Terima Kasih Cinta

Terima Kasih Cinta
Bab 11


__ADS_3

“Senyum dong, Kak. Ini kan hari bahagianya Kak Farhan.”


Nindy menegurnya yang terus bersedih.


Nindy memang tidak mengetahui hubungan antara Tanvi dan Farhan sebelumnya.


Sejak acara ijab qabul tadi pagi, Tanvi menghindar dari keramaian, karena takut tidak bisa menahan diri untuk menangis.


Dan malam ini diadakan pesta di rumah, merayakan pernikahan Farhan dan Reva.


Semua bergembira.


Kecuali Tanvi tentunya.


Fal tidak mempedulikan istrinya yang bertingkah aneh, asyik mendekatkan diri dengan keluarga Reva yang datang dari luar kota.


Nindy sudah sibuk membereskan kado-kado pernikahan.


Tanvi tidak kuat melihat Farhan bersanding dengan Reva di pelaminan, ia langsung meninggalkan ruangan.


Dengan langkah lambat-lambat, ia menyusuri jalan setapak berbatu menuju taman.


Ia yakin tidak ada yang datang ke sana.


Di taman penuh bunga mawar, ia duduk di bangku taman sambil memandang langit penuh bintang.


Air matanya menitik.


Ia tidak habis pikir hubungannya dengan Farhan akan begini ending-nya.


Menyaksikan orang yang disayang bersanding dengan orang lain bukan hal mudah.


Rasa sakitnya menusuk hati terdalam.


Andai ia masih punya orangtua, ada yang menghibur dan menguatkannya.


Sungguh ia merindukan Bu Ratna yang senantiasa merawatnya dari kecil.


Tiba-tiba ada yang menepuk bahunya dari belakang membuatnya kaget dan menoleh.

__ADS_1


“Ka-Kak Farhan?”


Farhan menatapnya lekat. Lelaki itu terlihat tampan dengan jas pengantin hitam.


Tanvi mengalihkan pandangan dan menghapus air mata.


Tak peduli riasan wajahnya rusak dan gaun pilihan Nindy jadi kusut.


Jantungnya sakit mengingat lelaki di sampingnya sudah menjadi milik orang lain.


Untuk beberapa saat mereka duduk berdampingan, tanpa bicara.


“Kenapa Kak Farhan ke sini? Kalo ada yang liat kita, bisa-bisa salah paham.” Tanvi tidak berani memandangnya.


“Aku mau bicara sama kamu.”


Tanvi menggigit bibir dan menunduk.


“Tanvi,” suara Farhan bergetar, seakan berat mengatakannya. “Aku minta maaf, semua jadi begini. Karena kebodohan aku, kita berada dalam situasi rumit yang ngehancurin perasaan kita masing-masing. Tapi kamu harus tau, bukan ini yang aku inginkan. Situasi yang memaksa kita, pada akhirnya, harus menikah dengan orang lain.”


Air mata Tanvi bergulir turun. Berusaha menahan sakit.


“Aku harus berbuat apa, Kak?” Tanvi menutup mulutnya, tenggorokannya terasa tercekik. “Aku sayang banget sama Kak Farhan, tapi kenapa harus begini?”


Farhan memandangnya sedih dan menarik nafas berat. “Ini nggak mudah untuk kita. Tapi, aku harap kita bisa belajar ikhlas dan menerima semuanya. Kita udah punya kehidupan masing-masing.”


Tanvi terisak tidak sanggup menatapnya.


“Kita saling sayang, tapi tidak bisa saling memiliki. Mungkin ini yang terbaik. Kita harus lupakan perasaan kita masing-masing. Mulai sekarang, kita harus jalani hubungan sebagai saudara ipar.”


Tangis Tanvi pecah, ia menutup mulut dengan sebelah tangan.


Ia kesulitan mengendalikan nafasnya.


Rasanya ada bongkahan besar menyumbat tenggorokannya.


Ini hal yang ditakutinya.


Harus kehilangan orang yang dicintai.

__ADS_1


Farhan menahan sakit di dadanya.


Ia meraih tangan Tanvi.


Mereka berdiri berhadapan.


Namun Tanvi tidak berani menatapnya.


“Aku percaya, kamu bisa. Yang perlu kamu tau, ini juga sulit buatku. Tapi kita pasti bisa. Aku sudah punya istri. Kamu pun sudah menjadi istri Fal. Kita harus janji, untuk menjaga keutuhan rumah tangga masing-masing. Aku percaya, kamu bisa lupain aku dan mulai mencintai suami kamu. Jangan terpengaruh dengan perasaan yang ada diantara kita. Karena aku percaya, ini yang terbaik untuk kita. Kamu mau janji?”


Farhan mengulurkan jari kelingkingnya.


Kebiasaan mereka saat pacaran.


Tanvi memalingkan wajah sambil menggigit bibirnya kuat-kuat.


“Please.” Farhan pun berat mengatakannya.


Tanvi menelan ludah dan menarik nafas berat.


Tangannya bergetar hebat ketika mengulurkan jari kelingkingnya.


Begitu jari mereka bertautan, Farhan memaksakan tersenyum.


“Fal mungkin keras kepala, tapi dia sebenarnya baik. Janji untuk setia sama suami kamu?”


Tanvi mengangguk pelan sambil terisak.


Tangan Farhan satunya membelai kepala Tanvi, hal yang selalu dilakukannya untuk menenangkan gadis itu.


Lalu Farhan menariknya dalam pelukannya.


Dalam pelukan Farhan, tangis Tanvi pecah.


Farhan mempererat pelukannya sambil menahan sakit hatinya.


Diam-diam, Fal menyaksikan kejadian itu dari sudut tertentu.


Fal menarik nafas panjang dan berbalik pergi.

__ADS_1


***


__ADS_2