.


Alisha sudah lebih dulu masuk ke kehidupan Fal, jauh sebelum mereka bertemu dan menikah.


Pasti tidak mudah untuk Fal move on darinya.


Fal selesai menelepon dan berbalik.


Tanvi menatapnya datar, membuatnya kaget.


“Tanvi? Dari tadi kamu di sini?” tanya Fal gugup.

__ADS_1


Tanvi tidak menjawab, dan berbalik masuk rumah.


Fal memegang kepalanya, kesal.


Baru saja hubungannya dengan Tanvi membaik, ia sudah merusaknya lagi.


Ia bergegas menyusul Tanvi ke kamar.


Namun pintunya dikunci.


Tanvi pasti sedih lagi.


Kali ini ia bingung harus berbuat apa.


Tanvi tidak boleh stress karena mempengaruhi bayinya.


Namun ternyata dirinya lah yang sering menyakitinya.


Ia mencoba mengetuk pintu.


“Tanvi, Sayang.. please buka pintunya.”


Tidak ada jawaban.


Ia mencoba lagi.


“Tanvi, aku bisa jelasin. Kamu jangan ngambekan gini. Kita bisa bicara baik-baik.”


Pintu terbuka.


Fal kaget Tanvi sudah menenteng tas.


“Kita pulang, Kak?”


Walau bingung, Fal mengangguk.


Ia kira Tanvi bakal marah sampai menangis, tapi ekspresinya datar-datar saja.


***


Setidaknya itu yang dirasakan Fal sejak pulang dari rumah kemarin.


Tanvi bersikap seperti tidak ada masalah.


Malah istrinya itu sibuk masak dengan wajah riang.


Fal heran memperhatikannya memotong sayuran dengan semangat.


“Kok masak banyak begini? Buat siapa?” tanya Fal.


“Untuk Kak Ares, Kak Wandi, sama Kak Rendy.”


Tanvi mengecek kuahnya dan melanjutkan menumis sayuran.


Fal mengerutkan kening. “Kok?”


Tanvi menoleh sekilas. “Ini hari jumat. Biasanya kalian kumpul-kumpul kan? Ajak aja ke sini. Mereka kan belum nyobain masakan aku.”


Belum sempat Fal menanggapi, Tanvi menyerahkan kentang dan pisau.


“Bantu aku kupas kentangnya, Kak.”


Makin bingung aja Fal.


Masalahnya, Alisha mengajaknya keluar malam ini.


Karena Alisha akan kembali ke Inggris setelah urusan di Jakarta selesai.


Hari minggu akan ada pesta pernikahan saudaranya, dan malamnya ia akan kembali ke Inggris.


Tapi gimana bikin alasan pada istrinya?


“Aaaww..!”


Tanvi kaget. “Kenapa, Kak?”

__ADS_1


Melihat jarinya berdarah, Tanvi jadi panik.


“Ya ampun kok nggak hati-hati sih, Kak?” ia spontan menghisap jari Fal agar darahnya berhenti.


Fal tercengang melihat Tanvi mengemut jarinya dengan telaten.


Tanvi melepaskan bibirnya dari jari Fal dan meniup lukanya.


“Masih sakit?”


Fal bengong menatapnya sehingga Tanvi mengira masih kesakitan.


Tanpa pikir panjang, Tanvi bergegas ke kamar mengambil kotak obat.


“Maaf ya, Kak. Aku minta bantuin malah jadi luka. Harusnya Kakak bilang kalo nggak bisa. Duh darahnya keluar lagi kan. Tahan ya, ini obatnya agak perih. Tapi bisa cepet sembuh. Kalo nggak cepet diobatin, ntar bisa infeksi. Trus….”


Cuppp!


Tiba-tiba Fal mencium pipi Tanvi, yang langsung kaget.


“Tenang aja, ini cuma luka kecil. Kamu khawatirnya kayak aku perlu diangkut ambulans aja.”


Tanvi merengut. “Ihhh Kak Fal nih, biar ini luka kecil, tapi kalo didiemin bisa bahaya. Ntar…”


“Aduh bawel banget, perlu aku cium lagi biar diem?” ancam Fal bercanda.


Tanvi mingkem. “Iya iya deh, tapi ini diobatin dulu.”


Begitu lukanya diperban rapi, Tanvi membereskan kotak obat.


Fal memandanginya.


Hatinya terenyuh akan perhatian Tanvi.


Ia jadi tidak tega meninggalkan istrinya.


Tapi bagaimana dengan Alisha?


“Kak Fal lagi mikirin apa?” tanya Tanvi heran. “Kayak bingung gitu.”


“Ngg… gini, Tanvi. Aku mau keluar dulu sebentar, ada keperluan.”


Tanvi melanjutkan masaknya. “Mau ketemu Alisha kan?”


Fal gelagapan.


“Nggak pa-pa kok,” sahut Tanvi sambil menoleh sekilas. “Pergi aja. Asal cepet pulang.”


Surprise juga dengan reaksi Tanvi yang tidak diduga.


Awalnya Fal kira Tanvi bakal nangis lagi kayak sebelumnya.


Tapi ekspresinya datar saja.


“Kamu nggak marah?”


Tanvi berbalik dan tersenyum manis.


“Aku yakin Kak Fal setia sama aku. Kalo Kak Fal senang, aku juga ikut senang. Apalagi bayi kita ngerasain yang kita rasain. Gimana pun juga Alisha lebih dulu hadir. Aku juga nggak bisa maksa Kak Fal lupain Alisha. Tapi aku yakin, Kak Fal nggak akan ninggalin aku. Kak Fal bakal setia dan tetap sabar menanti kehadiran bayi kita.”


Fal terpana. Tidak menyangka Tanvi bisa sedewasa ini.


Tanvi meletakkan tangan Fal tepat di atas perutnya.


“Pamitan dulu sama dia.”


Tiba-tiba HP Fal berbunyi membuat Fal menjauhkan tangannya.


“Sorry, ada telepon.”


Fal mengeluarkan HP dan beranjak ke beranda menerima telepon.


Tanvi menggigit bibir.


Sedih.

__ADS_1


***


__ADS_2