Terima Kasih Cinta

Terima Kasih Cinta
Bab 16


__ADS_3

“Halo, Tanvi?! Lo di mana sih? Kenapa nggak balik ke kantor? Mas Daniel udah balik dari tadi kan? Lo mau bolos? Jangan berani-berani deh lo bolos.”


Saking berisiknya Tanvi sampai menjauhkan telepon dari telinganya.


“Aku ada di kantor, Mel. Ada apa sih? Kok kamu panik gitu?”


“Parah nih, kayaknya ada yang manipulasi data penjualan tim kita. Nggak sesuai dengan stok gudang.”


“Yang bener? Kok bisa?”


“Makanya, tadi Mas Daniel minta lo sama Oji cek ke gudang penyimpanan, untuk cocokin sama data kita. Gue kuatirnya ada yang sabotase.”


“Trus Oji-nya ke mana?”


“Oji belum balik dari meeting. Di sini cuma ada gue. Sekar sama Andri juga belum kelar meeting sama klien. Gue juga mau keluar ke bagian iklan.”


“Oh ya udah, ntar aku yang kabarin Oji deh.”


“Vi, lo nggak lagi kena masalah kan abis pulang meeting bareng Mas Daniel?” selidik Melly.


Tanvi mesem-mesem. “Santai aja. Bukan masalah besar kok. Sebentar lagi aku ke gudang.”


“Oke, Vi. Take care ya.”


Habis itu, Tanvi mengirim pesan pada Oji untuk ke gudang penyimpanan.


Ia masih duduk di bangku taman dekat kantor.


Barusan ia terjatuh ketika berdebat dengan Daniel yang lagi-lagi mempermasalahkan sikapnya untuk lebih agresif mendekati klien. Hasilnya ia hilang keseimbangan dan jatuh.


Dan kini lututnya terluka, terasa perih.


Ia meniup-niup lukanya sambil meringis.

__ADS_1


Lumayan sakit karena dia membentur aspal.


Tiba-tiba melintas mobil berwarna silver dan berhenti di tidak jauh darinya.


Dia masih sibuk mengobati lukanya.


“Kamu kenapa?”


Tiba-tiba Fal sudah menjulang di depannya, membuatnya mendongak kaget.


“Eh Kak Fal, ini tadi jatuh Kak.” Tanvi berusaha acuh karena mereka sedang di kantor.


“Kenapa bisa jatuh? Heels-nya patah lagi?”


Tanvi menggeleng.


“Ngg mungkin lagi meleng aja.”


Dia tidak berani bilang kalau Daniel sering menekannya untuk bersikap lebih menggoda pada klien, hingga ia sering berdebat dengan atasannya itu.


Ia berdiri namun langsung meringis sakit.


Fal spontan memegang sikunya.


“Kalo sakit ya diobatin. Nanti bisa infeksi. Duduk.”


Tanvi menurut dan duduk.


Fal berlutut di depannya, dan mengeluarkan saputangan dari saku jasnya, lalu membersihkan darah di lutut Tanvi dengan hati-hati.


Mereka tidak sadar jadi pusat perhatian para karyawan, yang langsung kaget melihat manajer mereka yang super cuek bisa melakukan hal se romantis itu.


Diperlakukan begitu, Tanvi tersenyum menatapnya.

__ADS_1


Tidak menyangka dengan sikap Fal yang membuatnya nyaman dan merasa diperlakukan amat spesial.


Seorang Fal bisa berlutut di depannya, walau bertujuan mengobati.


Sebagai seorang wanita jelas itu sikap yang sangat romantis dan membuatnya nyaman bahagia.


Fal membalutkan saputangan pada lutut Tanvi.


“Nah kalo gini nggak bakal sakit lagi. Nanti begitu pulang jangan lupa kasih obat.”


Fal mendongak menatapnya.


Tatapan mereka bertemu.


Untuk beberapa saat mereka hanya bertatapan.


Fal tersadar dan beranjak.


“Aku ada meeting. Kamu bisa jalan sendiri?”


Tanvi mengangguk masih tersenyum.


Fal bingung harus bilang apa, ketika menyadari para karyawan memperhatikan mereka.


“Ngapain kalian di sini? Kembali ke tempat masing-masing!”


Semua langsung bubar sambil kasak-kusuk nggak jelas.


Tanpa bicara, Fal bergegas masuk kantor.


Tanvi terus memandanginya.


Kenapa ia merasa mulai menyukai suaminya itu?

__ADS_1


Suaminya mulai menampakkan sifat lain yang belum pernah ia lihat.


***


__ADS_2