Terima Kasih Cinta

Terima Kasih Cinta
Bab 39


__ADS_3

Tempat yang dimaksud Tanvi berupa counter es krim biasa di pinggir jalan, agak jauh dari apartemen.


“Kamu sering ke sini?” tanya Fal sambil menikmati es krim cokelat.


Tanvi asyik makan es krim strawberry.


“Cuma beberapa kali. Waktu kecil, Bu Ratna yang bawa aku ke sini kalo nangis inget sama orangtuaku.”


DEG!


Fal menegang.


Kenapa juga Tanvi sebut orangtua?


Ia takut tidak bisa menyembunyikan rahasia besar tentang Tanvi terlalu lama.


“Kenapa, Kak?” Tanvi melihat kegelisahan suaminya.


Fal gelagapan. “Itu.. es krim nya belepotan.”


Tanvi tersenyum. “Kakak yang belepotan makannya. Kayak anak kecil.”


Dengan telaten ia membersihkan es krim yang belepotan di mulut Fal.


“Bu Ratna itu siapa?” tanya Fal mengalihkan kegelisahannya.


“Ibu panti yang ngasuh aku. Sejak beliau meninggal 6 tahun lalu, aku sama Dena dan Indah yang ngurus panti. Beliau udah seperti ibuku sendiri.”


“Oh ya? Kamu belum cerita apa-apa padahal udah 9 bulan kita nikah.”


Tanvi mengaduk-aduk es krimnya, cemberut.


“Gimana bisa cerita kalo suamiku nggak ada waktu.”


Fal memeluk bahu Tanvi.


“Iya deh sorry. Sekarang kan waktuku cuma untuk kamu. Bisa cerita tentang kamu?”


“Waktu aku berumur beberapa hari, aku ditinggal di panti. Tengah malam. Cuma ada kertas berisi namaku. Waktu aku SMA, aku datangi klinik bersalin, bidan, dan beberapa rumah sakit, untuk cari tau. Beberapa nama ibu yang melahirkan bayi kisaran tanggal aku ditemukan, aku datangi mereka satu per satu. Tapi hasilnya nol. Sampai Bu Ratna meninggal, aku putuskan untuk berhenti mencari siapa orangtuaku. Belakangan aku sadar, untuk apa aku cari mereka. Mereka aja nggak mau rawat aku, dan buang aku seperti anak hina. Sejak itu, aku tekankan, aku nggak butuh mereka.”


Fal terdiam.


Sakit hati Tanvi pada orangtua kandungnya sudah terlalu dalam.


Bagaimana bisa ia memberitahu yang sebenarnya?


Tanvi mengusap pipi dan menatapnya.


“Udah cukup tentang aku. Sekarang Kak Fal cerita tentang Kakak.”


“Aku? Apa yang perlu aku ceritain?”


“Ya apa aja. Tentang Alisha juga boleh.”


Fal gelagapan membuat Tanvi tersenyum dan mencubit pipinya gemas.


“Enggak usah gugup gitu. Cerita aja, aku kan pengen tau.”


Yang penting dia nggak bahas tentang orangtuanya lagi, batin Fal.


“Kami ketemu di kampus waktu aku baru masuk magister.”


“Trus?”


“Tanvi, bisa jangan bahas dia? Aku nggak mau kamu kepikiran. Cukup kamu tau dia itu mantan pacar aku. Nggak perlu kamu tau lebih jauh.”

__ADS_1


“Tapi..”


“Tanvi…” Fal membelai kepala Tanvi sekilas. “Kalo kamu cerita tentang masa lalu kamu sama Farhan, aku bisa cemburu. Memangnya kamu nggak cemburu kalo dengar tentang masa lalu?”


Tanvi tidak bertanya lagi, dan melanjutkan makan es krimnya.


Untuk apa bahas Farhan?


Sekarang hubungan mereka hanya sebatas saudara ipar.


Dan Farhan pun bukan ancaman bagi rumah tangga mereka.


Lain hal dengan Alisha yang terang-terangan ingin merusak rumah tangganya.


HP-nya bergetar.


Hatinya tidak nyaman memikirkan siapa yang menghubunginya malam-malam begini.


Ia mengedarkan pandangan.


“Eh Kak, liat deh ada yang jual bunga.”


Fal mengikuti pandangan Tanvi.


Ada dua bocah kecil membawa bunga untuk dijual.


“Kasihan mereka. Udah malem gini dagangannya masih banyak.”


Tanvi berpikir dan merayu suaminya.


“Kita beli aja semuanya, Kak.”


“Buat apa?”


“Oke istriku menang lagi. Aku beli semua bunganya.”


Sementara Fal menjauh untuk membeli bunga, Tanvi membuka HP dan membaca SMS masuk.


#Mana Fal? Kenapa HP-nya off? Lo sengaja kan mau jauhin gue sama dia? Lo nggak akan berhasil, karena Fal cinta mati sama gue.#


Alisha.


Tanvi menggigit bibir, kesal. Lalu mematikan HP-nya.


Barusan ketika Fal tertidur, ia sempat mengecek HP Fal habis baterai.


Ada bagusnya dia mematikan HP, agar tidak ada yang mengganggu acara kencannya.


Alisha pasti nunggu di apartemen, batinnya.


Ia memakan es krimnya berharap hatinya mendingin.


“Tanvi, ini semua bunganya mau diapain?” Fal membawakan banyak bunga sambil kebingungan.


Tanvi tertawa geli melihat suaminya kerepotan.


Fal bengong. “Diihh malah ketawa.”


“Lagian Kakak lucu banget, udah tau banyak, suruh aja mereka yang ke sini daripada repot begitu.”


Setelah menyimpan bunga di jok belakang mobil, Fal mengusap keringat di dahi.


“Mereka harus segera pulang. Mana tega aku nyuruh mereka bawain bunganya.”


“Oh ya? Emang kenapa, Kak?”

__ADS_1


“Mereka jual bunga sampe malem begini untuk beli obat ibu mereka yang lagi sakit. Makanya aku kasih uang lebih untuk pengobatan ibu mereka.”


Mendadak Tanvi teringat lagi orangtua yang membuangnya.


Sungguh bahagia jika punya orangtua.


Ia menghela nafas, meyakinkan tidak penting lagi ia memikirkan orangtuanya.


Tanpa peduli, ia melanjutkan makan es krimnya.


***


*Gimana aku bisa beritahu kamu yang sebenarnya tentang orangtua kamu, Tanvi?*


Fal menatap istrinya yang menikmati es krim seperti tidak terjadi apa-apa.


“Masih mau nambah?” tawar Fal sambil membersihkan es krim di pipi Tanvi.


Tanvi menggeleng. “Udah kenyang.”


“Kalo gitu kita pulang.”


Fal membuka pintu mobil tapi langsung ditahan Tanvi.


“Eh Kak, aku belum mau pulang.”


Fal heran. “Nggak mau pulang? Trus mau ke mana?”


“Kita jalan-jalan aja dulu.”


“Ini udah malem, nanti kamu masuk angin.”


“Nggak akan, aku janji. Tapi aku pengen jalan-jalan dulu sama Kak Fal.”


Fal makin bingung. “Besok aja ya? Besok aku bakal pulang cepet dan kita jalan-jalan seharian.”


Tanvi menggeleng cepat. “Aku mau sekarang.”


“Tapi, Tanvi…”


“Kak Fal nggak mau jalan sama aku? Malu punya istri kayak aku yang sekarang jadi gendut?” Tanvi memalingkan muka cemberut.


“Lho kok kamu ngomongnya gitu? Aku nggak permasalahkan badan kamu, kan kamu lagi mengandung anakku.” Fal memegang kedua bahunya.


“Kalo gitu kita jangan pulang dulu.”


Pokoknya Kak Fal nggak boleh ketemu Alisha!


“Kita cari makan dulu.”


“Makan? Katanya udah kenyang makan es krim?”


“Ngg.. ya pokoknya aku belum mau pulang.”


Tanvi menarik-narik lengan Fal, merajuk manja.


“Aku mau kita jalan-jalan.”


Akhirnya Fal nyerah.


“Ya udah, ayo masuk.”


Tanvi tersenyum penuh kemenangan.


***

__ADS_1


__ADS_2