
Mobil berhenti di depan rumah Alif.
Farhan tergesa-gesa keluar mobil dan menghampiri Tanvi yang terkulai lemas.
“Tanvi, kamu kenapa?” Farhan cemas.
“Sejak tadi dia kurang sehat, Kak.” Indah yang menjawab.
“Dan Kak Fal nggak bisa dihubungi. Makanya kami telepon Kak Farhan. Soalnya tadi dia mau naik taksi sendirian.” Dena menambahkan.
“Iya makasih. Biar aku yang anter dia pulang. Tanvi, kamu bisa jalan sendiri?” Farhan meyakinkan karena ekspresi Tanvi jelas tidak baik.
Tanvi tidak menjawab, matanya sayu.
Dibantu Roni, Farhan memapah Tanvi memasuki mobil.
“Tanvi, kamu kenapa?” tanya Farhan sambil menoleh sekilas pada Tanvi yang diam saja.
Jalanan cukup macet dan Farhan berusaha mengajaknya bicara.
“Kak Fal ada di kantor?” tanya Tanvi pelan.
“Barusan aku nggak liat dia. Memang kenapa?”
“Bisa tolong cari tau apa hari ini Kak Fal ke kantor?”
Meski bingung, Farhan mengiyakan permintaan Tanvi dan menghubungi kantor.
“Katanya barusan Fal ke kantor, setelah jam makan siang nggak balik lagi.”
Tanvi menggigit bibir, sedih.
“Sebenernya ada apa, Tanvi?” Farhan penasaran.
Tanvi menggeleng.
Farhan menepikan mobilnya dan berbicara serius.
“Kamu bisa cerita sama aku kalo ada masalah. Jangan terlalu stress. Inget kamu lagi hamil tua. Kasian bayi kamu. Apa ada masalah sama Fal?”
Cukup lama Farhan membujuk Tanvi, akhirnya Tanvi menceritakan yang terjadi.
Farhan terdiam dan meremas stir.
*Dasar Fal, pasti tu anak lagi asik sama Alisha!*
__ADS_1
Ia tahu Alisha pindah ke apartemen yang sama dengan Fal dan Tanvi.
Keberadaan Alisha jelas merusak suasana.
Melihat kondisi Tanvi, Farhan melihat sekitar.
“Tanvi, untuk sementara kamu istirahat di apartemenku aja. Kebetulan ada Reva juga. Apartemenku nggak jauh dari sini, dan kamu perlu istirahat.”
Tanvi mengiyakan tawaran Farhan, lebih karena kepalanya pusing.
Farhan melajukan mobil menuju apartemennya.
Sejujurnya ia hanya ingin menjauhkan Tanvi agar tidak bertemu Alisha.
Emosinya meninggi mengingat kelakuan sepupunya yang tidak berubah.
***
Hari sudah gelap ketika Fal datang ke apartemen Farhan.
“Mana Tanvi? Dia baik-baik aja kan?”
“Dia lagi tidur di kamar.” Farhan menatapnya tajam.
Fal gelagapan.
“Ikut gue! Kita harus bicara.”
“Tapi Tanvi…”
“Ada Reva yang jagain dia. Yang jelas, saat ini dia nggak mau ketemu sama lo.”
“Maksud lo apa, Han?”
Fal mengikutinya menuju coffeeshop di lantai dasar apartemen.
“Lo ngaku deh, barusan lo lagi sama Alisha?” tembak Farhan.
Fal kaget. “Lo tau dari mana?”
“Bukan gue, Tanvi yang tau. Barusan dia nelepon lo dan Alisha yang jawab. Lo abis ngapain di tempat dia?”
“Gue…” Fal kesulitan menjawab. “Gue cuma…”
“Fal, tolong jangan bikin gue nyesel udah relain Tanvi buat lo,” kata Farhan dingin. “Lo nggak ada kapoknya nyakitin dia? Harusnya lo tau kondisi kehamilannya. Dia nggak boleh banyak pikiran.”
__ADS_1
“Iya gue tau. Bukan maksud gue ngecewain dia. Dan gue nggak maksud cari masalah sama lo. Oke gue ngaku, barusan memang gue ke tempat Alisha. Tapi gue nggak ngapa-ngapain. Lagian kami nggak berduaan. Di sana ada pembantunya Alisha juga. Lo bisa tanya kalo nggak percaya.”
“Trus lo ngapain ke sana?”
Farhan masih belum puas dengan jawaban Fal yang berbelit-belit.
“Dan kenapa Alisha bisa jawab telepon lo?”
Fal sudah terpojok dan menceritakan maksud tujuan menemui Alisha, yaitu jujur tentang statusnya yang sudah menikah, dan istrinya sedang hamil.
“Gue udah minta dia pindah apartemen. Tapi dia nggak mau. Dia jawab telepon Tanvi pas gue lagi di toilet. Dan akhirnya tanya kapan gue nikah. Gue kira setelah gue kasih tau gue nikah dia bakal jauhin gue, tapi dia malah minta ketemu sama Tanvi. Lo tau sendiri Alisha keras kepala. Dan gue sulit nolak kemauan dia.”
“Jadi?”
Fal menggeleng putus asa.
“Gue nggak tau harus berbuat apa. Gue nggak berharap memperburuk kondisi Tanvi.”
Farhan memahami perasaan saudaranya.
Memang sulit kalau urusan perasaan.
HP Fal berbunyi.
Terpampang nomor tidak dikenal.
“Kenapa nggak dijawab?”
Fal angkat bahu. “Nggak tau siapa.”
“Coba aja jawab. Siapa tau penting.”
Fal menjawab telepon.
“Halo? Iya ini dengan siapa? Dena?”
“Dena yang satu panti dengan Tanvi,” jawab Farhan setengah berbisik.
“Ooohh iya ada apa?”
Fal mendengarkan dengan seksama, mendadak tubuhnya menegang.
Farhan menduga ada yang tidak beres.
***
__ADS_1