Terima Kasih Cinta

Terima Kasih Cinta
Bab 38


__ADS_3

Hari sudah agak sore ketika Fal kembali ke apartemen.


Langkahnya lunglai dan terlihat capek.


Keluar dari lift, langkahnya terhenti melihat Alisha menunggunya.


“Lo ke mana aja? Gue telepon tapi HP lo nggak aktif.” Alisha menyenderkan kepalanya manja di bahu Fal.


Fal tersenyum kecil. “Ada apa? Kenapa lo sampe ke sini?”


“Barusan gue ketemu istri lo,” katanya membuat Fal kaget. “Ternyata dia biasa aja, gue kira lo milih cewek yang lebih dari gue.”


“Kenapa lo nemuin dia?” Fal agak kesal.


“Ya gue pengen tau aja cewek yang lo pilih.”


“Lo bisa kan baik-baik bicara sama dia? Gimana pun juga dia istri gue.”


“Mantan istri…” Alisha tersenyum menggoda. “Lo bakal ceraiin dia kan?”


“Alisha, lo…” Fal kehabisan kata-kata, tapi tidak dipungkiri dirinya melemah menghadapi wanita ini.


“Udahlah, gue laper nih. Kita makan di luar yuk? Bu Namila juga keluar dari tadi nggak tau ke mana, jadi dia nggak masak.” Alisha memeluk lengan Fal, mesra.


Fal tidak kuasa menolak kemauan Alisha dan mengikutinya.


***


Sejak Alisha menemui Tanvi membuatnya lebih banyak diam.


Dia berusaha tidak memikirkan perkataan Alisha.


Walau kerap sedih membayangkan jika Fal akan meninggalkannya.


Sudah agak malam ketika Tanvi memasuki apartemen sepulang dari dokter kandungan.


Indah yang menemaninya baru saja pulang.


Memasuki lift, mendadak hati Tanvi gelisah.


Teringat kata-kata Alisha,


*Gue tinggal di lantai 12. Kalo nanti Fal nggak pulang ke sini, lo bisa cari di tempat gue. Karena Fal nggak pernah bisa nolak apa yang gue mau.*


Ia khawatir omongan Alisha kejadian.

__ADS_1


Bagaimana kalau Fal memang tidak pulang?


Ia menekan angka 12.


Lebih baik dipastikan daripada gelisah terus-menerus.


Tiba di apartemen nomor 12DF, Tanvi menekan bel.


Tak lama keluar seorang perempuan setengah baya.


Tanvi terdiam.


Bingung harus berkata apa.


“Cari Non Alisha?” tanyanya, mungkin pembantunya Alisha.


“Non lagi keluar.”


“Oh.. iya, kalau boleh tau biasa pulang jam berapa?”


“Biasanya Non pulang jam 10. Mau tunggu di dalam?”


“Oh tidak usah, kalau begitu permisi.”


Tanvi berbalik pergi, entah kenapa perasaannya jadi tidak nyaman.


Ia dengar dari Maya, hari ini Fal tidak berhenti bekerja, bahkan sampai melewatkan makan siang saking sibuknya.


Lega mengetahui suaminya tidak pergi bersama Alisha.


Ia mendekat dan terduduk di samping Fal yang tertidur pulas.


Wajah suaminya amat polos.


Tangannya mengusap kening Fal dan menciumnya lembut.


Fal terbangun kaget.


“Eh Tanvi kamu udah pulang?”


Tanvi tersenyum kecil.


“Kenapa Kak Fal tidur di sini?”


Fal meregangkan ototnya.

__ADS_1


“Aku capek makanya ketiduran.”


“Kalo gitu Kakak mandi dulu. Nanti aku siapin minuman hangat untuk Kakak.”


Ia bangun tertatih-tatih karena perutnya terasa berat.


“Kamu jangan banyak gerak,” tegur Fal sambil menuntunnya duduk.


Tanvi melihat sudah jam 21.40.


Sebentar lagi Alisha pulang, dan pasti wanita itu menemui Fal.


“Kamu kenapa? Kok kayak bingung gitu?” tanya Fal.


“Kak, aku pengen makan es krim.”


Kening Fal berkerut. “Malam-malam begini?”


Tanvi mengelus perutnya. “Kesayangan kita nih yang minta.”


Fal tersenyum geli. “Kamu tuh, udah gede begini hamilnya baru ngidam. Ya udah, aku mandi dulu, nanti aku beliin di toko bawah.”


“Eh jangan, Kak.” Tanvi menahan Fal yang mau masuk kamar mandi.


“Nanti aja mandinya. Aku tau tempat jual es krim yang enak. Anter aku ke sana ya. Sebentar aja.”


“Kamu yakin? Udah mau jam 10 lho ini.”


“Ayo dong, Kak…”


Meski heran, Fal menyanggupi.


“Ya udah, aku ambil jaket dulu.”


“Ngg Kak, enggak usah, bajuku kan udah tebel. Nanti gerah.”


“Nanti masuk angin.”


“Kan ada Kakak yang jagain aku.”


Fal geleng-geleng kepala.


“Oke istriku menang. Yuk pergi.”


Diam-diam Tanvi menghela nafas lega, bisa menghindar dari Alisha.

__ADS_1


***


__ADS_2