
Fauzan.
" Abi. Apakah abi sudah menghubungi orang tuanya?? " tanya ku pada abi. Aku takut Abi lupa untk menghubungi ayah dan ibu Felis. Yah. Aku akan menikah dengannya. Tapi aku melarang umi untuk mengatakannya pada felis. Aku ingin dia tau saat acara akad berlangsung. Meski sejujurnya aku takut dia tidak ingin menikah denganku.
" Sudah le. Mungkin sekarang sudah ada rumahnya. Besok mereka pasti akan datang. Mereka juga harus istirahat baru datang dari singapur." Jawab abi ku dengan senyumnya yg tentu saja mampu menenangkan ku.
" Terima kasih abi. Dan juga karna telah menikahkan fatih dengannya. Fatih sayang abi." Jawabku sambik memeluk abi dan tentu saja membuat abi ku terkejut.
" Sudah sudah le. Kamu seperti anak kecil yg baru dikasih permen saja. ". Jawab abi sambil tersenyum melihatku.
...
Ku rebahkan tubuh ku ke tempat tidur. Aku berfikir. " Bagaimana jika dia tidak ingin menikah denganku. Akan menjadi resiko besok jika dia tidak ingin menikah denganku. Sudahlah. Jika dia jodohku. Besok semua akan berjalan dengan lancar. Aku yakin. "...
__ADS_1
Felisya
Aku kaget saat aku melihat bunda dan ayahku ada disini. Yah. Disini. Di pesantren ku. Aku langsung memeluknya. Aahhh. Rasanya seperti sudah berpisah bertahun" saja. Padahal aku disini baru dua bulanan.
" Kenapa ayah sama bunda nggak bilang mau datang. Ya ampuuun. Felis kangen banget. " ucapku sambil memeluknya lagi.
" Bunda sama ayah datang karna ada acara yg sangat penting yg harus ibu sama ayah hadirin. Untuk putri kesayangan bunda." Ucap bunda sambil menciumku.
" Acara apa bun???"
" tapi untuk apa bunda. Nggak ah. " jawab ku.
" Udah kamu nurut aja sama bunda lis. Nanti kamu ikut bunda sama ayah." Kali ini ayahku yg menjawab. Aku mengangguk saja dan pergi untuk mengganti gamisku dikamar.
\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-
__ADS_1
" Waaah. Lis. Kamu cantik banget sih. Mau nikahan yah.???" Pertanyaan icha membuat ku melotot.
" Iya kali tuh. Mau nikah. Sama Gus Fauzan. Kan udah deket banget sama keluarga Dalem." Kata Rina. Mereka sama saja. Membuat ku tambah pusing.
" Kalian tuh apa apa sih. Ya nggak lah. Nggak mungkin bu Nyai mau nikahin anak satu2nya sama cewek kayak aku. Aku ini dijemput ayah ibu aku. Nggak tau deh mau dibawa kabur kemana." Jawab ku sekenanya.
" Tentu saja. Tidak mungkin bu Nyai menikahkah Fatih. Eh gus Fatih maksudku. Dengan gadis sembarangan. BuNyai pasti akan memilih yg berpendidikan agama atau paling tidak masuk fakultas agama, jika tidak begitu siapa yg akan membantu gus Fatih memimpin pesantren ini. Sedangkan felis kn masuk fakultas Sekretaris Perusahaan." Jawab mbak nindi membuat Aku dan Rani kaget. \(Jangan ditanya kenapa icha nggak disebut ya bun. Hihi. Icha kan rada polos.\)
Memang. Sejak mendengar aku dekat dengan keluarga dalem mbak nindi berubah. Seperti tidak menyukaiku. Ku dengar dulu mbak nindi memang teman sekolah gus Fauzan. Bahkan mbak nindi pernah jadi bagian dari santri yg bertugas membantu Dalem rumah bu Nyai. Namun sudah diganti karna mbak nindi disuruh fokus kuliah dan skripsi oleh bu Nyai dan pak kyai.
Aku hanya tersenyum dan menggapinya biasa saja. Meski sejujurnya aku tidak menyukai ucapannya. Beruntung Rani segera mengalihkan suasana yg mulai tidak nyaman. " Eh lis. Ya udah gih sana. Katanya ditunggu ayah sama bunda kamu. Aku titip salam yah. Nanti jangan lupa oleh oleh kalok kamu jalan\-jalan." Ucap Rani. Aku hanya mengiakan dan segera pergi dri kamar yg mulai membuatku tak nyaman.
Aku berfikir. ' ya tuhaaaan. Semoga aku segera pindah dari kamar itu.' Karna aku pergi dengan kekesalan, aku tidak memperhatikan jalan didepan ku. Alhasil. Lagi dan lagi. Aku menabrak Gus Fauzan. Dia malah tersenyum dan pergi setelah mengatakan satu hal yg membuatku terbang. " Kamu cantik."
😁😁😁
__ADS_1