
Sudah jam 8 malam, ketika Fal tiba di apartemen.
Tanvi lagi nonton TV sambil makan mie instan.
Fal kaget dan mendekatinya.
“Tanvi, kok kamu makan mie? Nggak baik buat perut.”
Tanvi tidak menjawab, terus menatap TV sambil menyuap mie-nya.
Seakan-akan Fal tidak ada.
“Tanvi..” Fal mengambil mangkuk mie.
“Aku tau kamu marah. Tapi jangan ngerusak kesehatan kamu dan anak kita. Mie ini nggak baik untuk kamu.”
Akhirnya Tanvi bereaksi, menatapnya datar.
“Barusan Kakak ke mana?”
“Ke kantor.”
Tanvi melirik kemeja Fal dan menarik nafas pelan.
“Kamu kenapa, Sayang?” Fal mengusap kepalanya lembut.
“Sorry kalo kelamaan nunggu. Tapi tadi kerjaan aku banyak banget. HP juga lowbatt. Makanya nggak sempet ngabarin. Oh ya, gimana tadi hasil pemeriksaannya?”
Tanvi memberikan foto USG bayi mereka.
Fal memandangi foto itu kagum.
“Masih dalam perut aja udah keliatan nih lucunya anak kita. Apalagi kalau udah lahir. Eh dokter kasih tau jenis kelaminnya apa?”
Tanvi tidak menjawab.
“Pokoknya check-up selanjutnya pasyi aku anter.”
“Beneran Kak Fal tadi di kantor?” tanya Tanvi.
“Iya kenapa memangnya? Kamu nggak percaya?”
“Tadi aku telepon Maya, dan katanya Kak Fal nggak ke kantor hari ini.”
GLEK!
Fal jadi gelagapan. “Ngg itu… sebenernya…”
Tanvi tidak tahan melihat ekspresi palsu suaminya, dia masuk kamar dan menutup pintunya.
Fal tahu apa yang akan terjadi.
Tanvi pasti menangis.
Semenjak hamil, istrinya jadi lebih sensitif.
Ia harus menjelaskan sebelum Tanvi makin sedih.
__ADS_1
Tiba-tiba HP-nya Tanvi berbunyi.
Mata Fal menyipit.
Ares?
“Halo?”
“Halo, eh lo yang ngangkat, Fal? Bagus deh.”
“Ada apaan?”
“Lo yang ada apa! Tadi istri lo sakit lagi tuh. Hampir aja dia pingsan waktu mau nyari kado buat Kakek Nenek lo.”
Fal kaget. “Dia hampir pingsan?”
“Iye. Makanya gue nelpon mau tau lo udah balik apa belum. Dengan kondisi istri lo begitu gue juga cemas kalo dia sendirian. Tapi nggak mungkin gue yang nemenin.”
“Gue juga baru balik. Dia kayaknya marah sama gue. Soalnya tadi gue janjinya cuma sebentar.”
“Ya kalo gue jadi dia juga bakal marah, kali, bro!”
“Maksud lo?”
“Barusan dia pergokin lo sama Alisha jalan di mal.”
“Apa?!” Fal menutup mulutnya tertahan. “Serius lo? Jadi tadi lo sama dia ke mal juga?”
“He-eh. Dia liat kalian mesra. Lo emang nggak punya otak ya, istri lo lagi hamil, lo malah asyik sama mantan.”
Fal tidak mempedulikan omelan Ares.
“Eh siapa suruh HP lo mati?” Ares balas sewot. “Lo juga bohong sama gue. Bilangnya mau nemuin Alisha sebentar, taunya lo keasyikan sama dia. Nggak kasian lo sama Tanvi?”
Fal memegang kepalanya, bingung.
“Bersikap gentle lah, bro. Lo jangan sampe nyakitin perempuan, apalagi istri lo. Bisa-bisa lo nyesel. Sekarang lo urus sendiri masalah lo.”
Klik.
Tubuh Fal terhempas di sofa sambil melepas kancing kemejanya.
Dia bingung harus berbuat apa untuk menghibur Tanvi.
Barusan memang dia terbuai kebersamaan dengan Alisha karena sudah lama mereka tidak bertemu.
Sehabis mandi, ia masuk kamar dan melihat Tanvi berbaring membelakangi.
Hati-hati ia membuka selimut dan berbaring di sampingnya.
Ia melihat bahu Tanvi berguncang.
Udah gue duga, dia nangis, batin Fal merasa bersalah.
Ia menyentuh bahunya lembut.
“Tanvi, maafin aku. Please kamu jangan nangis.”
__ADS_1
Tanvi terisak, kepalanya dibenamkan dalam selimut.
Fal memeluknya, tapi dia menghindar dan turun dari tempat tidur.
“Mau ke mana?”
Tanvi tidak menjawab, dan mengambil bantal.
Fal tercekat dan menahannya yang mau keluar kamar.
“Please dengerin penjelasan aku.”
Ia membalikkan tubuh Tanvi dan melihat wajah itu basah karena air mata.
“Aku liat Kak Fal sama perempuan lain. Kemeja Kakak ada bekas lipstick sama wangi parfum perempuan. Apa lagi yang mau Kakak jelasin?” ia terisak lagi.
Fal sudah terpojok, tapi menyakiti Tanvi jelas bukan keinginannya.
“Oke aku ngaku. Aku bohong, karena nggak mau kamu kepikiran. Dia itu temenku dari Inggris, dan aku cuma temuin dia. Nggak lebih. Yang kamu lihat di mal tadi tuh, cuma… yah cuma sebagai teman aja. Aku nemenin dia belanja. Kamu percaya sama aku.”
“Trus kenapa Kakak mesti bohong? Aku nggak bakal marah kalo Kakak jujur.”
“Iya sekali lagi aku minta maaf.”
Fal memegang kedua pipi Tanvi, dan mencium keningnya.
“It won’t happen again. I promise. Kamu itu paling berharga buat aku. Kejadian hari ini nggak akan terulang lagi.”
Tanvi masih menunduk.
Fal menghapus sisa air mata di pipinya.
Sungguh ia tidak tega melihat air mata itu jatuh.
Ia tahu harus berbuat apa untuk memperbaiki suasana.
“Eh Kak, mau apa?”
Tanvi kaget tiba-tiba Fal menggendongnya.
“Kamu harus istirahat. Jangan banyak pikiran. Kasian bayi kita kalo ibunya stress.”
Fal membaringkannya di tempat tidur dan menyelimutinya.
Tanvi menatap Fal berkaca-kaca.
“Janji jangan bohongin aku lagi?”
Fal membelai rambutnya. “Janji. Sekarang kamu tidur. Jangan coba-coba pindah tidur ke sofa.”
Tanvi mulai tersenyum, dan memejamkan matanya.
Melihat wajah polosnya, membuat Fal galau.
Jelas selama Alisha di sini, sulit menghindar.
Tapi melukai Tanvi juga berat untuknya.
__ADS_1
***