
“Pak Fally..”
Suara suster mengagetkannya.
Fal berdiri, ternyata sejak tadi dia duduk di depan pintu.
Matanya sembab, penuh harap.
“Selamat, bayi Bapak laki-laki.”
Fal menghela nafas lega.
“Bagaimana dengan istri saya?”
Suster terdiam.
“Sus, istri saya baik-baik aja kan?”
“Silahkan lihat sendiri kondisinya, Pak. Saya tidak bisa menjelaskan apa-apa.”
Tanpa buang waktu, Fal bergegas masuk.
Tanvi terbaring dengan infus dan alat bantu pernapasan.
Detak jantungnya tidak teratur, terlihat dari monitor di sampingnya.
“Pak Fally, jika dalam 12 jam istri Bapak tidak sadar juga, kami tim dokter tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kondisinya kritis dan kami tidak bisa berbuat banyak.”
Air mata Fal mengalir dan jatuh tepat di tangan Tanvi.
Mata Tanvi terpejam.
Fal beranjak dan mencium kedua mata Tanvi.
“Terima kasih, Tanvi. Anak kita udah lahir. Laki-laki. Aku emang belum lihat dia, tapi aku yakin dia sehat, ganteng kayak aku. Kamu harus bangun dan lihat dia. Kalau dia bangun tidur, pasti dia nangis cari kamu. Aku mesti bilang apa kalau dia tanya mana ibunya? Tanvi, aku butuh kamu. Kita harus sama-sama merawat anak kita. Aku nyesel selama ini udah sia-siain kamu. Nggak pernah aku bayangin ada wanita sehebat kamu, yang mau mempertaruhkan nyawa demi melahirkan anakku. Aku nggak mau kehilangan kamu.”
Tangan Fal gemetar menggenggam tangan Tanvi yang dingin.
Tanvi masih belum bergerak.
“Oh ya, kita belum sempat bahas nama anak kita. Tapi apapun itu, aku akan nunggu sampai kamu bangun. Nanti kita cari nama yang bagus untuk dia. Sekarang dia lagi tidur. Karena lahir lebih cepat, dia harus tinggal di inkubator. Kamu cepet bangun, Sayang. Kita sama-sama lihat anak kita.”
__ADS_1
Tanvi masih belum bereaksi.
Fal menghela nafas panjang dan mencium tangan Tanvi.
“Aku nggak bisa kehilangan kamu. Tolong beri aku kesempatan untuk menjadi suami yang baik, dan ayah yang baik untuk anak kita. Aku mohon, beri aku kesempatan itu. Kalau kamu bangun dan mau bicara sama aku, apapun yang kamu mau akan aku kasih. Kita liburan bertiga, dan aku nggak akan bahas kerjaan selama kita bersama. Kita bisa belanja mainan dan baju untuk jagoan kita, itu kan yang kamu suka.”
Fal masih terus mengajak Tanvi bicara.
“Kamu jangan khawatir tentang Ibu. Farhan sedang berupaya bebasin Ibu dari tuduhan Alisha. Begitu kamu bangun, kita akan temui Ibu. Kalau perlu, kita bawa Ibu tinggal sama kita. Itu kan yang kamu mau? Aku akan lakukan apapun, tapi aku mohon kamu harus kuat. Demi aku, demi anak kita. Kami masih butuh kamu, Sayang.”
Sungguh Fal tidak siap kehilangan Tanvi.
Ia menyesal sudah melukainya.
Saking lelahnya, Fal tertidur di samping tempat tidur, sambil memegang tangan Tanvi.
***
Sudah hampir tengah malam, ketika Fal terbangun.
Tanvi masih belum sadar.
Berarti sudah 8 jam sejak selesai operasi.
Dokter bilang jika dalam 12 jam belum ada perkembangan, berarti kemungkinan Tanvi tidak selamat.
Memikirkan itu semua membuat Fal sedih.
Suster masuk ruangan dan memeriksa tekanan darah Tanvi.
Fal terus berusaha mengajak Tanvi bicara.
“Tanvi, kita makan es krim lagi. Kalau kamu suka banget es krim, kita bakal wisata kuliner khusus cari es krim. Kamu bisa makan sesukanya. Atau kamu suka main ke pantai? Kita ke pantai paling indah. Pokoknya kita bakal liburan. Tapi kamu bangun ya, aku kangen sama kamu. Sama masakan kamu. Tiap pagi kamu selalu siapin baju kerja aku dan selalu charge HP-ku. Kamu tau aku pelupa suka nggak ingat untuk charge HP. Tapi setelah kita nikah kamu urus aku dengan baik. Apartemen kita selalu rapi dan bersih kalau ada kamu. Kamu bener-bener istri yang hebat. Walau aku sering nyakitin kamu, tapi kamu nggak pernah lupa tugas kamu sebagai istri yang baik. Kalau kamu nggak bangun juga, siapa yang ngurus aku dan anak kita? Aku nggak sanggup kehilangan kamu.”
Suster yang mengganti cairan infus, sampai terharu mendengar ucapan dan tatapan tulus Fal.
Fal tertawa pelan, matanya sudah memanas.
“Kamu inget pertama kita ketemu? Gara-gara aku mabuk, sampe-sampe kita tidur bareng. Dulu aku memang nggak suka situasi kita. Tapi sekarang aku nggak nyesel. Malahan aku cemburu kalo ngebayangin kamu nikahnya sama Farhan. Karena kamu ditakdirkan untuk aku. Nggak ada yang bisa ngubah.”
Fal membelai tangan Tanvi yang masih tidak bergerak.
__ADS_1
“Kita jarang ngobrol kan? Tapi mulai sekarang, aku bakal lebih cerewet dari kamu. Aku nggak akan biarin kamu susah. Kita akan senang-senang, bermain sama anak kita, sampe kita tua nanti. Dan kalau perlu, begitu kamu sehat, kita bisa bikin adik untuk anak kita.”
Fal tertawa menyadari perkataannya konyol.
Melahirkan satu saja Tanvi sudah koma.
“Kalau kamu cepat bangun, aku akan kasih tau satu rahasia. Aku dan Ibu cari waktu yang tepat untuk kasih tau kamu. Makanya kamu bangun. Kamu pengen lihat anak kita? Dia belum punya nama. Kita harus diskusi untuk namanya. Kalau sampe orang rumah tau kita belum kasih nama, kamu tau sendiri bisa-bisa mereka rebutan ingin kasih nama. Tapi aku ingin nama anak kita kesepakatan aku dan kamu.”
Tanvi masih tidak bereaksi.
Fal nyaris putus asa, lalu menoleh pada suster. “Sus, bisa bawa anak saya ke mari?”
“Tapi dia sedang tidur, Pak. Dan masih di inkubator.”
“Tidak apa-apa. Anak saya bisa bantu membangunkan istri saya. Saya mohon, Sus. Saya tidak punya cara lain.”
Suster berpikir sebentar lalu mengangguk.
“Baik, akan saya bawa ke sini.”
“Terima kasih.”
Begitu suster keluar, Fal berdoa dalam hati semoga dengan kehadiran anaknya bisa membantu Tanvi sadar.
Tak lama kemudian, suster masuk membawa bayi yang masih di dalam inkubator.
“Anak kita ganteng banget, Sayang. Kamu harus lihat dia. Aku nggak sabar pengen kasih tau keluarga kita, biar mereka juga lihat, seberapa lucunya anak kita.”
Tiba-tiba bayinya terbangun dan menangis keras.
Tangisan bayi itu ternyata memicu detak jantung Tanvi, yang terlihat di monitor.
Jantung Fal kencang berdebar menyaksikan kejadian itu.
Tiba-tiba tangan Tanvi bergerak, membuat Fal kaget.
Kelopak matanya bergerak juga.
Fal menangis haru, akhirnya Tanvi sadar!
***
__ADS_1