
“Gimana hasilnya?” tanya Ares begitu Tanvi keluar ruangan dokter.
“Alhamdulillah bayinya sehat.” Tanvi memandang foto hasil USG-nya.
“Udah ketauan jenis kelaminnya?”
Tanvi menggeleng. “Laki-laki atau perempuan sama aja. Yang penting sehat.”
Ares ikut memandangi foto USG. “Fal pasti bangga sama anak ini. Beruntung banget ya Fal.”
HP Tanvi berbunyi.
Farhan.
Ia melihat Ares masih asyik mengamati foto USG.
Ia menjauh menjawab telepon.
“Halo, Kak?”
“Halo, Tanvi. Aku mau sampein ke kamu, besok kita mau ngerayain ulang tahun pernikahan Kakek Nenek yang ke-50. Kamu sama Fal jangan lupa dateng. Acaranya sederhana kok. Cuma makan-makan sekeluarga.”
“Oh Iya Kak, kami pasti dateng.”
“Kasih tau Fal ya. Dari tadi aku coba telepon tapi HP-nya mati.”
“Lho? Emang Kak Farhan nggak ketemu di kantor?”
“Lho? Justru aku mau tanya. Fal kenapa nggak ke kantor? Apa dia sakit?”
Tanvi jadi bingung.
*Kak Fal nggak ke kantor?*
*Tadi katanya banyak pekerjaan?*
*Kalau nggak ke kantor, Kak Fal pergi ke mana?*
“Halo, Vi? Kamu masih di situ?” tanya Farhan membuatnya tersentak.
“Ngg… tadi Kak Fal sih bilangnya mau ke kantor, tapi mungkin mampir ke tempat servis HP dulu. Soalnya HP-nya rusak.”
Ia terpaksa berbohong walau masih bingung ke mana suaminya pergi.
“Ohhh gitu ya, oke kalo gitu bilang aja begitu sama Fal.”
“Iya, Kak.”
“Ngomong-ngomong kamu lagi di mana? Kok ada suara orang teriak gitu?”
__ADS_1
“Oh aku lagi di rumah sakit, Kak. Cek kandungan. Suara tadi ada orang mau melahirkan.”
“Kamu cek kandungan sendiri? Perlu aku jemput?”
“Enggak usah, Kak. Aku dianter Kak Ares kok.”
“Oh bagus kalo gitu.”
“Aku tutup teleponnya, Kak.”
“Iya hati-hati pulangnya.”
Klik.
Tanvi meremas HP-nya, perasaannya gelisah.
Ia coba menghubungi Fal, tapi memang tidak aktif.
Ke mana Fal sebenarnya?
Ia takut terjadi apa-apa pada suaminya.
“Udah, Vi? Jadi mau ke supermarket?” tanya Ares yang sudah di sampingnya.
Tanvi menggigit bibir, gelisah.
“HP Kak Fal nggak aktif.”
“Paling juga lowbatt. Fal kan pelupa. Mana kepikiran bawa charger, dan suka lupa charge HP-nya sendiri.”
Emang bener yang Ares bilang.
Tiap malam ia selalu yang men-charge HP Fal supaya paginya bisa digunakan.
Tapi apa iya gara-gara itu?
Ia khawatir terjadi sesuatu.
***
Di supermarket, Ares yang mendorong troli menemani Tanvi belanja.
“Kak Ares, emang lagi nggak sibuk, bisa nemenin aku belanja begini?” tanya Tanvi sambil memilih-milih sayuran.
“Gue banyak waktu luang kok, showroom mobil gue ditinggal sehari juga nggak masalah. Karyawan gue bisa dipercaya.”
Tanvi tidak bertanya lagi.
Masih memikirkan Fal yang belum bisa dihubungi.
__ADS_1
Barusan juga ia menelepon Maya.
Katanya Fal tidak ke kantor hari ini.
Lalu Fal ada di mana?
Ares menepuk bahunya pelan membuatnya kaget.
“Vi, lo ngelamun?”
“Enggak kok.”
“Trus ini apa belanja banyak banget? Lo cuma tinggal berdua di apartemen, tapi belanja buat orang sekampung.”
Tanvi kaget melihat troli penuh barang yang dia sendiri tidak tahu.
“Astagfirullah.. kenapa bisa gini?”
Ares maklum. “Masih mikirin Fal? Ntar juga dia nelepon lo. Tenang aja.”
Tanvi memegang kepalanya.
Sementara Ares menyimpan kembali barang-barang di rak semestinya.
Keluar dari supermarket, tanpa sengaja ia melihat lift yang mengarah ke atas.
Lift itu berkaca bening.
Jantungnya berdegup melihat sosok yang ada di lift.
Fal!
Bersama seorang wanita yang tidak jelas terlihat wajahnya.
Tapi wanita itu memeluk lengan Fal mesra.
Tanvi terpaku memandangi lift yang bergerak ke atas.
Ares heran, lalu mengikuti pandangan Tanvi, dan kaget.
Tubuh Tanvi mendadak limbung, Ares langsung menahannya.
“Gue anter pulang ya, Vi. Beli kadonya besok aja.”
Tanvi tidak menjawab, lebih karena kepalanya pusing.
Ares segera membawanya pergi.
***
__ADS_1