
“Apa-apaan lo, Lis?! Lo nyuruh gue cerai sama Tanvi?” suara Fal meninggi.
Baru saja kembali ke kantor, Alisha sudah mencegatnya di parkiran.
“Dia udah bertindak anarkis sama gue, Fal!” balas Alisha sewot.
“Gue bicara baik-baik, dia malah tampar gue.”
Fal menggeleng. “Gue kenal Tanvi. Dia nggak bakalan tampar orang tanpa alasan. Pasti lo cari gara-gara duluan.”
“Lo nggak percaya sama gue? Istri lo tuh gila. Dia nggak terima kita deket, jadi dia nyerang gue.”
“Lis, kedekatan kita ini emang salah. Gue udah menikah, dan nggak mungkin ninggalin Tanvi apalagi sekarang dia lagi hamil anak gue.”
Alisha mendengus. “Apa sih yang bikin lo tertarik sama dia? Kenapa juga dulu lo paksa nikahin dia? Coba kalo lo biarin dia nikah aja sama Farhan, mungkin sekarang kita udah enjoy aja nggak perlu backstreet.”
Fal menatapnya tajam. “Gue nggak nyesel nikahin Tanvi. Karena dia istimewa buat gue.”
“Nggak mungkin. Lo bilang gue satu-satunya yang bisa bikin lo bahagia. Dan gue percaya itu.” Alisha bersikeras.
“Mungkin gue udah salah.”
“Lo bercanda kan, Fal? Lo nggak mungkin ninggalin gue cuma karna cewek kayak dia?”
“Gue nggak bercanda. Dia istri dan teman hidup gue. Dia tanggung jawab gue sepenuhnya.”
“Lo nggak malu emang punya istri anaknya pembantu kayak dia?” tembak Alisha membuat Fal kaget.
“Lo udah tau tentang ini?”
Alisha tersenyum sinis. “Bu Namila ngaku semuanya. Gue bener-bener nggak nyangka dan jijik kalo inget itu. Istri lo ternyata anak buangan. Seorang pembantu aja nggak mau ngurus dia, berarti nggak ada yang ngarep istri lo itu hidup.”
Tangan Fal terkepal, marah. “Lo keterlaluan, Lis!”
“Elo yang keterlaluan! Mana janji lo buat bikin gue diterima di keluarga lo? Gue cukup sabar bertahun-tahun nunggu janji lo. Lo tau segimana cintanya gue sama lo, dan lo juga cinta mati sama gue.”
Amarah Alisha mulai meledak.
“Walau begitu lo nggak punya hak hina istri dan ibu mertua gue,” bela Fal.
Alisha baru akan membalas, ketika seseorang muncul tergesa-gesa menghentikan perdebatan mereka.
“Pak Fally!”
“Maya? Ada apa?” Fal kaget.
__ADS_1
“Barusan ada telepon dari Pak Farhan. Bu Tanvi kritis, dan sedang di rumah sakit.”
“APA?!”
Alisha tertawa sinis. “Bagus deh kalo kritis. Dia meninggal, lo jadi duda, bisa nikahin gue akhirnya.”
Fal mengacuhkan kata-kata Alisha.
HP-nya memang rusak sejak tadi pagi karena terjatuh.
Makanya dia kesulitan berkomunikasi.
“Maya, bisa pinjam HP kamu?”
“Bisa, Pak.” Maya memberikan HP.
Fal bergegas menghubungi nomor Farhan, tiga kali, tapi selalu sibuk.
Entah Farhan sedang menelepon siapa.
Maya mengambil HP-nya kembali.
“Pak Farhan menyampaikan agar Pak Fally segera ke rumah sakit.”
“Buat apa lo pergi? Udah ada Farhan yang jagain dia.”
Fal menepis tangan Alisha, kasar.
“Dia istri gue, bukan istrinya Farhan.” dia langsung melarikan mobilnya cepat.
Alisha menggeram. “Sejak lo nikahin anak pembantu itu, lo jadi nggak nurut sama gue!”
***
Operasi sudah berlangsung satu setengah jam.
Fal berdiri di depan ruang operasi.
Cemas, tegang, takut, sudah bercampur tidak karuan.
Barusan dia mendapat info dari Papa, kalau Papa terpaksa menandatangani persetujuan bayinya yang diselamatkan.
Dia menyesal tidak ada bersama Tanvi di saat-saat sulit.
Di dalam Tanvi berjuang hidup dan mati melahirkan anaknya, darah dagingnya, sedangkan ia sebagai suami tidak dapat memenuhi tanggung jawab dengan menjaganya.
__ADS_1
Tangannya terkepal, emosi.
Kalau saja ia tidak mengikuti mau Alisha, mungkin ini tidak akan terjadi.
“Fal, belum ada kabar dari dokter?” tanya Farhan.
Fal menggeleng, terpukul.
“Fal, gue tau ini bukan timing yang tepat. Tapi ini penting gue sampein.”
“Ada apa?” tanya Fal lirih.
“Bu Namila, ibu mertua lo, ditangkep polisi.”
Fal terkejut. “Apa?”
“Alisha ngelaporin Bu Namila curi perhiasannya, dan dijual. Bahkan ada orang toko yang bersaksi Bu Namila memang menjual perhiasan ke sana. Dan sekarang Bu Namila ada di penjara. Tanvi minta tolong untuk bebasin ibunya.”
Fal menggeram marah. “Alisha! Lo makin keterlaluan!”
Akhirnya mata Fal kebuka dan dia bisa tau cewek kayak gimana Alisha, batin Farhan.
“Ini semua cuma fitnahan Alisha supaya Tanvi mau dicerai sama lo.”
“Gue nggak nyangka Alisha setega itu!”
“Lo tenang aja, biar gue yang urus. Lo di sini jaga Tanvi, jangan lupa kabarin kalau ada perkembangan. Sampai sekarang kita belum kasih tau Mama, Tante Jihan, sama Nenek karena takut mereka khawatir.”
“Han, tunggu sebentar,” Fal membuka dompet dan mengeluarkan kartu nama.
“Lo hubungin orang ini. Jelasin semua yang terjadi. Cuma dia yang bisa bantu bebasin Bu Namila dari semua tuduhan.”
Mata Farhan menyipit melihat kartu nama.
“Ini kan…?”
“Ya. Cuma dia yang bisa bantu. Dan gue nggak punya waktu untuk jelasin. Gue harus di sini memastikan Tanvi dan anak gue baik-baik aja.”
“Oke, Fal. Gue akan usahain urus kasus Bu Namila.” Farhan bergegas pergi.
Fal menyandar di pintu ruang operasi.
Tidak henti berdoa agar Tanvi selamat.
***
__ADS_1