
SETELAH sebulan dirawat di rumah sakit, akhirnya bayi Tanvi yang diberi nama Fades diperbolehkan dibawa pulang.
Karena lahir prematur, dokter menyarankan agar tidak dibawa bepergian jauh.
Tanvi merawat Fades dengan penuh kasih sayang.
Setiap melihat Fades, segala kesedihannya sirna.
Mereka tinggal di rumah atas permintaan keluarga besar, agar mereka lebih mudah memantau kondisi Tanvi yang masih pemulihan pasca operasi.
Seperti malam ini, Tanvi mengayun-ayunkan boks bayi agar Fades tertidur.
Tiba-tiba pintu terbuka.
Tanvi menoleh.
Fal baru pulang dari kantor.
Wajahnya terlihat capek.
Tanvi berdiri dan mencium tangannya tanpa bicara.
Seperti biasa, Tanvi mengambil tas kerja Fal dan langsung men-charge HP Fal.
Sejak kejadian di rumah sakit, Tanvi lebih banyak diam.
Karena masih tidak habis pikir apa yang terjadi.
Fal sendiri bingung bagaimana bersikap.
Namun demi anaknya, ia harus tetap bersikap adil.
Tanvi kaget tiba-tiba Fal memeluknya dari belakang.
“Bisa kita lupain semua yang terjadi?” kata Fal membuat Tanvi menegang.
__ADS_1
“Aku nggak tau gimana aku bisa perbaiki keadaan. Tapi aku nggak mau ngorbanin kebahagiaan anak kita. Fades pasti sedih kalo kita diem-dieman begini.”
Air mata Tanvi bergulir turun.
Dia sudah dengar perihal Alisha yang bertengkar dengan Papanya.
Alisha tidak bisa menerima Tanvi sebagai saudaranya.
Sejak itu pula Bu Namila diberhentikan bekerja sebagai pembantu Alisha.
Karena tidak bisa mengabaikan Bu Namila juga, Fal membawa Bu Namila untuk tinggal di panti membantu menjaga adik-adik panti, bersama Dena dan Indah.
“Ibu gimana kabarnya?” tanya Tanvi.
Fal mempererat pelukannya dan mencium rambut Tanvi sekilas.
“Baik-baik aja. Ibu kangen sama kamu. Kalau kamu udah bisa berpikir lebih jernih, aku harap kamu kembali temuin Bu Namila. Kasian dia. Walau udah tenang tinggal di panti, tapi dia kepikiran kamu terus.”
Tanvi menatapnya. “Gimana perasaan Kakak sekarang?”
Tanvi tersenyum kecut. “Istri Kak Fal ini, adalah adik dari perempuan yang Kakak sayang. Kakak bisa terima ini?”
Fal menggeleng. “Aku udah bilang, tolong lupain ini semua. Ini situasi yang rumit. Dan kalau kamu menjauh juga dari aku, apa yang harus aku lakuin?”
Sungguh Tanvi pun ingin melupakan semuanya.
Tapi bagaimana bisa?
Dia sudah tahu orangtua kandungnya.
Fakta kalau dirinya lahir dari hubungan gelap membuatnya merasa dirinya adalah kesalahan.
Mendengar alasan Tanvi, Fal menarik tangannya, mereka duduk berdampingan di tempat tidur.
“Tanvi, yang kamu pikirin itu salah. Kamu bukan kesalahan. Kalau manusia boleh memilih dari rahim siapa bisa lahir, nggak akan ada anak yang berpikiran seperti kamu. Kamu pun seorang ibu. Perjuangan kamu melahirkan Fades bukan hal yang mudah. Bahkan nyawa taruhannya. Sekarang kamu pikir, apa Ibu akan pertaruhkan nyawanya kalau nggak sayang sama kamu? Kalau kamu suatu kesalahan, Ibu nggak akan mempertahankan kamu dan nggak akan biarin kamu lahir. Tapi sekarang, kamu di sini. Kamu adalah istriku, ibu dari anakku. Dan itu bukan kesalahan. Itu semua takdir, yang harus kita terima.”
__ADS_1
Tanvi menatap Fal berkaca-kaca.
Fal mencium kening Tanvi, dan memeluknya erat.
Dering HP mengagetkan mereka.
Tanvi bergegas mengambil HP-nya di meja, berharap Fades tidak terbangun.
Melihat nama tertera di layar membuatnya terdiam.
“Siapa yang nelepon?” tanya Fal.
“Papa Malik.”
Tanvi bingung harus bersikap apa pada ayah kandungnya.
“Kamu jangan hakimi dia kayak gini, Tanvi. Dia udah ngaku kalau dia nggak tau perihal kelahiran kamu.”
Tanvi menggigit bibir dan menyerahkan HP-nya.
“Kak Fal aja yang jawab. Terserah Kak Fal mau ngomong apa.”
Fal menerima HP dan menjawabnya.
“Halo?”
Tanvi menyibukkan diri melipat-lipat pakaian Fades, dalam hati ia penasaran ayah kandungnya ingin bicara apa.
“Apa?!” suara Fal cukup keras membuat Tanvi kaget.
Raut wajah Fal berubah tegang.
“Ada apa, Kak?” tanya Tanvi panik.
Fal menatap Tanvi tegang, dengan HP masih menempel di telinganya.
__ADS_1
***