
Sepintar-pintar rahasia disembunyikan, akhirnya terbongkar juga.
Alisha mulai curiga ada hubungan antara Tanvi dan Bu Namila.
Karena berkali-kali setiap ia menelepon ke apartemen Bu Namila sedang tidak ada.
Puncaknya, ketika Alisha menelepon ke apartemen Fal, dan Bu Namila yang menjawab.
Alisha makin curiga dan menemui Tanvi.
Tanvi lagi yoga di apartemennya, terkejut dengan kedatangan Alisha.
Padahal ia sedang konsentrasi melakukan gerakan yoga sambil melihat petunjuk di buku.
“Ada apa?” tanyanya heran, tumben siang-siang begini Alisha bisa menemuinya, biasanya super sibuk.
“Gue nggak akan basa-basi.” Alisha duduk di sofa dengan gaya seksinya.
“Jujur aja, gue udah gerah liat lo deket-deket sama Fal. Jadi, gue minta dengan sangat, lo ajuin gugatan cerai. Setelah anak lo lahir, gue mau lo tinggalin Fal. Karena kalo gue minta dia ninggalin lo, dia nggak akan mau. Tau senjatanya? Ya anak di perut lo itu. Nggak tau juga deh itu anak Fal apa bukan. Yang jelas, Fal terpengaruh sama kehamilan lo.”
“Jaga bicara kamu!” sentak Tanvi keras. “Kamu nggak punya hak nuduh anak ini bukan anak Kak Fal. Dan kamu nggak ada hak juga nyuruh aku cerai.”
“Ohh gitu…” Alisha tertawa menyebalkan. “Gue sih ngasih tau baik-baik aja. Sebelum lo dipermalukan dicerai Fal dengan paksa. Mending cerai baik-baik kan?”
“Kak Fal nggak akan setuju. Kami saling cinta, dan kamu nggak bisa misahin kami.”
“Cinta?” Alisha tertawa keras dan berdiri menghadap Tanvi.
Tubuhnya yang menjulang membuat Tanvi harus mendongakkan kepala membalas tatapannya.
“Gue nggak salah denger? Lo pikir, Fal cinta sama lo?”
“Kenapa harus enggak yakin? Aku percaya sama suamiku. Terserah kamu mau bilang apa, aku nggak akan gugat cerai suamiku.”
__ADS_1
“Heh! Fal tuh cinta mati sama gue! Dia tuh deketin banyak cewek cuma buat pelampiasan, dan gue juga tau. Tapi sayangnya, dia kejebak dan nikah sama lo pacar sepupunya, Farhan.”
DEG!
Kenapa Alisha bisa tahu semua?
Stupid!
Pasti Fal yang beritahu!
“Alisha, kenapa aku harus percaya sama kamu? Aku perempuan yang sudah menikah. Apapun yang terjadi, pernikahanku dengan Kak Fal itu sah, bukan sekedar main-main. Yang namanya suami istri, diperlukan kepercayaan penuh. Dan aku yakin dengan suamiku. Untuk apa aku percaya sama kamu?”
“Makin berani ya lo!” Alisha mencengkeram tangan Tanvi, kasar.
Tapi Tanvi tidak gentar.
“Aku nggak takut memperjuangkan pernikahanku.”
“Dan lo nggak takut kehilangan ibu kandung lo?” tembak Alisha membuat Tanvi kaget.
Sungguh Tanvi sakit hati, dia tidak terima ibunya dihina.
Plakkkkk!
Alisha kaget. “Lo berani tampar gue!?”
“Jangan pernah kamu hina ibuku!”
“Oh ya? Lo tersinggung? Anak sama nyokap sama aja, nggak tau diri! Gue bakal aduin ke Fal lo udah tampar gue, dan gue pastiin dia gugat cerai lo!”
Alisha mendorong Tanvi, hingga Tanvi tersungkur.
Perutnya membentur tembok.
__ADS_1
“Aaakkkhh…!” jerit Tanvi kesakitan.
Alisha tersenyum puas.
“Oh ya gue mau ngasih liat sesuatu.”
Alisha memperlihatkan HP-nya.
Tanvi tercengang melihat foto Bu Namila sedang digiring dua polisi.
“Apa?! Kamu apain ibuku?!”
“Dia ada di kantor polisi sekarang. Dan kalo lo nggak ajuin gugatan cerai secepatnya, gue jamin hukuman buat Bu Namila bakal makin berat. Paham?”
“Enggak! Kamu pasti fitnah! Tolong jangan sakitin ibuku!”
“Ini akibatnya kalo lo berani sama gue. Baik-baik ya lo di sini.”
Tanpa mempedulikan Tanvi yang merintih kesakitan, Alisha meninggalkan apartemen.
Tanvi meringis dan terjatuh.
Perutnya sakit, keringat dingin mengalir, tubuhnya gemetar hebat.
Memikirkan ibunya ditangkap polisi membuat sakitnya makin ditekan.
Susah payah ia berusaha meraih HP-nya di meja.
Tapi ternyata HP-nya habis baterai.
Dengan sisa tenaganya, ia meraih telepon portable dan menghubungi nomor yang ada.
Setelah itu ia tidak sadarkan diri.
__ADS_1
***