
Keesokan paginya, Fal sudah sadar, walau kondisinya masih lemah.
“Kamu nggak ke kantor?” tanya Fal.
Tanvi mengupas buah apel. “Aku udah izin nggak masuk hari ini.”
“Emang boleh?”
“Saat ini aku cuma mau jagain Kakak.”
Tanvi membuka nampan makanan.
“Makan dulu ya. Abis ini minum obat.”
Fal memperhatikan Tanvi yang telaten menuangkan air ke gelas, dan mengambil mangkuk bubur.
Hati-hati ia menyuapi suaminya.
Fal tidak menolak.
Ia merasakan perhatian penuh dari Tanvi, hatinya terasa nyaman.
Begitu mangkuk bubur kosong, Tanvi membantunya minum obat.
“HP-ku mana?”
Tanvi mengambil HP dari laci. “Mau telepon siapa?”
“Kantor.”
“Urusan kantor udah diurus Kak Farhan. Kakak istirahat aja, jangan banyak pikiran.”
Fal mengerjapkan mata karena kepalanya berdenyut.
“Tuh kan, jangan main HP dulu.”
“Tapi…”
“Nggak ada tapi-tapi!” Tanvi melotot dan menyita HP Fal.
“Kalo Kakak udah sembuh, baru boleh pegang HP lagi.”
Fal tidak membantah, lebih karena tubuhnya memang masih lemah.
Pintu terbuka.
“Bu Tanvi, ditunggu dokter di ruangannya.”
“Oh baik, Sus.” Tanvi menoleh pada Fal. “Aku tinggal sebentar ya, Kak.”
Begitu Tanvi meninggalkan kamar, Fal tersenyum.
Perasaannya nyaman, meski tubuhnya masih sakit.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.
Ia tercekat.
“Gwen?”
Gwen menghampirinya dengan wajah sangar.
__ADS_1
“Ini akibat karena lo udah mempermainkan gue, Fal.”
“Gwen, lo masih nggak mau maafin gue?”
“Maaf? Setelah semua yang lo lakuin ke gue, lo masih tanya gue mau maafin lo?”
“Lo mau apa lagi? Gue udah jujur, dan minta maaf. Gue udah menikah. Gue nggak bisa janji apa-apa sama lo.”
“Gue nggak bisa terima itu, Fal! Gue bakal beberin sama keluarga lo kalo lo udah tidurin gue.”
Fal kaget. “Lo jangan gila, Gwen!”
“Apa lo bilang? Gue gila? Iya emang, karena lo udah nggak adil sama gue. Lo mainin gue seenak lo. Dan lo buang gue gitu aja.”
“Lo kenapa keras kepala sih? Bukannya lo juga punya pacar yang lagi S3 di Australia? Dan hubungan kita cuma seneng-seneng aja. Kenapa lo nggak mau lepasin gue?”
“Ya. Memang awalnya lo selingkuhan gue. Tapi gue berubah pikiran. Gue cinta sama lo, gue nggak mau kehilangan lo. Dan gue bakal lakuin apapun supaya lo jadi milik gue.”
Fal menggeleng. “Gwen, tapi gue nggak cinta sama lo.”
“Gue nggak peduli!” teriak Gwen tak sabar. “Gue nggak mau lo jadi milik orang lain. Meski lo udah nikah.”
“Gwen, tenang…”
Fal menggunakan otaknya menghadapi wanita labil itu.
“Lo liat kan kondisi gue sekarang. Kita bicara kalo gue udah keluar dari rumah sakit.”
Gwen masih belum puas, ketika tiba-tiba muncul Ares, Rendy, dan Wandi.
“Fal!”
“Lho Gwen!”
Rendy langsung memegang tangan Gwen.
“Ayo keluar!”
“Apaan sih?! Lepas!” Gwen berontak.
“Wan, bawa dia pergi!” seru Ares.
“Lepasin gue! Fallll… lo nggak bisa kabur gitu aja!!”
Rendy dan Wandi menyeret Gwen meninggalkan kamar.
Fal menghela nafas lega dan memijit-mijit kepalanya.
“Untung kalian dateng.”
“Sebenernya kalian ada masalah apa?”
Fal menceritakan yang terjadi hingga ia tertabrak motor.
Ares berdecak. “Elo sih, main api. Kebakaran kan jadinya. Kemaren si Farhan nelepon gue nanya tentang Gwen.”
“Lho kenapa Farhan bisa tau?”
“Ya soalnya saksi mata bilang lo ribut sama cewek makanya didorong sampai ketabrak motor. Gue ngira cewek yang lagi deket sama lo ya si Gwen.”
“Tapi gue nggak nyangka tu cewek gila juga.”
__ADS_1
“Dia pernah cerita sama gue waktu lagi mabuk, kalo dia cinta sama lo dan pengen lo jadi miliknya. Lo jangan remehin cewek kayak Gwen. Bahaya.”
“Duuhh kenapa jadi horor gini sih?”
“Apanya yang horor?” tiba-tiba muncul Tanvi membawa seplastik buah-buahan.
Fal dan Ares langsung gelagapan.
“Eh lo dari mana?” Ares khawatir Tanvi mendengar percakapan mereka tadi.
“Dari ruangan dokter. Kak Fal kenapa?” tanya Tanvi tanpa curiga.
“Aku nggak pa-pa.”
Fal pun cemas apa tadi Tanvi bertemu dengan Gwen.
“Eh gimana kata dokter?” Ares mengalihkan topik
.
“Kak Fal boleh pulang sekarang.”
“Yang bener? Dia abis tabrakan lho.”
“Jadi tadi Papa telepon. Nenek nangis ingin ke sini. Tapi Papa nggak izinin karena Nenek nggak boleh capek. Makanya tadi aku bicara sama dokter, apa Kak Fal bisa dirawat jalan di rumah aja. Dokter bilang, bisa. Asal ada suster perawat yang ngurus Kakak.”
“Bagus deh, aku juga nggak betah di sini,” sahut Fal.
“Tapi Kakak harus banyak istirahat. Kata dokter, kalo teratur, 3 hari lagi bebat di tangan Kakak bisa dibuka.”
Tanvi membereskan barang-barang Fal.
“Kak Ares bisa sekalian anterin kami pulang?”
“Oh pasti. Kalian mau balik ke rumah apa apartemen?”
“Ke rumah. Kami tinggal di rumah sampai Kak Fal pulih.”
Tanvi masuk kamar mandi hendak membereskan peralatan mandi.
“Tuh liat bini lo care banget sama lo, masa’ lo tega nyakitin dia?” bisik Ares.
Fal mendengus kesal.
“Fal..” tiba-tiba Wandi dan Rendy muncul.
“Gila! Tu cewek barbar banget, gue dicakar, Rendy ditampar… hiiii… lo pacarin cewek apa singa sih, Fal?”
Blepppp!!
“Berisik lo!” omel Ares mempererat bekapannya, ketika Tanvi keluar kamar mandi.
Tanvi menatap mereka bingung. “Cewek siapa yang kalian maksud?”
Semua jadi gugup.
“Ngg.. bukan siapa-siapa!” Rendy berkelit.
“Cuma orang salah masuk kamar.”
Tanvi tidak banyak tanya lagi.
__ADS_1
***