Terima Kasih Cinta

Terima Kasih Cinta
Bab 42


__ADS_3

Ruangan bercat putih itu terlihat mengerikan di mata Fal, lebih karena melihat Tanvi terbaring dengan wajah pucat dan mata terpejam.


Tangannya diinfus dan dipastikan kondisinya belum membaik sejak tadi.


Fal menarik kursi dan duduk di sisi tempat tidur, menatapnya dengan rasa bersalah.


“Maafin aku, Tanvi.”


Tanvi masih tidak bergerak.


Fal mencium tangannya, lama.


“Maafin aku, udah ngecewain kamu. Sekarang aku ada di sini. Tolong, buka mata kamu. Kalau udah keluar dari sini, kita makan es krim lagi. Kalau perlu, aku beliin kamu bunga satu taman. Aku bakal kasih apa yang kamu mau. Asal kamu bangun dan bicara sama aku.”


Ia menatapnya penuh perasaan, lalu beranjak mencium dahinya.


Suster masuk ruangan.


“Pak Fally, Bu Tanvi akan diberi suntikan obat. Bapak bisa datang lagi nanti.”


Fal memandang Tanvi, tersenyum.


“Aku tinggal dulu.”


Dengan langkah lunglai, ia meninggalkan ruangan.


Farhan sudah menunggunya.


“Puas lo sekarang? Emang ini yang lo mau kan?”


Fal menelan ludah. “Gue nggak sengaja, Han.”


“Nggak sengaja? Lo tau tadi dia ngotot nggak mau ke rumah sakit, dia cuma mau lo bersama dia. Dari tadi dia manggil nama lo terus. Lo bisa setega itu?”


Tidak ada gunanya dia membela diri.


Karena ia memang salah sudah mengabaikan Tanvi dalam kondisi sekarang.


“Fal..” muncul Rendy. “Alisha udah masuk UGD. Dia cuma sakit lambung aja. Nggak ada yang serius.”


“Alisha? Dia juga di sini?” Farhan heran.


“Iya, dia di UGD. Tapi lo tenang aja, Fal. Ada Bu Namila yang jagain dia.”


Fal tercekat. Tubuhnya menegang.


“Bu Namila? Pembantunya Alisha? Dia ada di sini?”


Farhan menyadari ada yang tidak beres.


***


“Kasih tau gue, ada apa sebenernya, Fal?” desak Farhan.


Mereka berdebat di depan kamar rawat Tanvi.


“Gue nggak tau harus mulai dari mana.” Fal terduduk dengan wajah lesu. “Gue udah coba tutupin ini, tapi gue nggak bisa.”


“Fal, lo jangan berbelit-belit, kasih tau gue!” Farhan makin tidak sabar.


“Bu Namila, pembantunya Alisha, dia adalah ibu kandung Tanvi.”

__ADS_1


Farhan tercekat. “Apa?! Lo yakin?!”


Fal mengangguk. “Tadinya gue kepikiran mau tes DNA. Tapi gue khawatir bisa membahayakan kehamilannya. Dia sakit hati sama ibunya. Kalau sampe dia tau, dia pasti terpukul. Makanya gue rahasiain ini dari dia,” jelas Fal.


“Kenapa lo nggak kasih tau gue?”


“Karena gue mau mastiin dulu. Gue sendiri nggak tenang nyimpen rahasia sebesar ini. Terutama dari Alisha. Kalau sampe dia tau pembantunya adalah ibu kandung Tanvi, lo tau sendiri dia bakal makin semena-mena.”


“Bu Namila tau tentang ini? Dia tau lo suami dari Tanvi?”


Fal menggeleng. “Gue cukup shock waktu liat dia datang. Mana lah gue bisa kasih tau istri gue adalah anak yang dicari.”


“Wah kasus kalo begini. Dari dulu Tanvi sakit hati sama orangtua kandungnya.”


“Makanya…”


Tanpa mereka tahu, Tanvi berdiri di balik pintu kamar rawat, mendengar percakapan mereka.


Tubuhnya jatuh merosot di balik pintu, dan menangis memegang perutnya.


***


Hanya 2 hari Tanvi dirawat, setelah kondisinya membaik dia diperbolehkan pulang.


Semula ia diminta tinggal di rumah saja, tapi menolak karena ingin di apartemen hingga melahirkan.


Fal jadi lebih protektif menjaga Tanvi.


Karena kandungannya melemah setelah kejadian itu.


Ia tidak ingin mengambil resiko besar dengan menyakiti Tanvi lagi.


Namun Tanvi berpikiran lain dengan menolak tinggal di rumah.


Jantungnya berdebar kencang.


Tak lama pintu terbuka.


Seorang perempuan setengah baya mengenakan celemek menatapnya bingung.


“Lho? Temannya Non Alisha kan?” tanyanya ramah.


Tanvi menelan ludah, dan menatapnya datar.


Apa benar wanita yang berdiri di hadapannya adalah ibu kandungnya?


“Non, silahkan masuk?”


“Saya di sini saja. Boleh saya tau, nama ibu?”


“Saya Namila. Non Alisha memanggil saya Bu Namila. Non ini siapa?”


Sebagai jawaban, Tanvi mengeluarkan secarik kertas lusuh yang selalu disimpannya.


Melihat benda itu, Bu Namila kaget.


Kertas bertulisan ‘Tanvi Malika Andrena’ membuatnya menganga.


“Apa benar ibu ini ibu kandung saya?” tanya Tanvi terpukul.


Bu Namila tidak bisa berkata-kata, menatapnya tidak percaya.

__ADS_1


Matanya sudah berkaca-kaca.


“Tolong jawab jujur, apa benar saya ini anak ibu?” Tanvi sudah mulai menangis.


Bu Namila menitikkan air mata, tangannya terulur menyentuh wajah Tanvi, yang langsung menghindar.


“Katakan kalau ini semua tidak benar?” Tanvi terisak-isak. “Kenapa ada seorang ibu yang tega membuang anaknya dan mencarinya lagi? Kenapa?”


“Maafkan Ibu, Nak…” akhirnya Bu Namila bersuara.


Tanvi tidak sanggup berlama-lama, ia berbalik pergi, meninggalkan Bu Namila yang menangis menyesali yang terjadi.


***


“Lo cuma dehidrasi ringan. Istirahat aja yang cukup.”


Alisha bersandar manja di bahu Fal.


“Lis, jangan berlebihan gitu.”


Fal memapahnya keluar lift dan memencet bel.


Pintu terbuka.


“Bu Namila, tolong bawa Alisha ke kamar. Saya harus segera pulang.”


“Ahhh gue nggak mau, lo harus temenin gue malem ini…”


Alisha tidak mau melepaskan tangan Fal.


“Gue nggak bisa, Lis.”


Bu Namila masuk membawa tas Alisha.


“Pokoknya lo nginep di sini malem ini.”


“Gue nggak bisa.”


“Nggak ada nolak. Lo di sini sama gue. Titik.”


Fal mendengus malas.


HP-nya berbunyi.


Ia menjawab.


“Halo, Tanvi?”


Bu Namila tercekat. Tanvi?


Tiba-tiba Fal menegang.


“Tanvi kamu lagi di mana sekarang? Oke kamu tunggu di sana. Jangan kemana-mana.”


Ia memutuskan telepon dan menatap Alisha.


“Lis, gue harus pergi. Terserah lo mau benci gue, tapi istri gue jauh lebih butuh gue sekarang.”


“Fal…!” jerit Alisha begitu Fal pergi.


Bu Namila mematung mendengar fakta Tanvi adalah istri Fal.

__ADS_1


***


__ADS_2