Terima Kasih Cinta

Terima Kasih Cinta
Bab 12


__ADS_3

TANVI baru saja melewati episode perih.


Meski sulit, ia sudah bisa menerima keputusan Farhan.


Dan berusaha menjalani hari-hari seperti biasa.


Ia mulai bekerja di perusahaan dan meminta agar identitas sebagai menantu pemilik perusahaan dirahasiakan.


Ia tidak ingin diperlakukan berbeda.


Papa dan Om Tito pun setuju.


Sejujurnya dia memang ingin dianggap orang lain saja agar lebih mudah move on dari Farhan.


“Ini produk-produk kita yang siap launching. Kamu bisa pelajari dulu dan bisa tanya saya sebagai kepala tim marketing di sini. Nama saya Daniel.”


Tanvi menerima berkas. “Terima kasih, Pak.”


“Lho jangan panggil Pak. Panggil saya Mas aja. Seperti yang lain.” Daniel mengedipkan mata nakal.


Tanvi agak risih. “Baik, Mas Daniel.”


Dalam tim ini berjumlah 5 orang termasuk dirinya.


“Ssstt… Tanvi, lo harus hati-hati sama Mas Daniel. Dia itu ganjen sama cewek cantik,” bisik Sekar, rekan timnya.


“Iya, baru kenal aja dia udah ngajakin gue ke karaoke, berdua doank, modus amat kan jadi cowok,” tambah Melly.


“Emang kalian udah berapa lama masuk tim ini?” tanya Tanvi.


“Kalo gue baru sebulan, Melly udah 2 bulan lebih. Kalo tuh 2 cowok itu, namanya Andri sama Oji. Mereka juga baru gabung sebulan.”


“Pokoknya lo harus hati-hati sama Mas Daniel. Dari tadi gue perhatiin dia ngincer lo. Kalo dia macem-macem, laporin aja ke manajer kita.”


Tanvi hanya tersenyum kecil, dan kembali memusatkan perhatian pada berkas-berkas produk.


***


“Tanvi, sehabis makan siang kamu ikut saya meeting sama klien. Jangan lupa bawa bahan-bahan persentasinya.”


Daniel mewanti-wanti ketika Tanvi bersama Sekar dan Melly mau keluar makan siang.


“Baik, Mas.”


Mereka langsung kasak-kusuk.


“Kebiasaan tuh kapten tim, giliran yang baru dipepet terus,” komentar Melly.


“Eh Vi, lo hati-hati sama dia, jangan mau kalo dipegang-pegang.” Sekar menambahkan.


“Iya.. aku kan bukan anak kecil. Yuk makan!”

__ADS_1


Mereka memasuki kantin yang sejuk ber-AC.


Lagi asyik makan soto ayam, muncul Fal memasuki kantin.


Langsung saja terdengar kasak-kusuk para cewek seisi kantin melihat kedatangan manajer ganteng itu.


Tanvi meliriknya diam-diam.


Tampaknya suaminya itu tidak melihatnya.


Fal ambil tempat di pojok dekat jendela, minum secangkir kopi dan sibuk dengan HP-nya.


Tidak peduli jadi pusat perhatian.


“Duuuhh ganteng banget ya Pak Fally,” gumam Melly melihat Fal kagum.


“Iya, Mel. Udah ganteng, cool, tajir, duuhhh cowok idaman banget deh,” tambah Sekar nggak kalah kagum.


“Coba aja gue bisa pindah ke bagian Finance.”


“Sayangnya, jatah kita ya sama si ganjen itu.”


“Huusss kalian nih, jangan ngomongin orang. Ntar ada yang denger kan berabe,” sahut Tanvi.


“Eh Vi, kan lo belum tau. Nih gue kasih tau ada 2 cowok ganteng pemilik perusahaan ini. Yang itu namanya Pak Fally, Manager Finance, anak wakil direktur perusahaan. Ada lagi saudaranya, namanya Pak Farhan, Manager Personalia, anak direktur utama. Sayangnya kalo Pak Farhan kita jarang liat.”


Tanvi tersenyum.


Harus berpura-pura tidak kenal dengan suami dan iparnya.


“Eh Kar, tapi gue denger gosip, katanya Pak Fally sama Pak Farhan udah pada nikah. Lo tau nggak sih?”


“Iya gue juga denger. Banyak yang patah hati deh tu.”


“Ya iya lah… Pak Fally kan terkenal.”


“Iya terkenal sombongnya. Mungkin gara-gara kelamaan di luar negeri.”


“Tapi kok mereka nikah nggak ada ngundang kita di perusahaan? Biasanya Pak Tito selalu ngundang karyawan.”


“Eh udah dong ngegosipnya, ke ruangan yuk, kalian harus bantuin aku siapin materi persentasi. Aku kan belum ngerti apa aja yang perlu dibawa.” Tanvi menuntaskan makannya dan menghabiskan minumannya.


Sekar dan Melly menurut.


Begitu keluar kantin, mereka masih mengobrol seputar Fal dan Farhan.


Tiba-tiba…


Kraaakkkk!


“Astagfirullah…!” teriak Tanvi karena tubuhnya tidak seimbang.

__ADS_1


Sebelum jatuh, ada yang menangkapnya dengan sigap.


Dua temannya ikut kaget.


Tanvi gemetar kaget, dan begitu tahu yang menangkap tubuhnya supaya tidak jatuh, ia lebih terkejut lagi.


Farhan!


Lelaki itu memeluk pinggangnya sambil menatapnya bingung.


Ia buru-buru melepaskan diri.


“Kamu kenapa?” tanya Farhan pada Tanvi, membuat Sekar dan Melly melongo.


Tanvi buru-buru melepas sepatunya.


“Heels saya patah, Kak.. eh Pak Farhan.”


Farhan melihat sepatu Tanvi memang rusak.


“Lain kali teliti kalau beli. Mungkin ini udah daur ulang makanya mudah patah. Ini bisa bahaya gimana kalo kaki kamu terkilir.”


Tanvi menunduk, kenapa Farhan tidak bisa menahan diri untuk memperhatikannya?


Ini kan di kantor.


Bagaimana kalau jadi gosip?


“Ada apa, Han?” muncul Fal bikin Sekar dan Melly makin melotot.


“Sepatunya patah,” jawab Farhan datar. “Untung nggak sampe jatoh.”


Fal menatap Tanvi, tajam. “Bawa sepatu lagi?”


Tanvi mengangguk pelan.


“Yang itu buang aja. Nggak perlu kamu pake.” Fal merangkul Farhan. “Ke ruangan gue yuk, ada yang mau gue tunjukin ke lo.”


Farhan menurut sambil melirik sekilas pada Tanvi yang masih menunduk.


Begitu Fal dan Farhan berlalu, langsung deh Melly dan Sekar heboh menginterogasi temannya.


“Gila! Mimpi apa ni anak baru! Udah 2 bulan gue kerja di sini boro-boro ditegur. Diliat aja kagak.” Melly surprise sambil mengguncangkan bahu Tanvi, heboh.


“Apaan sih?” Tanvi menghindar.


“Ihhh Tanvi keren deh! Sekali jalan langsung ditegor dua cowok ganteng.” Sekar memeluk Tanvi, norak.


“Ahhhh pada ngelantur deh.. ayo ke ruangan!” Tanvi menarik kedua temannya pergi sambil menenteng sepatunya yang rusak.


***

__ADS_1


__ADS_2