Terima Kasih Cinta

Terima Kasih Cinta
Bab 26


__ADS_3

DUA minggu sudah Tanvi meninggalkan apartemen. Ia belum siap pulang dan menghadapi amarah Fal lagi.


Dia bekerja seperti biasa. Dan rutin meminum obat dari dokter.


Berkali-kali Farhan membujuknya untuk pulang, tapi dia tidak mau jika bukan Fal yang meminta.


Dia berusaha untuk tidak stress karena sempat pendarahan.


Dokter bilang ia harus menjaga emosi dan tidak banyak pikiran.


“Tanvi, saya perhatiin belakangan ini kinerja kamu menurun,” tegur Daniel ketika mereka berdua di ruangan.


Tanvi menyadari tubuhnya tidak bisa bergerak selincah dulu pertama bekerja.


Kini dia harus menjaga kondisi agak tidak mudah lelah.


“Belakangan ini kesehatan saya menurun,” jawabnya.


“Jadi kamu udah nggak sanggup kerja?”


“Saya masih bisa urus pekerjaan saya.”


“Yah kalau kamu udah nggak sanggup, saya bisa cari orang baru gantiin kamu.”


Tanvi terdiam dan menarik nafas, memaksakan tersenyum.


“Kalo memang itu yang Mas Daniel mau, saya akan mengundurkan diri.”


Daniel kaget dan menahan Tanvi.


“Eh kok dianggap serius? Saya bercanda kok. Supaya kamu nggak tegang. Oke deh, saya kasih kamu keringanan. Kamu cukup handle satu klien aja. Kamu tau kan Pak Hendra? Waktu kita meeting di kafe hotel. Kebetulan istrinya klien itu punya usaha bidang kecantikan. Kita bisa untung besar kalo deal.”


“Serius istrinya?” tanya Tanvi meyakinkan.


“Mas Daniel nggak akan nyuruh aku dateng untuk godain klien kan?”


Daniel tertawa. “Ya enggak lah, Vi. Saya professional kok. Nanti saya kasih alamat dan nomor teleponnya. Kamu bisa push dia terus untuk mau kerja sama dengan kita.”


Tanvi tidak membantah, daripada Daniel bawel bikin dia pusing.


Tanpa ia tahu kepala timnya berniat buruk.


***


Demi keamanan batinnya, Fal memutuskan mengganti nomor sementara.


Karena Gwen terus merecokinya.


Tanvi pun belum kembali dari panti.


Farhan selalu mengingatkannya agar menjemput Tanvi di panti, namun dia terlalu gengsi.


Dan pada akhirnya, Farhan mengetahui perihal Gwen ketika tidak sengaja memergoki mereka bertengkar.


Nampaknya Farhan mulai curiga.


Sepanjang meeting siang itu Fal tidak fokus ketika bawahannya menjelaskan laporan keuangan perusahaan.


Pikirannya semrawut.


Sampai meeting selesai, dia tidak mengerti kenapa hatinya begitu gelisah.

__ADS_1


“Maya, tolong pesankan nasi goreng di kantin,” kata Fal pada sekretarisnya.


“Baik, Pak.”


Fal masuk ruangan dan melepas jasnya.


Kepalanya pusing bukan main.


Ketika makanan pesanannya datang, dia langsung mencicipi dan…


“Puiihh! Apaan nih?!”


Nunu sang OB kaget tiba-tiba Fal membuang makanan yang sudah di mulutnya.


“Nasi goreng pesanan Bapak.”


“Kamu belinya di mana?”


“Di kantin.”


“Kenapa rasanya begini?”


“Memang apa yang salah, Pak?”


Fal membanting sendok, kesal.


“Ini rasanya beda dengan yang saya makan waktu itu. Dan saya nggak suka yang ini. Saya mau rasa yang sama dengan yang saya makan.”


“Tapi, Pak…” Nunu takut-takut menjelaskan. “Ini memang dari kantin. Kalo nasi goreng sebelumnya yang Bapak makan itu bukan dari kantin.”


Mata Fal menyipit. “Bukan dari kantin? Jadi?”


“Udah, udah stop!” Fal mengangkat tangan, sambil berpikir.


Tanvi yang masak?


“Apa mau saya pesankan yang lain, Pak?”


Fal mendengus. “Buang saja. Saya sudah tidak selera makan.”


Nunu mengangguk patuh dan membereskan semuanya.


*Kenapa gue jadi kangen sama Tanvi?*


*Selama ini dia emang nggak pernah ninggalin gue, dan pergi tanpa izin sama gue. *


*Tapi kali ini dia nggak pulang, apa gue udah keterlaluan nuduh dia?*


Bayangan Gwen mampir di pelupuk matanya membuatnya makin geram.


*Gara-gara Gwen, hidup gue jadi nggak tenang.*


Ia menarik nafas namun terasa sesak.


Tangannya menggapai gelas di meja, tiba-tiba….


Praangggg!


Ia kaget, tubuhnya mendadak tegang.


Kenapa gelasnya bisa jatuh padahal tadi gelasnya ada di tengah?

__ADS_1


“Ada apa, Pak?” tanya Maya.


Fal tidak menjawab, tangannya gemetar, keringat dingin mengalir di dahinya.


Kenapa perasaannya tidak enak?


“Maya, tolong kamu cari tau apa Tanvi dari bagian pemasaran hari ini masuk kantor?”


“Baik, Pak.”


Fal menyandarkan tubuh di kursinya, tubuhnya benar-benar lemas.


Sementara Nunu membersihkan pecahan gelas.


“Pak, maaf kalau saya lancang. Saya nggak sengaja dengar ketika mengantar teh ke ruangan pemasaran, ada yang membicarakan Bu Tanvi.”


Fal tercekat. “Apa? Bicara apa?”


“Katanya, Bu Tanvi akan segera datang, segera transfer sesuai perjanjian.”


Kening Fal berkerut.


“Apa maksudnya?”


“Saya juga tidak tahu. Saya hanya tau itu, karena yang bernama Bu Tanvi di kantor ini cuma satu.”


“Siapa yang bicara begitu?”


“Pak Daniel, dari bagian pemasaran juga, Pak.”


Laporan Nunu membuat Fal berpikir keras, apa maksudnya?


Bukannya Daniel itu kepala timnya Tanvi?


Maksudnya perjanjian apa?


Pintu terbuka.


Muncul Maya.


“Pak, Tanvi sedang keluar kantor. Katanya ada meeting di rumah klien.”


Fal kaget. “Kamu tau dia menemui siapa?”


“Barusan saya dengar, namanya Pak Hendra.”


“Kamu tau alamatnya?”


“Iya Pak, saya dapat alamatnya.”


“Dia pergi dengan siapa?”


“Sendiri, Pak.”


“Sudah berapa lama?”


“Sekitar setengah jam yang lalu.”


Tanpa pikir panjang, Fal mengambil kertas alamat di tangan Maya, dan bergegas keluar kantor.


***

__ADS_1


__ADS_2