
Rumah sakit begitu lengang dan dingin.
Karena sudah mendekati tengah malam.
Fal dan Tanvi tergesa-gesa menuju UGD.
Dilihatnya Papa Malik terduduk di bangku depan ruangan, dengan kepala tertunduk.
“Pa,” panggil Fal membuatnya mendongak.
“Bagaimana keadaan Alisha?”
Tanvi jadi canggung tidak tahu bagaimana bersikap pada ayah kandungnya.
“Belum sadar. Tapi racunnya sudah berhasil dinetralisir,” jawab Papa Malik sambil berdiri menghadap Tanvi.
“Maafkan Papa, Nak. Papa tidak tau yang terjadi selama ini membuat kamu menderita.”
Tanvi menunduk, tidak tahu harus menjawab apa.
Tak lama kemudian, Bu Namila muncul.
“Bagaimana keadaan Non Alisha?” tanyanya khawatir.
“Sudah melewati masa kritis, Bu.”
Fal yang menjawab, lalu menoleh pada Tanvi.
“Aku yang hubungin Ibu untuk datang ke sini.”
Tanvi tidak berani menatap kedua orangtuanya.
Alisha ditemukan Papa Malik, pingsan di kamarnya karena minum racun.
Alisha frustasi karena Fal meninggalkannya.
Untung segera ditemukan sebelum racun menyebar.
Butuh waktu lama untuknya bisa pulih.
Fal merasa bersalah.
Bagaimanapun juga, salahnya tidak memberi ketegasan pada Alisha hingga wanita itu terus berharap.
Bertahun-tahun mereka berhubungan jelas tidak mudah melepaskan begitu saja.
Menurut keterangan dokter, Alisha meminum racun serangga.
Papa Malik bercerita sebelumnya mereka sempat berdebat panas.
Ketika Papa Malik mengungkapkan ingin memasukkan nama Tanvi dalam hak waris.
Tanvi akan diwariskan setengah dari kekayaan Papa Malik.
Alisha tidak bisa terima dan mengurung diri di kamar.
__ADS_1
Hingga memutuskan bunuh diri.
Tanvi tidak menyangka Alisha akan bertindak nekat.
Melihat Papa Malik begitu sedih, ia mendekatinya.
“Pa, ikuti saja maunya Alisha. Papa enggak usah mikirin aku. Aku nggak mau hartanya Papa kalau Alisha jadi marah.”
“Tapi… kamu juga anak Papa. Papa menyesal baru tau semua ini belakangan. Tapi jika Papa punya kesempatan memperbaiki keadaan, terima keputusan Papa, Nak.”
“Aku ngerti, Pa. Tapi gimanapun juga, nyawa Alisha lebih penting. Aku nggak ingin harta dari Papa kalau itu cuma buat Papa sedih dengan kehilangan Alisha.”
Papa Malik tidak bisa berkata-kata lagi.
Tanvi maju memeluknya.
“Tolong lakuin yang Alisha mau, Pa.”
Papa Malik membalas pelukannya, erat.
Dokter keluar dari ruang tindakan.
Fal langsung memburunya.
“Bagaimana keadaan Alisha, Dok?”
“Masih lemah. Sebaiknya biarkan dia istirahat. Apa ada yang bernama Tanvi?”
Semua mata tertuju pada Tanvi.
“Silahkan masuk. Pasien ingin bicara.”
Tanvi bingung, menatap orangtua dan suaminya.
“Perlu aku temani?” tawar Fal.
“Aku sendiri aja.”
“Papa percaya kamu bisa lebih bijaksana menyikapi Alisha, Nak.” Papa Malik berharap.
Bu Namila memeluknya seakan memberi kekuatan.
Tanvi memasuki ruangan dengan jantung berdebar.
Alisha berbaring dengan infus di tangan.
Wajahnya masih pucat, bibirnya memutih.
Melihatnya datang membuat Alisha bereaksi.
“Gue nggak nyangka lo hasil pengkhianatan bokap gue. Dan jangan harap gue mau ngakuin lo jadi adik gue.”
“Terserah kamu mau bilang apa. Tapi jangan main-main dengan nyawa, semua bisa diomongin baik-baik kan. Kamu nggak liat segimana Papa khawatir?”
“Lo enggak usah sok baik deh! Lo seneng kan udah ngehancurin hidup gue?” bentak Alisha.
__ADS_1
Tanvi menggeleng. “Apa yang udah aku lakuin?”
“Lo masih tanya? Sok lugu banget! Lo udah rebut Fal dari gue, dan sekarang lo mau rebut Papa. Sejak kecil gue pewaris tunggal kekayaan Papa, dan lo mau ambil hak gue.”
“Kalo masalahnya cuma harta, kita bisa bicara baik-baik. Nggak perlu kan kamu nekat kayak begini. Aku nggak akan ambil hak kamu sepeserpun.”
Tanvi memang tidak berharap dapat warisan, karena baginya keberadaan orangtuanya sudah lebih dari cukup.
Tangis Alisha meledak, ia menangis tersedu-sedu.
“Hidup gue udah ancur.”
Tanvi menatapnya kasihan.
Bagaimanapun juga, Alisha adalah kakaknya.
Meski Alisha selalu berbuat jahat. Tapi Alisha berharga untuk orangtuanya.
“Gue cuma cinta sama Fal. Dari dulu sampe sekarang. Tapi dia malah jadi milik lo, lo bisa bayangin gimana perasaan gue?!”
Tanvi terdiam.
Menyadari cinta Alisha pada suaminya.
Alisha menatapnya tajam.
“Lo adik gue kan?”
Kepala Tanvi mengangkat membalas tatapannya.
“Kalo lo perhatian sama gue, sayang sama Papa, lakuin yang gue minta.”
“Apa itu?”
“Lo harus tinggalin Fal.”
DEG!
Tubuh Tanvi menegang.
“Lo ceraiin dia. Biarin dia nikahin gue. Karena gue nggak bisa hidup tanpa dia. Kalo lo nggak nurutin mau gue, lo siap-siap aja terima kabar kematian gue.”
“Ta-tapi, Alisha… aku nggak mungkin cerai sama Kak Fal. Kami sudah punya anak.”
Alisha meradang. “Jadi lo bisa egois? Lo nggak mikirin kan apa yang udah gue alami? Dari lahir gue udah nggak punya Mama. Dan Papa, malah punya hubungan gelap dengan pembantu gue sendiri. Dan sekarang, gue harus kehilangan lelaki yang paling gue cinta, gara-gara anak hasil hubungan gelap itu? Lalu untuk apa gue hidup?”
Tanvi terperangah.
Ia benar-benar tersudut.
“Kalo lo pengen tebus semua kesalahan nyokap lo, lo harus tinggalin Fal. Dan sebagai gantinya, gue bakal kasih setengah harta Papa.”
Air mata Tanvi mengalir tanpa bisa ditahannya.
***
__ADS_1