Terima Kasih Cinta

Terima Kasih Cinta
Episode 8


__ADS_3

Felisya.


Aku terbangun saat azan subuh berkumanadang. Aku melihat sekeliling. " Aku dimana yah. Perasaan ini bukan kamarku!" Pikirku. Ku coba untuk mengingat apa yg terjadi semalam.


" Yah. Aku terjatuh dalam keadaan yg sangat memalukan. Lalu aku pura" pingsan hingga ketiduran gara gara merem trus. Ya ampuunn."


Aku baru sadar. Aku ada di Dalem. Di rumah bu Nyai. Bagaimana caraku untuk keluar dari sini yah. Sejenak ku dengar ada suara langkah kaki mendekat. Sebelum aku sempat tertidur, pintu sudah terbuka. Dan Bu Nyai pun menyapa ku " Sudah bangun Felis??"


" Iya bu. Maaf kalau saya merepotkan. Saya kembali ke pondok dulu bu Nyai." Kataku sambil berdiri.


" Nggak mau istirahat dulu nak. Kamu izin dlu."


" Nggak usah bu Nyai. Saya tidak apa apa. Lagi pula sudah azan subuh. Saya mau sholat dulu."


" Ya sudah. Mau saya panggilin Rani dlu lis??"

__ADS_1


" Tidak bu. Terima kasih. Assalamualaikum bu Nyai" kataku sambil mencium tangannya.


" waalaikumsalam" jawan bu Nyai.


...


" Eh lis. Kamu bener nggak ppa kan. Semalem aku khawatir banget tau. Tapi sama bu Nyai malah disuruh balik." ucap Rani sambil memegang keningku.


Kutepis tangan Rani. " Apaan sih Ran. Aku nggak ppa koq. Semalem tuh aku pura pura pingsan doang. Trus malah ketiduran. Hihi. " jawab ku sambil cekikikan.


" Abis aku malu banget tau. Udah kepeleset. Disiram nasi goreng. Terakhir malah kena taplok sama telor ceplok. " jawab Felis membuat Rani dan icha tertawa.


😂😂😂


Sejak kejadian hari itu, aku menjadi lebih dekat dengan keluarga dalem. Apalagi sama Fauzan yg sekarang aku panggil Gus Fauzan. Dia juga memberiku 2 setelan gamis lengkap sama khimarnya. Bu nyai juga sering memintaku menemaninya memasak jika ada acara keluarga. Memang setiap 2 bulan sekali, terkadang ada perkumpulan anggota keluarga di rumah nyai.

__ADS_1


Pernah suatu waktu. Bu nyai menanyaiku tentang pernikahan.


" Felis. Jika ada yg ngelamar kamu, apa kamu mau menikah dengannya??? Dengan kondisinya yg cacat. Seperti misalnya, dya lumpuh. Atw buta. Bagaimana lis??? Apa kamu mau menikah dengan pria seperti itu??"


Sontak mendengar pertanyaan bu nyai membuat ku kaget. Ku jawab apa yg ada di otakku. " Emmm. Entahlah bu. Semua saya serahkan kepada ayah dan bunda bu. Saya menyukainya atw tidak, akn tetap saya terima. Karna saya yakin. Pilihan orang tua saya pasti yg terbaik." Jujur aku mengatakannya dengan hati hati. Karna aku takut salah ngomong. ' diakan Nyai. Nggak mungkin aku jawab sembarangan ' pikir ku.


Ku lirik bu nyai yg ternyata tersenyum dengan jawabanku. " Jadi kamu akan nerima apapun keputusan ayah sama ibu kamu lis???" Tanya bu nyai. Mungkin belum yakin dengan jawabanku.


" Iya bu Nyai. Sebenarnya saya bukan anak yang penurut bu. Hanya saja semenjak saya nyantri disini. Saya baru sadar. Saya belum pernah bahagiain orang tua saya. Rasanya prestasi saya juga belum cukup. Karna saya juga belum pernah membuat orang tua saya bangga." Ucapku pelan. Entahlah. Pertanyaan itu membuat ku merindukan ayah ibu. Tanpa sadar aku menangis. Tangis yg awalnya hanya dalam diam. Kini mulai sesenggukan. Ku tanggalkan dlu ego ku. Meski sejujurnya aku malu sama bu nyai. Karna tanpa sadar aku telah curhat padanya.


Pelukan yg bu nyai berikan, membuat ku kepikiran ibu. Saat terakhir aku menolak permintaannya. Sungguh, baru kali ini aku merasakan sesaknya menahan rindu.


'Ayah.... Ibu...


Felisya kangen.' Ku bisikkan nama ayah dan ibu ku dalam hati. Berharap besok mereka datang menjengukku. Meski ku tau itu mustahil. Karna sekarang ibu pun sudah ke singapur untk menemani ayah menjalankan bisnis baru ayah disana.

__ADS_1


__ADS_2