
Kedatangan Tanvi disambut meriah oleh anak-anak panti.
Namun kondisinya sedang kurang baik.
Sekar dan Melly kembali ke kantor setelah Tanvi aman di panti.
Tanvi tertidur dengan mata sembab.
Indah terburu-buru pulang begitu mendengar Tanvi ada di panti.
Menjelang malam, Tanvi baru bangun.
Wajahnya tidak sesedih tadi.
“Nih, Vi. Aku bikinin teh manis. Diminum dulu.”
Tanvi beranjak bangun dan meminum tehnya.
Indah duduk di sampingnya.
“Ada masalah apa sampe kamu nggak mau pulang?”
Tatapan Tanvi kosong, entah apa yang dipikirkan.
“Ada apa, Vi? Cerita dong sama aku.”
“Aku…” suara Tanvi nyaris tidak terdengar. “Hamil.”
Indah terkejut, namun langsung tersenyum lebar.
“Serius? Alhamdulillah… bagus dong!”
“Ndah..” Tanvi berkata pelan. “Boleh aku nginep di sini?”
Sungguh Indah bingung jadinya.
Kalau Tanvi sedang hamil, kenapa nggak mau pulang?
“Nggak boleh ya?”
“Eh pasti boleh dong, tapi kamu udah ijin sama suami kamu?”
Tanvi menggeleng. “Aku nggak mau pulang. Kalau suamiku sendiri, benci sama aku.”
“Kok bisa dia benci sama kamu?”
“Dia…” Tanvi menggigit bibir. “Nggak mau ngakuin anak ini. Dia malah tuduh aku selingkuh dan hamil anak orang lain.”
“APA?!”
Tanvi terisak lagi.
“Kok jahat banget sih nuduh kamu begitu?”
“Aku nggak bisa dituduh gini, Ndah. Bisa-bisanya dia raguin kesetiaan aku. Walau kami menikah dalam situasi rumit, tapi aku udah bertekad mempertahankan rumah tangga kami. Disaat aku udah sayang sama dia, tapi dia ngeraguin itu dan nuduh aku…”
Tanvi tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Indah tidak habis pikir.
Tahu betul Tanvi tidak mungkin selingkuh.
Kenapa Fal bisa berpikir serendah itu?
Tanvi merebahkan tubuhnya dan menarik selimut.
Indah meninggalkan kamar, dan segera menghubungi Dena untuk memberitahu yang terjadi.
***
Di mana lagi Farhan bisa mencari sepupunya itu kalo bukan di tempat yang bikin pekak telinga?
Diskotik langganan Fal ini ramai meski sudah hampir tengah malam.
__ADS_1
Sungguh Farhan malas masuk jika tidak mendesak.
Begitu masuk, tampak kelap-kelip lampu yang bikin sakit mata.
Dentuman musik keras bikin pekak telinganya.
Farhan mencari-cari sepupunya dalam keremangan cahaya.
Fal ada di sudut, sedang ditemani wanita seksi.
Langsung saja ia memburunya.
“Fal!”
Fal mendongak, dan membuang muka, malas.
Farhan mengeluarkan uang dari dompet.
“Kamu pergi dari sini!”
“Lo apaan sih?” hardik Fal begitu wanita itu pergi setelah menerima uang.
“Ganggu kesenangan aja!”
“Lo yang ngapain di sini? Istri lo lagi sakit, lo malah asyik-asyikan di sini!”
“Dia bukan istri gue!”
Farhan geleng-geleng kepala.
Fal sudah mabuk.
Bicaranya sudah melantur.
Begitu Fal mau minum lagi, Farhan mencegahnya dan menariknya keluar.
***
Keesokan paginya, Fal terbangun dengan kepala yang terasa berat.
Bajunya tercium bau alkohol.
Oh ya semalam dia minum-minum lagi.
Ia melihat sudah jam 7 pagi.
Sambil menggaruk-garuk kepalanya ia keluar kamar.
“Tanvi.. mana baju kerjaku? Kenapa belum disiapin?”
“Tanvi nggak ada.”
Fal kaget melihat Farhan duduk di sofa menatapnya tajam.
“Elo! Ngapain lo di sini?!”
Farhan berdiri dengan wajah marah.
“Kalo bukan gue yang bawa lo dari sana, mungkin sekarang lo udah dilempar ke jalanan. Semalam lo mabuk berat. Lo tuh nggak ada kapoknya! Gara-gara lo mabuk, akhirnya lo harus nikahin Tanvi. Tapi lo nggak kapok buat mabuk-mabukan?”
Fal berusaha mencerna kejadian sebelumnya.
Oh iya, dia marah pada Tanvi!
“Sekarang dia mana?”
“Begitu gue anter lo tadi malem, Tanvi nggak ada. Gue dapet kabar kalo semalam dia nginep di panti.”
“Nggak tau diri banget, harusnya dia di sini urus gue!”
“Kenapa dia harus ngurusin lo?!” Farhan balas kesal. “Bukannya lo benci dia? Lo nuduh dia yang bukan-bukan?”
“Karena emang bener dia selingkuh!” teriak Fal kesal, emosi.
__ADS_1
“Gue berusaha cinta sama dia, terima dia sebagai istri gue. Tapi asal lo tau, gue nggak pernah tidur bareng dia. Gue di sofa, dia di kamar, dan sebaliknya. Jelas dia selingkuh!”
Farhan geleng-geleng kepala.
“Fal, gue kenal Tanvi. Dia nggak mungkin berbuat serendah itu.”
Fal menyeringai. “Ya jelas lah lo kenal, dia kan mantan pacar lo.”
“Ya. Lo nggak salah. Dia emang mantan pacar gue, makanya gue tau dia bukan gadis sembarangan. Dia nggak mungkin ngekhianatin lo.”
“Wait.. kok lo jadi ikut campur urusan rumah tangga gue? Apa keperluan lo?”
Farhan berusaha sabar.
“Jelas gue harus ikut campur. Kalian sodara gue. Dan istri lo lagi hamil, dia nggak boleh stress. Dengan sikap lo begini, lo udah ngerusak rumah tangga lo sendiri.”
“Gue jadi curiga deh, jangan-jangan elo masih sering ketemu diem-diem sama Tanvi, lalu kalian…?”
Fal menggantung ucapannya dan sinis.
“Dengan kata lain, mungkin aja dia hamil anak lo kan?”
BUAKKKKKK!!
Fal terjungkal ke belakang, tonjokan Farhan cukup keras menghantam wajahnya.
Darah menetes di ujung bibir.
“Lo emang udah gila! Kalo gue nggak rela, gue bakal bawa Tanvi kabur dan nggak biarin kalian nikah. Tapi gue menjaga nama baik keluarga kita. Dan gue sangat menghormati dia sebagai adik ipar gue sekarang! Nggak mungkin gue serendah itu nyentuh dia! Semua perhatian gue ke dia semata-mata karena kita sodara! Lo malah nuduh kami yang enggak-enggak!”
Farhan emosi tingkat tinggi.
Fal masih belum puas.
“Bisa aja kan dia curhat sama lo, dan kalian akhirnya kenang masa-masa pacaran dulu. Lo nggak bakal semudah itu relain dia buat gue!”
“Gue nggak nyangka ya lo sepicik itu!? Lo udah ngelakuin dua kesalahan besar. Pertama, lo nuduh istri lo selingkuh, padahal dia udah ngaku itu anak lo. Yang kedua, lo nuduh gue yang hamilin istri lo. Tuduhan lo itu keterlaluan, Fal! Gue pasti cari tau apa yang udah lo sembunyiin sampe lo nuduh gue sama Tanvi selingkuh!”
Farhan meninggalkan apartemen dengan emosi yang belum stabil.
Fal duduk termangu sambil menyeka darah di bibirnya.
Farhan tidak pernah semarah itu sampai memukulnya.
Dan kalau dia sampai memukul, berarti sudah sangat marah.
“Apa gue yang udah salah nuduh dia?”
Bel apartemen berbunyi.
“Apa Farhan balik lagi?” Fal tertatih-tatih membuka pintu.
“Pak Fally, ada kiriman.”
Ternyata security apartemen, membawakan amplop besar.
Begitu dibuka, ada selembar kertas.
Ia menggeram dan mengambil HP menghubungi Gwen.
“Halo, calon suamiku…”
“Gwen! Lo apa-apaan ngirim beginian?!” Fal langsung marah.
“Lho, ya jaminan lo nggak bakal ingkar janji nikahin gue. Tadinya gue kan kasih lo dua pilihan. Tapi gue berubah pikiran. Gue pengen jadi satu-satunya buat lo. Jadi, kalo lo nggak mau nikahin gue, rekaman video ini bakal gue kirim ke keluarga lo. Dan secepatnya gue tunggu istri lo harus tanda tangan itu. Nggak ada alasan. Bye.”
Klik.
“Sial!” Fal membanting amplop dan merebahkan tubuh di sofa.
Gwen mengirimnya surat kesepakatan agar Tanvi mau diceraikan Fal.
Dan jika Tanvi menandatanganinya, sama saja dengan mereka pisah saat itu juga.
__ADS_1
Fal benar-benar bingung harus berbuat apa.
***