
Lagi-lagi Alisha berulah.
Baru saja pulih akibat meminum racun, kali ini dia coba mengiris pergelangan tangannya hingga pendarahan.
Mendengar kabar itu membuat Tanvi shock dan pingsan.
Segera dilarikan ke rumah sakit.
Ternyata Tanvi terkena DBD dan harus opname.
Fal menyesal tidak bertindak lebih awal karena dia pikir Tanvi hanya demam biasa.
Karena berada di rumah sakit yang sama, Fal berusaha menemui Alisha untuk meminta pengertian.
“Gue bener-bener minta maaf, Lis,” kata Fal pelan.
Alisha menatapnya lemah. “Gue cinta banget sama lo, Fal. Gue nggak bisa hidup tanpa lo.”
“Lo nggak boleh begini. Gue emang salah, tapi apapun itu sekarang gue udah menikah. Dan gue nggak bisa kehilangan anak dan istri gue, Lis.”
“Jadi lo tega sama gue?” Alisha terisak membuat Fal panik.
“Mana janji lo untuk selamanya bersama gue? Mana janji lo untuk bikin keluarga lo nerima gue? Mana?!”
“Lis, gue emang br*ngsek. Tapi ini udah terjadi, gue harap lo bisa terima. Tolong lupain janji yang gue buat. Sekeras apapun gue berusaha, gue nggak bisa menuhin itu.”
“Kalau gitu ngapain lo ke sini? Lo lebih milih anak haram itu daripada gue! Gue benci sama dia!”
Fal geleng-geleng kepala.
“Kenapa lo belum mau terima kalau dia adik lo?”
“Gue nggak sudi punya adik kayak dia! Adik yang nggak tau diri, dan cuma mau rebut semua milik gue!”
“Lis, please jangan pake emosi. Lo boleh minta apa aja, asal jangan sakitin diri lo. Tanvi juga sedih kalo lo kenapa-napa.”
Alisha mendengus keras.
“Sedih? Dia malah seneng kalo gue mati, kali!”
Fal menggeleng. “Tanvi bukan orang pendendam.”
__ADS_1
“Kalo dia khawatir sama gue, ke mana dia? Kenapa malah lo yang ke sini?”
“Dia juga sakit. Sekarang dia dirawat di kamar sebelah. Gue harap, lo bisa buka hati dan kalian bisa baikan. Kita bisa mulai hidup baru sebagai saudara.”
“Enggak usah mimpi!” desis Alisha sambil buang muka.
Fal berdiri dan menunduk.
“Maafin gue, Lis. Gue udah ngecewain lo.”
Alisha menangis tersedu-sedu.
Tanpa buang waktu, Fal berbalik meninggalkan kamar.
DUUKKK!
Karena tidak hati-hati, ia menubruk seseorang yang memakai jaket dan topi hitam.
Fal kaget. “Maaf saya tidak sengaja.”
Orang itu menunduk dan bergegas pergi.
“Kok gue ngerasa kenal sama orang itu? Tapi siapa?”
***
Rumah sakit begitu lengang dan dingin karena sudah pukul 22.00.
Fal baru kembali dari rumah sehabis mengantar ASI untuk Fades, dia bergantian jaga dengan Bu Namila.
Langkahnya terhenti melihat seseorang keluar dari kamar rawat Tanvi.
Suster.
Tapi langkahnya tergesa-gesa seperti panik.
Keningnya berkerut.
Ada apa?
Ia bergegas masuk.
__ADS_1
Suasana gelap.
Ia mencari saklar dan menyalakan lampu.
Ia langsung kaget melihat Alisha kejang-kejang di tempat tidur.
“Alisha!” ia panik melihat mulut Alisha berbusa.
Segera saja ditekan tombol merah.
“Alisha! Lo bertahan!”
Tak lama kemudian, dokter dan suster berdatangan.
“Pak Fally, silahkan tunggu di luar!”
Fal masih shock dan keluar kamar rawat.
“Kak Fal, ada apa?” muncul Tanvi membuat Fal kaget.
“Tanvi! Kamu ke mana aja?!”
Fal langsung memeluk Tanvi, takut.
Bu Namila ikut cemas.
“Tadi Tanvi maksa ikut Ibu ke ruangan dokter.”
“Tapi kenapa Alisha ada di kamar kamu?” Fal tidak habis pikir.
“ALISHA?!”
Tanvi dan Bu Namila terperangah.
Suster keluar ruangan.
“Pasien disuntik racun yang menyerang sistem syarafnya.”
Semua kaget mendengarnya.
***
__ADS_1